Breaking News

Makalah

Showing posts with label Proposal Skripsi. Show all posts
Showing posts with label Proposal Skripsi. Show all posts

Sunday, October 9, 2016

PERANAN ORANG TUA TERHADAP PENDEWASAAN ANAK MENURUT PENDIDIKAN ISLAM


PERANAN ORANG TUA TERHADAP PENDEWASAAN ANAK MENURUT PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Dengan adanya peranan dan pengaruh itu, maka orang tua dapat membimbing anaknya yang sedang berkembang ke arah cita-cita yang mereka inginkan.
Anak yang baru dilahirkan berada dalam keadaan lemah, tidak berdaya, tidak bisa apa-apa, tidak bisa mengurus diri sendiri, tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Ia tergantung sepenuhnya dari lingkungannya, lingkungan hidupnya terutama orang tuanya. Anak yang baru dilahirkan diibaratkan sebagai sehelai kertas putih yang masih polos dan bagaimana jadinya kertas putih tersebut dikemudian hari, tergantung dari orang yang akan menulisnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah sebagai berikut :


Artinya : “…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Q.S. Al-Israa : 85)[1]
Dari ayat tersebut dapat diambil suatu pengertian anak yang dilahirkan berada dalam keadaan lemah, sehingga memerlukan bantuan dari orang lain yaitu dari kedua orang tuanya. Bagaimana kepribadian anak di kemudian hari, tergantung dari bagaimana ia berkembang dan diperkembangkan oleh lingkungan hidupnya, dan yang menjadi tokoh pusat dalam lingkungan hidup tersebut adalah orang tua.

Orang tualah yang berperan besar, langsung atau kadang-kadang tidak langsung, berhubungan terus menerus dengan anak, memberikan rangsangan melalui berbagai corak komunikasi antara orang tua dengan anak. Lingkungan keluarga seringkali disebut sebagai lingkungan pendidikan informal yang mempengaruhi berbagai aspek perkembangan anak. Adakalanya hal ini berlangsung melalui ucapan-ucapan, perintah-perintah yang diberikan secara langsung untuk menunjukkan apa yang seharusnya diperlihatkan atau dilakukan oleh anak. Adakalanya orang tua bersikap atau bertindak sebagai patokan, sebagai contoh atau model agar ditiru dan kemudian apa yang ditiru akan meresap dalam dirinya dan menjadi bagian dari kebiasaan bersikap dan bertingkah laku atau bagian dari kepribadiannya.[2]
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, orang tua jelas berperan besar dalam perkembangan dan memperkembangkan kepribadian anak. Orang tua menjadi faktor penting dalam menanamkan dasar kepribadian yang ikut menentukan corak dan gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa. Jadi gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa banyak ditentukan oleh keadaan dan proses-proses yang ada dan terjadi sebelumnya. Para ahli sependapat bahwa dasar kepribadian anak ditanamkan dan terpola pada tahun-tahun awal dari kehidupan anak.[3]
Sehubungan dengan hal di atas, maka orang tua juga berperan dalam proses kedewasaan anak. Seringkali terdengar bahwa ada orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, sehingga hal ini bisa mempengaruhi perkembangan kedewasaan anak. Karena anak selalu dimanja, keinginannya selalu dituruti, maka hal ini kalau diteruskan akan terbawa sampai ia dewasa. Dan kemungkinan sekali anak tersebut akan sulit untuk mencapai kedewasaannya. Maka di sinilah letak tanggung jawab orang tua untuk selalu membimbing anak-anaknya, mengarahkannya dan mendidik dengan penuh kasih sayang akan tetapi dalam batas-batas sewajarnya.
Islam memandang keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak dimana ia berinteraksi. Dari interaksi dengan keluarga terutama orang tua, seorang anak memperoleh ciri-ciri dasar dari kepribadiannya. Seorang anak memerlukan keluarganya bukan hanya pada tingkat awal hidupnya dan pada masa kanak-kanak, tetapi ia memerlukan sepanjang hidupnya, sebagai kanak-kanak, remaja dewasa, untuk menanamkan pada dirinya rasa kasih sayang, rasa tentram dan ketenangan. Sebab orang yang tidak sempat dipelihara dalam suatu keluarga yang wajar dan sehat pada masa-masa pertama, akan mengalami akibat yang buruk pada keseluruhan hidupnya.[4]
Maka dari itu peranan orang tua dalam pendidikan anak sangat menentukan bagi perkembangan kepribadian anak dan juga bagi perkembangan kedewasaan anak. Sebab perkembagan proses kedewasaan anak juga dipengaruhi oleh proses-proses pendidikan yang dilalui anak sebelumnya.
Berpangkal dari uraian tersebut di atas, penulis sangat tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dalam karya ilmiah yang berbentuk skripsi dengan judul : “Peranan Orang Tua Terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam”.

B.     PENEGASAN ISTILAH

Untuk menghindari agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan pengertian dan batasan-batasan dari masing-masing istilah yang terdapat pada judul, maka perlu untuk ditegaskan pengetian dari istilah-istilah tersebut, yaitu sebagai berikut :
  1. Peranan Orang Tua
Peranan adalah “sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama”.[5] Orang tua adalah “setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari lazim disebut ibu – bapak”.[6] Sedangkan yang dimaksud peranan orang tua di sini adalah bagaimana peran, kewajiban dan seberapa besar tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak, khususnya di lingkungan keluarga.
  1. Pendewasaan Anak
Pendewasaan adalah “proses pembuatan, cara menjadikan dewasa”.[7] Anak adalah “seorang individu di antara kelahiran dan masa pubertas atau seorang individu di antara masa kanak-kanak (masa pertumbuhan, masa kecil) dan masa pubertas”.[8] Masa pubertas sendiri terbagi menjadi dua bagian, “pubertas pertama antara 3 sampai 7 tahun dan pubertas kedua antara 14 sampai 18 tahun”.[9] Yang dimaksud anak dalam pembahasan ini adalah anak di antara masa menjelang berakhirnya pubertas pertama hingga masa pubertas kedua, atau anak usia sekolah.
Sedangkan yang dimaksud dengan pendewasaan anak adalah suatu proses perkembangan yang dilalui seorang anak hingga anak tersebut mencapai dewasa.
  1. Pendidikan Islam
“Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan”.[10] Pendidikan Islam ialah : “segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam”.[11]

C.    PERMASALAHAN

Yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan skripsi adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah peranan orang tua menurut Pendidikan Islam ?
  2. Bagaimanakah pendewasaan anak menurut Pendidikan Islam ?
  3. Bagaimanakah peranan orang tua terhadap pendewasaan anak menurut Pendidikan Islam ?

