PERANAN
ORANG TUA TERHADAP PENDEWASAAN ANAK MENURUT PENDIDIKAN ISLAM
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi
anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan.
Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh
atas pendidikan anak-anaknya. Dengan adanya peranan dan pengaruh itu, maka
orang tua dapat membimbing anaknya yang sedang berkembang ke arah cita-cita
yang mereka inginkan.
Anak yang baru dilahirkan berada dalam keadaan lemah,
tidak berdaya, tidak bisa apa-apa, tidak bisa mengurus diri sendiri, tidak bisa
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Ia tergantung sepenuhnya dari
lingkungannya, lingkungan hidupnya terutama orang tuanya. Anak yang baru
dilahirkan diibaratkan sebagai sehelai kertas putih yang masih polos dan
bagaimana jadinya kertas putih tersebut dikemudian hari, tergantung dari orang
yang akan menulisnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah sebagai berikut :
Artinya : “…dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Q.S. Al-Israa : 85)[1]
Dari ayat tersebut dapat diambil suatu pengertian anak
yang dilahirkan berada dalam keadaan lemah, sehingga memerlukan bantuan dari
orang lain yaitu dari kedua orang tuanya. Bagaimana kepribadian anak di
kemudian hari, tergantung dari bagaimana ia berkembang dan diperkembangkan oleh
lingkungan hidupnya, dan yang menjadi tokoh pusat dalam lingkungan hidup
tersebut adalah orang tua.
Orang tualah yang berperan besar, langsung atau
kadang-kadang tidak langsung, berhubungan terus menerus dengan anak, memberikan
rangsangan melalui berbagai corak komunikasi antara orang tua dengan anak.
Lingkungan keluarga seringkali disebut sebagai lingkungan pendidikan informal
yang mempengaruhi berbagai aspek perkembangan anak. Adakalanya hal ini
berlangsung melalui ucapan-ucapan, perintah-perintah yang diberikan secara
langsung untuk menunjukkan apa yang seharusnya diperlihatkan atau dilakukan
oleh anak. Adakalanya orang tua bersikap atau bertindak sebagai patokan,
sebagai contoh atau model agar ditiru dan kemudian apa yang ditiru akan meresap
dalam dirinya dan menjadi bagian dari kebiasaan bersikap dan bertingkah laku
atau bagian dari kepribadiannya.[2]
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, orang tua jelas
berperan besar dalam perkembangan dan memperkembangkan kepribadian anak. Orang
tua menjadi faktor penting dalam menanamkan dasar kepribadian yang ikut
menentukan corak dan gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa. Jadi
gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa banyak ditentukan oleh keadaan
dan proses-proses yang ada dan terjadi sebelumnya. Para ahli sependapat bahwa
dasar kepribadian anak ditanamkan dan terpola pada tahun-tahun awal dari
kehidupan anak.[3]
Sehubungan dengan hal di atas, maka orang tua juga
berperan dalam proses kedewasaan anak. Seringkali terdengar bahwa ada orang tua
yang terlalu memanjakan anaknya, sehingga hal ini bisa mempengaruhi
perkembangan kedewasaan anak. Karena anak selalu dimanja, keinginannya selalu
dituruti, maka hal ini kalau diteruskan akan terbawa sampai ia dewasa. Dan
kemungkinan sekali anak tersebut akan sulit untuk mencapai kedewasaannya. Maka
di sinilah letak tanggung jawab orang tua untuk selalu membimbing anak-anaknya,
mengarahkannya dan mendidik dengan penuh kasih sayang akan tetapi dalam
batas-batas sewajarnya.