D.    TUJUAN PENULISAN SKRIPSI

Berdasarkan berbagai permasalahan di atas, maka tujuan penulisan skripsi iuni adalah :
1.      Untuk mengetahui peranan orang tua dalam pendidikan anak menurut perspektif Pendidikan Islam.
  1. Untuk mengetahui pendewasaan anak dalam perspektif Pendidikan Islam.
  2. Untuk mengetahui tentang peranan orang tua terhadap pendewasaan anak ditinjau dari sudut pandang pendidikan Islam.

E.     KERANGKA TEORITIS

  1. Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak
“Anak bagi orang tua merupakan amanat Allah dan menjadi tanggung jawabnya kepada Allah untuk mendidiknya, mengisi fitrahnya dengan karimah, dengan iman dan amal saleh”.[12] Mendidik anak merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang tua terhadap anaknya. Oleh karena itu orang tua selalu dituntut agar bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya, karena celaka dan bahagia anak terletak di tangan mereka. Sebagaimana dalam firman Allah SWT sebagai berikut :


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (At-Tahrim : 6).[13]
Islam mewajibkan keluarga untuk mendidik dan menumbuhkan segala aspek kepribadian anak-anak. Ketidak berdayaan seorang anak menumbuhkan segenap tanggung jawab moril dan segenap kemampuan orang tuanya, agar anak tadi diasuh, dipelihara, dan dididik dengan baik. Secara jelasnya, anak tersebut membutuhkan adanya rawatan, keamanan, pemeliharaan, pertolongan, bimbingan, pendidikan dan pertanggung jawaban sepenuhnya dari orang tua.
Akan tetapi sangat disayangkan, arti dan makna perawatan, asuhan dan tanggung jawab orang tua dalam mengemban tugas tersebut, telah semakin memudar di sebagian masyarakat.[14] Hal ini diakibatkan oleh kesibukan kedua orang tua untuk memenuhi tuntutan ekonomi dan kebutuhan hidup, sehingga menyerahkan rawatan dan asuhan kepada pembantu atau pengasuh, sehingga dapat menyebabkan anak terabaikan pendidikannya.
Dengan demikian jelaslah peranan orang tua terhadap pendidikan anaknya, karena seorang anak yang baru saja dilahirkan hingga masa kehidupannya, sangat membutuhkan bimbingan dari orang tua, yaitu pendidikan yang diberikan orang tua terhadapnya.
  1. Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
Pengertian dewasa yang sebenarnya ialah dewasa secara fisik dan mental atau psikisnya. Banyak orang yang fisiknya secara biologis telah dewasa tetapi psikisnya belum dewasa. Ia masih berbuat kekanak-kanakan, minta dimanja, selalu menggantungkan diri pada orang lain dalam segala hal, tidak mempunyai tanggung jawab atas segala perbuatannya.
Pendewasaan merupakan tingkatan perkembangan yang dicapai seorang, “suatu tingkat kedewasaan tertentu harus tercapai lebih dulu sebelum adanya suatu kebutuhan tertentu”.[15] Seorang anak yang berumur tujuh atau delapan tahun tidaklah dapat diharapkan untuk merasakan kebiasaan-kebiasaan sosial yang biasanya baru dirasakan pada umur delapan belas tahun.
Whitherington dalam bukunya “Psikologi Pendidikan” mengatakan :
“Pada umumnya anak-anak dapat berpikir dengan jalan pikiran yang cukup baik selama mereka mengenal serta mempunyai minat terhadap hal-hal yang harus dipikirkan itu. Mereka sanggup memecahkan masalah-masalah yang setaraf dengan tingkat pengalaman mereka, oleh karena pada akhirnya tingkat pengalaman mereka dalam keadaan-keadaan yang normal sejajar atau sesuai dengan tingkat perkembangan total mereka”.[16]
Jadi pengertian dari kedewasaan, tidak hanya dewasa secara fisik saja, akan tetapi juga psikisnya. Tingkat kedewasaan yang lebih lanjut ditandai oleh pemahaman psikis yang lebih tinggi dan lebih luas.
  1. Peranan Orang Tua Terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
Sebagai pusat pendidikan pertama, keluarga mempunyai tugas fundamental dalam mempersiapkan anak bagi peranannya di masa depan. Dasar-dasar dari perilaku, sikap hidup, dan berbagai kebiasaan ditanamkan kepada anak sejak dalam lingkungan keluarga.
Suatu keluarga diawali dari sepasang suami istri, kemudian lahir anak-anak mereka. Itulah keluarga inti sebagai tempat berinteraksi yang pertama kali bagi setiap anak. Di situlah tempat berkembangnya individu dan disitu pula terdapat tahap-tahap awal proses pembentukan kepribadian anak melalui internalisasi nilai-nilai yang terpantul dari emosi, minat, sikap, dan perilaku orang tuanya.[17]
Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah dan jasmaniah juga harus berlangsung secara bertahap. Oleh karena suatu kematanagan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan atau pertumbuhan, baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.
Tujuan pendidikan Islam yaitu untuk membentuk manusia susila dan takwa sebagai muslim yang berkepribadian utuh. Jika dikaitkan dengan kedewasaan maka kedewasaan itu telah sempurna apabila tata nilai Islam tercermin pada kepribadian seseorang. Lebih jelasnya, seseorang yang mampu bertanggung jawab dan telah dapat memutuskan baik buruknya tindakan yang dipilihnya dan dia bertanggung jawab atas segala tindakannya itu atas dasar pertimbangan falsafah hidup yang tidak melanggar ajaran Islam.
Jadi bila seseorang telah dididik atau dibimbing sesuai dengan ajaran Islam, dan kemudian dia telah mampu mengatur dan mengontrol dirinya sesuai dengan dasar Islam, maka telah dewasalah ia menurut kriteria pendidikan Islam.
Maka peranan orang-orang tua dalam hal ini adalah mengarahkan kepada anak-anaknya hal-hal yang sesuai dengan tuntutan Islam, dan agar anak tersebut bisa mencapai kedewasaannya. Sebagai pedoman untuk menyesuaikan tujuan bimbingan dan pendidikan anak menuju kepada kedewasaan, maka orientasi pendidikan atau bimbingan itu hendaklah relevan dengan tujuan akhir dari pendidikan Islam, yakni sebagaimana firman Allah berikut ini :



Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat, dan menunuaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Al Bayyinah : 5).[18]

F.     METODE PENULISAN SKRIPSI

  1. Variabel Penelitian
a.       Peranan Orang Tua, dengan indikator :
1.      Peran orang tua.
2.      Sikap orang tua.
3.      Cara mendidik.
b.      Kedewasaan Anak, dengan indikator :
1.      Perkembangan pola berpikir.
2.      Perkembangan sikap/tingkah laku.
3.      Kepribadian anak.
4.      Perkembangan Agama anak.
  1. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah : “metode Library research atau suatu penelitian kepustakaan”.[19] Hal ini dimaksudkan dengan cara membaca, menelaah dan memahami buku-buku yang relevan dengan masalah yang ditelaah.
  1. Metode Pembahasan
Metode yang digunakan dalam pembahasan ini adalah : metode penelitian deskriptif, yaitu suatu penelitian yang berusaha mendiskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang, yang mengambil atau memusatkan perhatian pada masalah-masalah aktual, sebagai pemecahan masalah praktis pendidikan.
  1. Metode Analisa Data
Untuk menganalisa data penulis melalui beberapa tahap :
1)      Menghimpun ayat-ayat Al Qur’an yang relevan dengan tema.
2)      Memberi penjelasan dengan menggunakan teknik interpretasi.
3)      Membahas konsep-konsep yang terkandung dalam ayat Al Qur’an, serta menghubungkannya dengan beberapa pendapat para ahli pendidikan.
4)      Menarik kesimpulan dari pembahasan yang telah diuraikan.

G.    SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI

Agar penulisan skripsi ini terarah dan mudah untuk dipahami, disusun dalam sistematika sebagai berikut :
1.      Bagian muka (preliminaries), terdiri dari : halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, halaman daftar isi.
  1. Bagian isi/batang tubuh, terdiri dari :
Bab I   : Pendahuluan, dalam bab ini memuat : Latar Belakang Masalah, Penegasan Istilah, Permasalahan, Tujuan Penulisan Skripsi, Kerangka Teoritis, Metode Penulisan Skripsi dan Sistematika Penulisan Skripsi
Bab II  :  Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Islam, dalam bab ini penulis memaparkan tentang masalah pentingnya peranan orang tua yang berisi : Pengertian Orang Tua, Kedudukan Orang Tua dalam Keluarga serta Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak.
               Selanjutnya penulis menguraikan tentang konsep pendidikan Islam yang terdiri dari : Pengertian Pendidikan Islam, Tujuan Pendidikan Islam serta Landasan Pendidikan Islam.
Bab III   :        Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam.
               Pada bab ini berisi tentang Pengertian Kedewasaan Anak, Batasan-batasan Kedewasaan Anak yang meliputi : Kedewasaan Fisik dan Kedewasaan Psikis dalam perspektif Pendidikan Islam
Bab IV   :        Peranan Orang Tua Terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam, yang terdiri dari : Upaya Orang Tua dalam Pendewasaan Anak dan Analisis Peranan Orang Tua terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam.
Bab V  :  Penutup
               Pada bab ini penulis menyajikan kesimpulan apa yang telah           dijabarkan pada bab-bab terdahulu, dan juga saran-saran, dan diakhiri dengan penutup.
  1. Bagian Akhir (Refference Matter), terdiri dari : daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.








DAFTAR ISI


Halaman Judul
Halaman Nota Pembimbing
Halaman Pengesahan
Halaman Motto
Halaman Persenbahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I         : Pendahuluan
A.      Latar Belakang Masalah.
B.       Penegasan Istilah.
C.       Permasalahan.
D.      Tujuan Penulisan Skripsi.
E.       Kerangka Teoritis.
F.        Metode Penulisan Skripsi.
G.      Sistematika Penulisan Skripsi
Bab II        : Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Islam
A.      Peranan Orang Tua
1.         Pengertian Orang Tua.
2.         Kedudukan Orang Tua dalam Keluarga.
3.         Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak.
B.       Pendidikan Islam
1.         Pengertian Pendidikan Islam.
2.         Tujuan Pendidikan Islam.
3.         Landasan Pendidikan Islam.
Bab III      : Kedewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
A.      Pengertian Kedewasaan Anak
B.       Batasan-batasan Kedewasaan Anak
1.         Kedewasaan Fisik.
2.         Kedewasaan Psikis.
Bab IV      : Peranan Orang Tua terhadap Pendewasaan Anak menurut Pendidikan Islam
A.      Upaya Orang Tua dalam Pendewasaan Anak.
B.       Analisis Peranan Orang Tua terhadap Pendewasaan Anak menurut Pendidikan Islam.
Bab V        :  Penutup
A.      Kesimpulan
B.       Saran
C.       Penutup




 
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Drs., Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992.
C. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Rajawali Pers, Jakarta, 1997.
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994.
Hasan Langgulung, Prof. Dr., Manusia dan Pendidikan, Al Husna Zikra, Jakarta, 1995.
M. J. Langeveld, Ilmu Jiwa Perkembangan, Jemmars, Bandung, 1979.
Muhammad Ali Qutb, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, C. V. Diponegoro, Bandung, 1993.
Rachmat Djatnika, Sistem Etika Islami, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1992.
R. H. A. Soenarjo, Prof.  S. H., Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, 1971.
Singgih D. Gunarsa, Prof. Dr., Yulia Singgih D. Gunarsa, Dra. Ny., Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Gunung Mulia, Jakarta, 1995.
Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M. A., Metodologi Research I, Andi Offset, Yogyakarta, 1995.
Thamrin Nasution, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Gunung Mulia, Jakarta, 1985.
Whitherington, Psikologi Pendidikan, Aksara Baru, Jakarta, 1988.
W. J. S. Poerwodarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.