Islam memandang keluarga sebagai lingkungan pertama bagi
anak dimana ia berinteraksi. Dari interaksi dengan keluarga terutama orang tua,
seorang anak memperoleh ciri-ciri dasar dari kepribadiannya. Seorang anak
memerlukan keluarganya bukan hanya pada tingkat awal hidupnya dan pada masa
kanak-kanak, tetapi ia memerlukan sepanjang hidupnya, sebagai kanak-kanak,
remaja dewasa, untuk menanamkan pada dirinya rasa kasih sayang, rasa tentram
dan ketenangan. Sebab orang yang tidak sempat dipelihara dalam suatu keluarga
yang wajar dan sehat pada masa-masa pertama, akan mengalami akibat yang buruk
pada keseluruhan hidupnya.[4]
Maka dari itu peranan orang tua dalam pendidikan anak
sangat menentukan bagi perkembangan kepribadian anak dan juga bagi perkembangan
kedewasaan anak. Sebab perkembagan proses kedewasaan anak juga dipengaruhi oleh
proses-proses pendidikan yang dilalui anak sebelumnya.
Berpangkal dari uraian tersebut di atas, penulis sangat
tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dalam karya ilmiah yang berbentuk skripsi
dengan judul : “Peranan Orang Tua Terhadap Pendewasaan Anak Menurut
Pendidikan Islam”.
B. PENEGASAN ISTILAH
Untuk menghindari agar tidak terjadi kesalahan dalam
memberikan pengertian dan batasan-batasan dari masing-masing istilah yang
terdapat pada judul, maka perlu untuk ditegaskan pengetian dari istilah-istilah
tersebut, yaitu sebagai berikut :
- Peranan Orang Tua
Peranan adalah “sesuatu yang menjadi bagian atau memegang
pimpinan yang terutama”.[5] Orang
tua adalah “setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau rumah
tangga yang dalam kehidupan sehari-hari lazim disebut ibu – bapak”.[6]
Sedangkan yang dimaksud peranan orang tua di sini adalah bagaimana peran,
kewajiban dan seberapa besar tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak,
khususnya di lingkungan keluarga.
- Pendewasaan Anak
Pendewasaan adalah “proses pembuatan, cara menjadikan
dewasa”.[7] Anak
adalah “seorang individu di antara kelahiran dan masa pubertas atau seorang
individu di antara masa kanak-kanak (masa pertumbuhan, masa kecil) dan masa
pubertas”.[8] Masa
pubertas sendiri terbagi menjadi dua bagian, “pubertas pertama antara 3 sampai
7 tahun dan pubertas kedua antara 14 sampai 18 tahun”.[9] Yang
dimaksud anak dalam pembahasan ini adalah anak di antara masa menjelang
berakhirnya pubertas pertama hingga masa pubertas kedua, atau anak usia
sekolah.
Sedangkan yang dimaksud dengan pendewasaan anak adalah suatu
proses perkembangan yang dilalui seorang anak hingga anak tersebut mencapai
dewasa.
- Pendidikan Islam
“Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan latihan”.[10] Pendidikan
Islam ialah : “segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia
serta sumber daya insani yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya
(insan kamil) sesuai dengan norma Islam”.[11]
C. PERMASALAHAN
Yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan skripsi
adalah sebagai berikut :
- Bagaimanakah peranan orang tua menurut Pendidikan Islam ?
- Bagaimanakah pendewasaan anak menurut Pendidikan Islam ?
- Bagaimanakah peranan orang tua terhadap pendewasaan anak menurut Pendidikan Islam ?
D. TUJUAN PENULISAN SKRIPSI
Berdasarkan berbagai permasalahan di atas, maka tujuan
penulisan skripsi iuni adalah :
1.
Untuk mengetahui peranan orang tua
dalam pendidikan anak menurut perspektif Pendidikan Islam.
- Untuk mengetahui pendewasaan anak dalam perspektif Pendidikan Islam.
- Untuk mengetahui tentang peranan orang tua terhadap pendewasaan anak ditinjau dari sudut pandang pendidikan Islam.
E. KERANGKA TEORITIS
- Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak
“Anak bagi orang tua merupakan amanat Allah dan menjadi
tanggung jawabnya kepada Allah untuk mendidiknya, mengisi fitrahnya dengan
karimah, dengan iman dan amal saleh”.[12]
Mendidik anak merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang tua terhadap
anaknya. Oleh karena itu orang tua selalu dituntut agar bertanggung jawab atas
pendidikan anak-anaknya, karena celaka dan bahagia anak terletak di tangan
mereka. Sebagaimana dalam firman Allah SWT sebagai berikut :
Artinya : “Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.