[1] R.H.A. Soenarjo, dkk., Al-Qur`an dan Terjemahnya, Jakarta, 1971, hal.437.
[2] Singgih D. Gunarsa, Ny. Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Gunung Mulia, Jakarta, 1995, hal. 104.
[3] Ibid., hal. 105.
[4] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Al Husna Zikra, Jakarta, 1995, hal. 348 – 349.
[5] W. J. S. Poerwodarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1984, hal. 735.
[6] Thamrin Nasution, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Gunung Mulia, Jakarta, 1985, hal. 1.
[7] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994, hal. 232.
[8] C. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Rajawali Pers, Jakarta, 1997, hal. 83.
[9] M. J. Langeveld, Ilmu Jiwa Perkembangan, Jemmars, Bandung, 1979, hal. 7.
[10] Depdikbud, Loc. Cit.
[11] Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992, hal. 20.
[12] H. Rachmat Djatnika, Sistem Etika Islami, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1992, hal. 223.
[13] R. H. A. Soenarjo, Op.Cit, hal. 950.
[14] Muhammad Ali Qutb, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, C. V. Diponegoro, Bandung, 1993, hal. 53.
[15] Whitherington, Psikologi Pendidikan, Aksara Baru, Jakarta, 1988, hal. 109.
[16] Ibid.
[17] Achmadi, Op. Cit., hal. 91.
[18] R. H. A. Soenarjo, S. H., Op. Cit., hal. 1084.
[19] Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, Andi Offset, Yogyakarta, 1995, hal. 9.
Read more ...

ptk IMPLEMENTASI METODE TANYA JAWAB DAN LATIHAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

A. Judul
IMPLEMENTASI METODE TANYA JAWAB DAN LATIHAN UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V PADA MATA PELAJARAN AL QURAN HADIST DI MADRASAH IBTIDAIYAH .......................................

B. Latar Belakang
            Kegiatan pendidikan termanifestasi dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Muhibbin Syah belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkahlaku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.[1]
            Ranah psikologi siswa yang terpenting adalah ranah kognitif, ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif adalah sumber, sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya yakni ranah afektif dan psikomotorik. Tidak seperti organ tubuh lainnya, organ otak sebagai markas fungsi kognitif bukan hanya sebagai penggerak aktifitas akal fikiran, melainkan juga menara pengontrol aktifitas perasaan dan perbuatan.
Dalam pembelajaran pendidikan agama, khususnya pembelajaran mata pelajaran Al Quran Hadist di madrasah seringkali kita menemukan berbagai macam permasalahan. Diantaranya penguasaan hafalan materi dan proses pembelajarannya berpusat pada guru, banyak terjadi miskonsepsi, situasi membosankan dan siswa menjadi kesal sehingga pencapaian tujuan kognitif menjadi “mengulit bawang” serta rendahnya percaya diri siswa sebagai akibat dari lunaknya isi pembelajaran dan penyampaian guru. Oleh sebab itu guru dituntut menjadi seorang guru yang profesional dalam mengahadapi pendidikan yang selalu mengalami perubahan yang mengarah pada perbaikan untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran diperlukan inovasi perangkat pembelajaran yang meliputi strategi pembelajaran dan kesiapan siswa dalam belajar.
Berdasarkan hal tersebut diatas, penulis mengadakan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) agar siswa memperoleh penguasaan materi dengan lebih baik.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan diskusi antara penulis dengan teman sejawat pada mata Al Quran Hadist pada kelas V MI Madrasah Maslakul Ulum Trangkil Pati, bahwa faktor penyebab kekurang kemampuan siswa dalam penguasaan materi adalah:
a.       Penjelasan guru terlalu cepat
b.      Penjelasan materi di dominasi oleh guru
c.       Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru
Berdasarkan faktor penyebab kekurangan yang tersebut diatas maka yang menjadi fokus perbaikan adalah “Bagaimanakah cara menggunakan strategi tanya jawab dan latihan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam penguasaan materi mata pelajaran Al Quran Hadist?”                                                             

D. Penegasan Istilah
Agar tidak terjadi penafsiran yang menyimpang dari judul yang dimaksud, maka perlu ditegaskan penjelasan beberapa istilah yang dianggap penting. Adapun istilah-istilah tersebut sebagai berikut :
1.      Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan.[2]
2.      Metode Tanya Jawab  dan Metode Latihan
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi lngsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab, atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru dan siswa.[3] Pendapat tersebut didukung juga oleh Syaiful Bahri Djamaroh bahwa metode tanya jawab adalah cara penyajian mata pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa dan dapat pula dari siswa kepada guru[4]. Sedangkan metode latihan adalah metode yang digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau ketrampilan dari apa yang dipelajari. [5]
3.      Mata Pelajaran Al Quran Hadist
Mata pelajaran Al Quran Hadist, yang dimaksudkan adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di MI Maslakul Ulum Trangkil Pati.
4.      Prestasi  Belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dan telah dilakukan, dikerjakan dan secara akademis hasil pelajaran diperoleh dari kegiatan belajar disekolah atau perguruan tinggi yang ditentukan melalui pengukuran dan penelitian[6].  Jadi yang dimaksud prestasi belajar disini adalah hasil yang dicapai oleh anak didik setelah menempuh pendidikan di suatu lembaga pendidikan setelah mendapat bimbingan dan pengajaran dari seorang guru. Dalam hal ini akan dibuktikan dengan melalui hasil penilaian setelah dilakukan evaluasi.
.                                        
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui metode pembelajaran tanya jawab dan latihan pada mata pelajaran Al Quran Hadist di MI Maslakul Ulum Trangkil Pati.

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi guru
a. Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan
b. Meningkatkan kemampuan profesionalisme
c. Memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya
2. Bagi siswa
a. Meningkatkan kualitas pendidikan
b. Memudahkan siswa menerima pembelajaran terutama mata   pelajaran Al Quran Hadist
c. Merangsang keaktifan  siswa
3. Bagi pembaca
Bagi pembaca agar dapat menambah wawasan dan termotivasi untuk meningkat prestasi belajar siswa.

G. Kajian Pustaka
     1. Metode Tanya Jawab dan Latihan
            a. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi lngsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab, atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru dan siswa.[7]
Pertanyaan yang dirumuskan dan digunakan dengan tepat akan menjai alat komunikasi yang ampuh antara guru dan siswa. Oleh sebab itu guru harus menguasai berbagai tehnik bertanya dan guru juga harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang dikemukakan siswa serta memberikan tanggapan positif terhadap siswa. Penguasaan tehnik bertanya merupakan penunjang agar siswa belajar aktif.
Dengan bertanya berarti siswa ada motivasi belajar dan setengah faham dengan apa yang disampaikan oleh gurunya. Semakin anak banyak bertanya maka semakin besar keinginan tahunya terhadap apa yang dipelajari, sehingga akan mudah menerima apa yang disampaikan guru.
            b. Metode Latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Selain itu juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Mnetode ini digunakan untuk memperoleh suatu kletangkasan, ketepatn, kesempatan dan ketrampilan.[8]
Sebagai suatu metode yang diakui banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan ini mempunyai beberapa kelemahan. Kelebihan dari metode ini adalah:
a)      Untuk memperoleh kecakapan motoris seperti menulis, melafalkan huruf, kata-kata atau kalimat dan menggunakan alat-alat.
b)      Untuk memperoleh kecakapan mental seperti dalam perkalian, pengurangan dan hafalan-hafalan.
c)      Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan simbol, membaca peta dan sebagainya.[9]

     2. Prestasi Belajar
            Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dan telah dilakukan, dikerjakan dan secara akademis hasil pelajaran diperoleh dari kegiatan belajar disekolah atau perguruan tinggi yang ditentukan melalui pengukuran dan penelitian[10]. Jadi prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh anak didik setelah mereka menempuh pendidikan di suatu lembaga pendidikan setelah mendapat bimbingan dan pengajaran dari seorang guru. Hal ini akan dibuktikan dengan melalui hasil penilaian/evaluasi dengan menggunakan tes hasil belajar.
Adapun untuk mengetahui hasil yang dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar adalah melalui evaluasi, karena fungsi evaluasi atau penilaian dalam proses belajar mengajar adalah untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran dalam hal ini tujuan intruksional khusus, selain itu evaluasi juga untuk mengetahui keefektifan proses belajar mengajar yang telah dilakukan oleh seorang guru.[11]

       3. Implementasi Metode Penugasan dan Latihan Terhadap Prestasi Belajar
            Dengan metode penugasan dan latihan, siswa akan lebih aktif dan lebih membekas diingatan siswa tentang materi-materi yang dipelajarinya. Menurut Dr. E. Mulyasa penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran maka dari itu metode pembelajaran harus dipilih dan dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik[12]. Jadi apabila adanya ketepatan pemilihan metode pembelajaran maka akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, namun bila tidak ada ketepatan pemilihan metode pembelajaran maka sudah barang tentu akan berpengaruh buruk terhadap prestasi belajar siswa.

H. Indikator Hasil
Variabel indikator yang diamati dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Al Quran Hadist materi hadist tentang ciri-ciri orang munafik.

I.       Metodologi Penelitian
     1. Subjek Penelitian
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran Al Quran Hadist kelas V  siklus I dan II dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut:
            Tempat                        : MI .......................................                   
            Kelas/semester            : V/ II
            Tanggal pelaksanaan   : Pelaksanaan pembelajaran awal
                                                 Senin, 5 Mei 2008
                                                 Siklus I, Senin 12 Mei 2008
                                                 Siklus II, Senin 19 Mei 2008
      2. Deskripsi per siklus
            Prosedur pelaksanaan
            Langkah – langkah yang ditempuh dalam perbaikan pembelajaran Al Quran Hadist adalah sebagai berikut:
a.       Merencanakan kegiatan
Perbaikan pembelajaran Al Quran Hadist melaui PTK ini dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan, yang dilaksanakan 2 siklus. Rencana kegiatan yang penulis lakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah sebagai berikut:
Siklus I :
·         Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan guru dengan penjelasan yang tidak terlalu cepat dengan bahasa yang mudah diterima siswa.
·         Guru memotivasi siswa agar lebih terespon untuk bertanya pada guru.
·         Memperbanyak latihan-latihan soal lembar kerja dengan tanya jawab.
Siklus II:
Ø  Meningkatkan penyampaian materi pembelajaran dengan metode pengamatan dan bahasa yang mudah diterima.
Ø  Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran melalui tanya jawab dan tugas.
Ø  Membimbing dan memperbanyak latihan-latihan soal lembar kerja.
                       
b.      Melaksanakan kegiatan
Dari hasil perencanaan kegiatan, penulis menyusun rencana pembelajaran mata pelajaran Al Quran Hadist untuk sikuls I dan II yaitu:
·         Berorientasi pada upaya peningkatan motivasi  siswa agar mampu mengungkapkan apa yang belum dipahami terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
·         Pelaksanaan perbaikan siklus I tanggal 12 Mei 2008 dan rencana pembelajaran (terlampir) yang berorientasi pada memotivasi belajar siswa serta mengungkapkan pertanyaan terhadap materi yang belum dipahami.
·         Pelaksanaan perbaikan siklus II tanggal 19 Mei 2008 dan rencana pembelajaran (terlampir) yang berorientasi pada peningkatan  siswa yang mendapat nilai rendah.
c.       Mengamati tindakan pembelajaran
Pada tahap ini penulis dengan bantuan teman sejawat dan seorang supervisor ( kepala madrasah) yang bertindak sebagai pengamat, sedangkan penulis sebagai pemberi tindakan.
Pembelajaran mengacu pada rencana perbaikan pembelajaran siklus I dan aspek yang diamati adalah :
·         Kegiatan guru dalam melakukan pola interaksi dan memotivasi  dalam pembelajaran
·         Kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran yang terealisasikan dalam bentuk tes formatif
Siklus II
Pada siklus II ini, penulis fokuskan pada siswa yang belum mencapai hasil yang optimal dari materi pembelajaran Al Quran Hadist
d.      Pengumpulan data
Setelah melakukan PBM dan menyelesaikan pembelajaran pada siklus I dan siklus II pada mata pelajaran Al Quran Hadist dengan pokok bahasan”Hadist tentang ciri-ciri orang munafik” penulis memperoleh data tentang:

Hasil evaluasi materi hadist tentang silaturrahmi  sebagai berikut:




No



Nama Siswa
Analisa Hasil Evaluasi
Sebelum PTK
Siklus I
Siklus II

Nilai

Ketuntasan Siswa

Nilai

Ketuntasan
 Siswa

Nilai
Ketuntasan Siswa
Tuntas
Belum
Tuntas
Belum
Tuntas
Belum
1

50

√
80
√

90
√

2

60

√
70

√
80
√

3

50

√
75
√

75
√

4

75
√

80
√

80
√

5

40

√
60

√
75
√

6

80
√

90
√

100
√

7

75
√

90
√

80
√

8

40

√
70

√
90
√

9

30

√
75
√

80
√

10

60

√
70

√
60

√
11

60

√
60

√
60

√
12

60

√
80
√

100
√

13

75
√

80
√

80
√

14

75
√

90
√

90
√

15

60

√
75
√

90
√


Jumplah
890


1145


1230



Rata-rata N.
59


76


82



N. Tertinggi
80


90


100



N. Terendah
30


60


60



Tk.Ketuntasan

33%
77 %

77 %
33 %

87 %
13 %

  1. Sebelum PTK
Nilai rata-rata              : 890 : 15 = 59
Nilai tertinggi              : 80
Nilai terendah             : 30
Tingkat ketuntasan      :  33 %                                       
  1. Perbaikan pembelajaran siklus I
Nilai rata-rata              : 1145 : 15 = 76
Nilai tertinggi              : 90
Nilai terendah             : 60
Tingkat ketuntasan      : 77 %
  1. Perbaikan pembelajaran siklus II
Nilai rata-rata              : 1230 : 15 = 82
Nilai tertinggi              : 100
Nilai terendah             : 60
Tingkat ketuntasan      : 87 %
Dengan memperhatikan tabel hasil evaluasi kelas V mata pelajaran Al Quran Hadist dan perbaikan siklus I dan siklus II sudah menunjukan peningkatan, yaitu sebelum perbaikan pembelajaran nilai rata-rata siswa 59 yang terbagi atas 5 memperoleh nilai tuntas dan 10 siswa memperoleh nilai belum tuntas. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus I rata-rata hasil evaluasi 76 yang terbagi atas 10 siswa memperoleh nilai tuntas dan 5 siswa belum tuntas. Adapun nilai perolehan pada siklus II rata-rata hasil evaluasi 82 yang terbagi atas 13 memperoleh nilai tuntas dan 2 siswa yang belum mendapat nilai tuntas. Sehingga siswa yang menguasai materi pelajaran Al Quran Hadist bab hadist tentang ciri-ciri orang munafiq ada  87 %.
Berdasarkan temuan dari teman sejawat yang dicatat pada lembar pengamatan  nilai semakin meningkat karena:
  1. Pembelajaran dilakukan dengan merangsang motivasi siswa untuk bertanya
  2. Adanya interaksi/ umpan balik dan penjelasan guru yang jelas
  3. Melibatkan siswa secara aktif untuk menjawab pertanyaan

Pembahasan:
Dalam proses pembelajaran Al Quran Hadist ditemukan masalah-masalah yang menyebabkan siswa kurang memahami materi tentang hadist silaturrahmi. Menurut Dr. E. Mulyasa penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran maka dari itu metode pembelajaran harus dipilih dan dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik[13]. Jadi apabila adanya ketepatan pemilihan metode pembelajaran maka akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, namun bila tidak ada ketepatan pemilihan metode pembelajaran maka sudah barang tentu akan berpengaruh buruk terhadap prestasi belajar siswa.
Langkah yang ditempuh guru untuk meningkatkan hasil belajar pada siklus I :
a.       Selalu memotivasi siswa untuk bertanya apabila tidak faham dengan penjelasan yang disampaikan guru.
b.      Mengadakan umpan balik yang berupa tanya jawab dan pemberian tugas .
Kurang keberhasilan pada siklus I diperbaiki pada siklus II yaitu dengan cara memperbanyak mengerjakan soal-soal latihan . Ternyata siswa dapat memperoleh nilai baik yaitu rata-rata 82 dengan ketuntasan 87 %, sehingga siswa merasa senang dengan pembelajaran tersebut.

J. Kesimpulan dan Saran
     a. Kesimpulan
Berdasarkan kriteria dan diskripsi hasil evaluasi yang tersebut diatas, maka dapat penulis simpulkan bahwa:
a.       Mengatur waktu secara efektif untuk mengadakan umpan balik terhadap materi.
b.      Selalu memotivasi siswa untuk mengungkapkan hal yang belum dipahami terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
c.       Memberi kesempatan waktu untuk menanyakan kejelasan materi


      b. Saran
Perbaikan pembelajaran melaui PTK sangat baik digunakan dan dikembangkan oleh guru demi meningkatkannya kemampuan siswa dalam pembelajaran.
Beberapa hal yang dapat dipakai acuan dalam peningkatan prestasi belajar adalah:
1.      Menciptakan suasana kelas yang kondusif
2.      Penjelasan guru dalam menyampaikan materi harus menarik dan bervariasi.
3.      Memberikan bimbingan kepada siswa
4.      Menyusun evaluasi tes akhir dari tingkat yang mudah ke sukar
5.      Mengalokasikan waktu sesuai kegiatan pembelajaran.
Disampaing itu kiranya seseorang guru harus selalu meningkatkan pengetahuannya baik melalui KKG, workshop dan penataran agar dapat memperbaiki kinerjanya dan dapat melaksanakan perbaiakn pembelajaran melalui PTK.



















Lampiran-lampiran:

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
 ( SEBELUM PERBAIKAN )

Satuan Pendidikan
:
Madrasah Ibtidaiyah
Mata Pelajaran
:
Al Qur’an Hadits
Kelas/Semester
:
V/2
Alokasi Waktu
:
4 x 35 menit
Pertemuan ke
:
1 s/d 2
Standar Kompetensi
:
2.      Mampu memahami arti surat-surat tertentu dalam Juz Amma dan memahami lafal dan arti hadits tentang taqwa, sholat berjamaah dan ciri-ciri orang munafiq.
Kompetensi Dasar
:
2.1.Memahami hadits tentang ciri-ciri orang munafik
Indikator
:
·         Hafal hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menerjemahkan hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan kandungan  hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan pengertian munafiq
·         Dapat menyebutkan ciri – ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan bahayanya sifat munafiq
·         Dapat menyebutkan contoh prilaku yang mencerminkan kemunafikan
·         Dapat menjauhi sifat munafiq

A.    Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini siswa dapat (1) Hafal hadist tentang cirri-ciri orang munafiq (2) Menerjemahkan hadist ciri-ciri orang munafiq (3) Menjelaskan kandungan hadist tentang ciri-ciri orang munafiq (4) Menjelaskan pengertian munafiq (5) Menyebutkan ciri-ciri orang munafiq (6) Menjelaskan bahayanya sifat munafiq (7) Menyebutkan contoh perilaku yang mencerminkan kemunafikan (8) Menjauhi sifat munafiq
B.     Materi Pembelajaran
Hadist tentang ciri-ciri orang munafiq dan kandungan isinya
C.     Metode Pembelajaran
Diskusi, Tanya Jawab, Bercerita
D.    Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan I
1.   Kegiatan awal
·         Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
·         Membaca hadits tentang ciri-ciri orang munafiq secara bersama-sama
2.   Kegiatan inti
·         Secara individu siswa diminta membaca hadist ciri-ciri orang munafiq dengan bergantian
·         Guru menjelaskan arti kata hadist ciri-ciri orang munafiq
·         Menerjemahkan hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
3.   Kegiatan akhir
·         Secara bersama-sama siswa diminta membaca dan menerjemahkan hadist cirri-ciri orang munafiq
·         Guru memberikan tugas kepada siswa menghafalkan hadist cirri-ciri orang munafiq untuk pertemuan yang akan datang
·         Guru memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.