(At-Tahrim : 6).[13]
Islam mewajibkan keluarga untuk mendidik dan menumbuhkan
segala aspek kepribadian anak-anak. Ketidak berdayaan seorang anak menumbuhkan
segenap tanggung jawab moril dan segenap kemampuan orang tuanya, agar anak tadi
diasuh, dipelihara, dan dididik dengan baik. Secara jelasnya, anak tersebut
membutuhkan adanya rawatan, keamanan, pemeliharaan, pertolongan, bimbingan,
pendidikan dan pertanggung jawaban sepenuhnya dari orang tua.
Akan tetapi sangat disayangkan, arti dan makna perawatan,
asuhan dan tanggung jawab orang tua dalam mengemban tugas tersebut, telah
semakin memudar di sebagian masyarakat.[14] Hal ini
diakibatkan oleh kesibukan kedua orang tua untuk memenuhi tuntutan ekonomi dan
kebutuhan hidup, sehingga menyerahkan rawatan dan asuhan kepada pembantu atau
pengasuh, sehingga dapat menyebabkan anak terabaikan pendidikannya.
Dengan demikian jelaslah peranan orang tua terhadap
pendidikan anaknya, karena seorang anak yang baru saja dilahirkan hingga masa
kehidupannya, sangat membutuhkan bimbingan dari orang tua, yaitu pendidikan
yang diberikan orang tua terhadapnya.
- Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
Pengertian dewasa yang sebenarnya ialah dewasa secara
fisik dan mental atau psikisnya. Banyak orang yang fisiknya secara biologis
telah dewasa tetapi psikisnya belum dewasa. Ia masih berbuat kekanak-kanakan,
minta dimanja, selalu menggantungkan diri pada orang lain dalam segala hal,
tidak mempunyai tanggung jawab atas segala perbuatannya.
Pendewasaan merupakan tingkatan perkembangan yang dicapai
seorang, “suatu tingkat kedewasaan tertentu harus tercapai lebih dulu sebelum
adanya suatu kebutuhan tertentu”.[15] Seorang
anak yang berumur tujuh atau delapan tahun tidaklah dapat diharapkan untuk
merasakan kebiasaan-kebiasaan sosial yang biasanya baru dirasakan pada umur
delapan belas tahun.
Whitherington dalam bukunya “Psikologi Pendidikan” mengatakan :
“Pada umumnya anak-anak dapat berpikir
dengan jalan pikiran yang cukup baik selama mereka mengenal serta mempunyai
minat terhadap hal-hal yang harus dipikirkan itu. Mereka sanggup memecahkan
masalah-masalah yang setaraf dengan tingkat pengalaman mereka, oleh karena pada
akhirnya tingkat pengalaman mereka dalam keadaan-keadaan yang normal sejajar
atau sesuai dengan tingkat perkembangan total mereka”.[16]
Jadi pengertian dari kedewasaan, tidak hanya dewasa secara
fisik saja, akan tetapi juga psikisnya. Tingkat kedewasaan yang lebih lanjut
ditandai oleh pemahaman psikis yang lebih tinggi dan lebih luas.
- Peranan Orang Tua Terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
Sebagai pusat pendidikan pertama, keluarga
mempunyai tugas fundamental dalam mempersiapkan anak bagi peranannya di masa
depan. Dasar-dasar dari perilaku, sikap hidup, dan berbagai kebiasaan
ditanamkan kepada anak sejak dalam lingkungan keluarga.
Suatu keluarga diawali dari sepasang suami istri, kemudian
lahir anak-anak mereka. Itulah keluarga inti sebagai tempat berinteraksi yang
pertama kali bagi setiap anak. Di situlah tempat berkembangnya individu dan
disitu pula terdapat tahap-tahap awal proses pembentukan kepribadian anak
melalui internalisasi nilai-nilai yang terpantul dari emosi, minat, sikap, dan
perilaku orang tuanya.[17]
Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi
manusia dari aspek-aspek rohaniah dan jasmaniah juga harus berlangsung secara
bertahap. Oleh karena suatu kematanagan yang bertitik akhir pada optimalisasi
perkembangan atau pertumbuhan, baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui
proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.
Tujuan pendidikan Islam yaitu untuk membentuk manusia susila
dan takwa sebagai muslim yang berkepribadian utuh. Jika dikaitkan dengan
kedewasaan maka kedewasaan itu telah sempurna apabila tata nilai Islam
tercermin pada kepribadian seseorang. Lebih jelasnya, seseorang yang mampu
bertanggung jawab dan telah dapat memutuskan baik buruknya tindakan yang
dipilihnya dan dia bertanggung jawab atas segala tindakannya itu atas dasar
pertimbangan falsafah hidup yang tidak melanggar ajaran Islam.
Jadi bila seseorang telah dididik atau dibimbing sesuai
dengan ajaran Islam, dan kemudian dia telah mampu mengatur dan mengontrol
dirinya sesuai dengan dasar Islam, maka telah dewasalah ia menurut kriteria
pendidikan Islam.
Maka peranan orang-orang tua dalam hal ini adalah mengarahkan
kepada anak-anaknya hal-hal yang sesuai dengan tuntutan Islam, dan agar anak
tersebut bisa mencapai kedewasaannya. Sebagai pedoman untuk menyesuaikan tujuan
bimbingan dan pendidikan anak menuju kepada kedewasaan, maka orientasi pendidikan
atau bimbingan itu hendaklah relevan dengan tujuan akhir dari pendidikan Islam,
yakni sebagaimana firman Allah berikut ini :
Artinya : “Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan
sholat, dan menunuaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Al
Bayyinah : 5).[18]
F. METODE PENULISAN SKRIPSI
- Variabel Penelitian
a.
Peranan Orang Tua, dengan
indikator :
1.
Peran orang tua.
2.
Sikap orang tua.
3.
Cara mendidik.
b.
Kedewasaan Anak, dengan indikator
:
1.
Perkembangan pola berpikir.
2.
Perkembangan sikap/tingkah laku.
3.
Kepribadian anak.
4.
Perkembangan Agama anak.
- Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah : “metode
Library research atau suatu penelitian kepustakaan”.[19] Hal ini
dimaksudkan dengan cara membaca, menelaah dan memahami buku-buku yang relevan
dengan masalah yang ditelaah.
- Metode Pembahasan
Metode yang digunakan dalam pembahasan ini adalah :
metode penelitian deskriptif, yaitu suatu penelitian yang berusaha mendiskripsikan
suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang, yang
mengambil atau memusatkan perhatian pada masalah-masalah aktual, sebagai
pemecahan masalah praktis pendidikan.
- Metode Analisa Data
Untuk menganalisa data penulis melalui beberapa
tahap :
1)
Menghimpun ayat-ayat Al Qur’an
yang relevan dengan tema.
2)
Memberi penjelasan dengan
menggunakan teknik interpretasi.
3)
Membahas konsep-konsep yang
terkandung dalam ayat Al Qur’an, serta menghubungkannya dengan beberapa
pendapat para ahli pendidikan.
4)
Menarik kesimpulan dari pembahasan
yang telah diuraikan.
G. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI
Agar penulisan skripsi ini terarah dan mudah untuk
dipahami, disusun dalam sistematika sebagai berikut :
1.
Bagian muka (preliminaries),
terdiri dari : halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan,
halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, halaman daftar isi.
- Bagian isi/batang tubuh, terdiri dari :
Bab I : Pendahuluan, dalam bab ini memuat : Latar Belakang Masalah,
Penegasan Istilah, Permasalahan, Tujuan Penulisan Skripsi, Kerangka Teoritis,
Metode Penulisan Skripsi dan Sistematika Penulisan Skripsi
Bab II : Peranan Orang Tua dalam
Pendidikan Islam, dalam bab ini penulis memaparkan tentang masalah pentingnya
peranan orang tua yang berisi : Pengertian Orang Tua, Kedudukan Orang Tua dalam
Keluarga serta Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak.