Pertemuan II
1.       Kegiatan awal
·         Secara bersama-sama siswa membaca dan menerjemahkan hadist cirri-ciri orang munafiq
2.       Kegiatan inti
·         Secara individu siswa diminta menghafal dan menerjemahkan hadist cirri-ciri orang munafiq dengan bergantian didepan kelas
·         Guru menjelaskan pengertian munafiq, cirri-ciri dan bahayanya         
·         Siswa diminta memberikan contoh prilaku yang mencerminkan kemunafikan
3.         Kegiatan akhir
·         Secara bersama-sama siswa membaca dan menerjemahkan hadist cirri-ciri orang munafiq
·         Guru memotivasi siswa untuk lebih giat belajar

E.     Alat dan Sumber Belajar
Sumber Belajar :
·         Buku Paket Al-Qur’an Hadits kelas II MI
·         Buku yang relevan
·         LKS
Alat :
Papan tulis, kapur, penghapus

F.      Penilaian
Teknik       : Tes
Bentuk      : Tertulis, Unjuk kerja, Lesan, Performance
Instrumen  : Terlampir


Lampiran

Tes lesan

Hafalkan hadist cirri-ciri orang munafiq beserta artinya!                                 

Tes tertulis

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!
1. Hadist diatas diriwayatkan oleh…………..
            a. Ibnu Majah              c. Bukhori dan Muslim
            b. Tirmizi                     d. Hakim dan Ahmad
2. Orang munafiq selalu berkata……………
            a. Baik                         c. Benar
            b. Sopan                      d. Dusta
3. Apabila berjanji, orang munafiq selalu………………..
                        a. Mengingkari            c. Mempertanggungjawabkan
                        b. Menepatinya           d. Menunaikanya
4. ﻖﻓ ﺎﻧﻣﻟﺍ ﺔﻴﺍ artinya…………
                        a. Tanda-tanda orang kafir                  c. Tanda-tanda orang fasik
                        b. Tanda-tanda orang munafiq            d. Akibat orang munafiq
5. ﻦ ﺎﺨ artinya
                        a. Khianat                    c.  Mengingkari
                        b. Dipercaya                d. Berjanji
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan tepat!
1. Apa artinya munafiq?
2. Sebutkan tanda-tanda orang munafiq!
3. Mengapa Allah SWT sangat membenci orang munafiq?
4. Apa akibat yang ditimbulkan oleh orang munafiq?
5. Bagaimana caranya agar kita terhindar dari sifat munafiq?

Unjuk kerja dan performance

Kelas dibagi dalam 5 kelompok untuk membuat kaligrafi hadist tentang ciri-ciri orang munafiq

















RENCANA PERBAIKAN  PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIKLUS I

Satuan Pendidikan
:
Madrasah Ibtidaiyah
Mata Pelajaran
:
Al Qur’an Hadits
Kelas/Semester
:
V/2
Alokasi Waktu
:
2 x 35 menit
Pertemuan ke
:
1
Standar Kompetensi
:
3.      Mampu memahami arti surat-surat tertentu dalam Juz Amma dan memahami lafal dan arti hadits tentang taqwa, sholat berjamaah dan ciri-ciri orang munafiq.
Kompetensi Dasar
:
2.2.Memahami hadits tentang ciri-ciri orang munafik
Indikator
:
·         Hafal hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menerjemahkan hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan kandungan  hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan pengertian munafiq
·         Dapat menyebutkan ciri – ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan bahayanya sifat munafiq
·         Dapat menyebutkan contoh prilaku yang mencerminkan kemunafikan
·         Dapat menjauhi sifat munafiq

A.    Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini siswa dapat (1) Hafal hadist tentang cirri-ciri orang munafiq (2) Menerjemahkan hadist ciri-ciri orang munafiq (3) Menjelaskan kandungan hadist tentang ciri-ciri orang munafiq (4) Menjelaskan pengertian munafiq (5) Menyebutkan ciri-ciri orang munafiq (6) Menjelaskan bahayanya sifat munafiq (7) Menyebutkan contoh perilaku yang mencerminkan kemunafikan (8) Menjauhi sifat munafiq
B.     Materi Pembelajaran
Hadist tentang ciri-ciri orang munafiq dan kandungan isinya
C.     Metode Pembelajaran
Diskusi, Tanya Jawab, Bercerita, latihan
D.    Langkah-langkah Pembelajaran
1.   Kegiatan awal (15 menit)
·         Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
·         Membaca hadits tentang ciri-ciri orang munafiq secara bersama-sama
2.   Kegiatan inti ( 40 menit )
·         Secara individu siswa diminta membaca hadist ciri-ciri orang munafiq dengan bergantian
·         Guru menjelaskan arti kata hadist ciri-ciri orang munafiq
·         Menerjemahkan hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Guru memberi tugas mengerjakan soal latihan
·         Membahas soal latihan
3.   Kegiatan akhir (15 menit)
·         Guru memberikan tugas kepada siswa menghafalkan hadist cirri-ciri orang munafiq untuk pertemuan yang akan datang
·         Guru memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.
E.     Alat dan Sumber Belajar
Sumber Belajar :
·         Buku Paket Al-Qur’an Hadits kelas II MI
·         Buku yang relevan
·         LKS
Alat :
Papan tulis, kapur, penghapus

F.      Penilaian
Teknik       : Tes
Bentuk      : Tertulis, Unjuk kerja, Lesan, Performance
Instrumen  : Terlampir



Lampiran

Tes lesan

Hafalkan hadist cirri-ciri orang munafiq beserta artinya!                                 

Tes tertulis

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!
1. Hadist diatas diriwayatkan oleh…………..
            a. Ibnu Majah              c. Bukhori dan Muslim
            b. Tirmizi                     d. Hakim dan Ahmad
2. Orang munafiq selalu berkata……………
            a. Baik                         c. Benar
            b. Sopan                      d. Dusta
3. Apabila berjanji, orang munafiq selalu………………..
            a. Mengingkari            c. Mempertanggungjawabkan
            b. Menepatinya           d. Menunaikanya
4. ﻖﻓ ﺎﻧﻣﻟﺍ ﺔﻴﺍ artinya…………
            a. Tanda-tanda orang kafir                  c. Tanda-tanda orang fasik
            b. Tanda-tanda orang munafiq            d. Akibat orang munafiq
5. ﻦ ﺎﺨ artinya
            a. Khianat                    c.  Mengingkari
            b. Dipercaya                d. Berjanji
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan singkat dan tepat!
1. Apa artinya munafiq?
2. Sebutkan tanda-tanda orang munafiq!
3. Mengapa Allah SWT sangat membenci orang munafiq?
4. Apa akibat yang ditimbulkan oleh orang munafiq?
5. Bagaimana caranya agar kita terhindar dari sifat munafiq?









RENCANA PERBAIKAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIKLUS II

Satuan Pendidikan
:
Madrasah Ibtidaiyah
Mata Pelajaran
:
Al Qur’an Hadits
Kelas/Semester
:
V/2
Alokasi Waktu
:
4 x 35 menit
Pertemuan ke
:
1 s/d 2
Standar Kompetensi
:
4.      Mampu memahami arti surat-surat tertentu dalam Juz Amma dan memahami lafal dan arti hadits tentang taqwa, sholat berjamaah dan ciri-ciri orang munafiq.
Kompetensi Dasar
:
2.3.Memahami hadits tentang ciri-ciri orang munafik
Indikator
:
·         Hafal hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menerjemahkan hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan kandungan  hadits tentang ciri-ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan pengertian munafiq
·         Dapat menyebutkan ciri – ciri orang munafiq
·         Dapat menjelaskan bahayanya sifat munafiq
·         Dapat menyebutkan contoh prilaku yang mencerminkan kemunafikan
·         Dapat menjauhi sifat munafiq

A.    Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini siswa dapat (1) Hafal hadist tentang cirri-ciri orang munafiq (2) Menerjemahkan hadist ciri-ciri orang munafiq (3) Menjelaskan kandungan hadist tentang ciri-ciri orang munafiq (4) Menjelaskan pengertian munafiq (5) Menyebutkan ciri-ciri orang munafiq (6) Menjelaskan bahayanya sifat munafiq (7) Menyebutkan contoh perilaku yang mencerminkan kemunafikan (8) Menjauhi sifat munafiq
B.     Materi Pembelajaran
Hadist tentang ciri-ciri orang munafiq dan kandungan isinya
C.     Metode Pembelajaran
Diskusi, Tanya Jawab, latihan, Bercerita
D.    Langkah-langkah Pembelajaran
1.       Kegiatan awal (5 menit)
·         Secara bersama-sama siswa membaca dan menerjemahkan hadist cirri-ciri orang munafiq
2.       Kegiatan inti ( 50 menit )
·         Secara individu siswa diminta menghafal dan menerjemahkan hadist cirri-ciri orang munafiq dengan bergantian didepan kelas
·         Guru menjelaskan pengertian munafiq, cirri-ciri dan bahayanya         
·         Siswa diminta memberikan contoh prilaku yang mencerminkan kemunafikan
·         Guru memberi tugas mengerjakan soal-soal latihan
·         Membahas soal latihan
3.         Kegiatan akhir (15 menit)
·         Guru memotivasi siswa untuk lebih giat belajar

E.     Alat dan Sumber Belajar
Sumber Belajar :
·         Buku Paket Al-Qur’an Hadits kelas II MI
·         Buku yang relevan
·         LKS
Alat :
Papan tulis, kapur, penghapus

F.      Penilaian
Teknik       : Tes
Bentuk      : Tertulis, Unjuk kerja, Lesan, Performance
Instrumen  : Terlampir
Lampiran

Tes lesan

Hafalkan hadist cirri-ciri orang munafiq beserta artinya!                                 

Tes tertulis

Isilah titik – titik dibawah ini dengan tepat!
1.      Janji adalah hutang, maka harus……………….
2.      Katakanlah yang benar, walaupun………………..
3.      Yang akan menempati neraka ditangga paling bawah adalah………
4.      Insya Allah artinya…………..
5.      Amanah itu harus disampaikan pada…………….
6.      Amanah itu akan mendatangkan………………..
7.      Lawan sifat amanah adalah………….
8.      Bila berjanji hendaklah diiringi ucapan………….
9.      Ani dititipi uang untuk disampaikan kepada kakaknya. Oleh Ani uang itu malah untuk jajan. Ani cermin anak yang…………..
10.  Budi mendapat tugas mengedarkan undangan. Budi menyampaikan ke alamat masing-masing. Budi cermin anak yang……………

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan tepat!
1. Siapakah yang disebut orang munafiq itu?
2. Apa akibat orang yang suka ingkar janji?
3. Tindakan apa yang harus kamu lakukan, bila kamu tidak dapat memenuhi janji?
4. Apa sebab setiap kita akan berjanji diperintah untuk mengiringi dengan    ucapan InsyaAllah?
5. Bagaimanakah caranya kita menghindari sikap munafiq?

           










[1] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm.68.
[2] Ibid..,hlm.377.
[3] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, ( Ciputat: Ciputat Press, 2005), hlm.55
[4] Syaiful Bahri Djamaroh, Strategi Belajar Mengajar, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 107  
[5] Ahmad Sabri, op cit.., hlm. 64.
[6] Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama Dalam Keluarga,(Bandung: Remaja Rosda Karya, 1996), hlm. 7.
[7] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, ( Ciputat: Ciputat Press, 2005), hlm.55
[8] Syaiful Bahri Djamaroh, op cit.., hlm. 108.
[9] Ibid..
[10] Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama Dalam Keluarga,(Bandung: Remaja Rosda Karya, 1996) hlm. 7.
[11] Dr. Nana Sudjana, Dasar – dasar Proses Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1991), hlm. 11.
[12] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005) hlm. 108
[13] E. Mulyasa, op cit..,hlm. 107.
Read more ...
© Copyright YONGKIRUDI