Selanjutnya penulis menguraikan tentang konsep
pendidikan Islam yang terdiri dari : Pengertian Pendidikan Islam, Tujuan
Pendidikan Islam serta Landasan Pendidikan Islam.
Bab III : Pendewasaan
Anak Menurut Pendidikan Islam.
Pada bab ini berisi tentang Pengertian Kedewasaan
Anak, Batasan-batasan Kedewasaan Anak yang meliputi : Kedewasaan Fisik dan
Kedewasaan Psikis dalam perspektif Pendidikan Islam
Bab IV : Peranan Orang Tua
Terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam, yang terdiri dari : Upaya
Orang Tua dalam Pendewasaan Anak dan Analisis Peranan Orang Tua terhadap
Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam.
Bab V : Penutup
Pada bab ini penulis menyajikan kesimpulan apa yang
telah dijabarkan pada bab-bab
terdahulu, dan juga saran-saran, dan diakhiri dengan penutup.
- Bagian Akhir (Refference Matter), terdiri dari : daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Halaman Nota Pembimbing
Halaman Pengesahan
Halaman Motto
Halaman Persenbahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I : Pendahuluan
A. Latar Belakang
Masalah.
B. Penegasan
Istilah.
C. Permasalahan.
D. Tujuan Penulisan
Skripsi.
E. Kerangka
Teoritis.
F.
Metode Penulisan Skripsi.
G. Sistematika
Penulisan Skripsi
Bab II : Peranan Orang Tua dalam Pendidikan
Islam
A. Peranan Orang
Tua
1.
Pengertian Orang Tua.
2.
Kedudukan Orang Tua dalam Keluarga.
3.
Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak.
B. Pendidikan Islam
1.
Pengertian Pendidikan Islam.
2.
Tujuan Pendidikan Islam.
3.
Landasan Pendidikan Islam.
Bab III : Kedewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
A. Pengertian
Kedewasaan Anak
B. Batasan-batasan
Kedewasaan Anak
1.
Kedewasaan Fisik.
2.
Kedewasaan Psikis.
Bab IV :
Peranan Orang Tua terhadap Pendewasaan Anak menurut Pendidikan Islam
A. Upaya Orang Tua
dalam Pendewasaan Anak.
B. Analisis Peranan
Orang Tua terhadap Pendewasaan Anak menurut Pendidikan Islam.
Bab V :
Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran
C. Penutup
|
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Drs., Islam Sebagai Paradigma Ilmu
Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992.
C. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi,
Rajawali Pers, Jakarta, 1997.
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Jakarta, 1994.
Hasan Langgulung, Prof. Dr., Manusia dan
Pendidikan, Al Husna Zikra, Jakarta, 1995.
M. J. Langeveld, Ilmu Jiwa Perkembangan,
Jemmars, Bandung, 1979.
Muhammad Ali Qutb, Sang Anak dalam Naungan
Pendidikan Islam, C. V. Diponegoro, Bandung, 1993.
Rachmat Djatnika, Sistem Etika Islami, Pustaka
Panjimas, Jakarta, 1992.
R. H. A. Soenarjo, Prof. S. H., Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta,
1971.
Singgih D. Gunarsa, Prof. Dr., Yulia Singgih D.
Gunarsa, Dra. Ny., Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Gunung
Mulia, Jakarta, 1995.
Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M. A., Metodologi Research
I, Andi Offset, Yogyakarta, 1995.
Thamrin Nasution, Peranan Orang Tua dalam
Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Gunung Mulia, Jakarta, 1985.
Whitherington, Psikologi Pendidikan, Aksara
Baru, Jakarta, 1988.
W. J. S. Poerwodarminta, Kamus Umum Bahasa
Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.
[1] R.H.A.
Soenarjo, dkk., Al-Qur`an dan Terjemahnya, Jakarta, 1971, hal.437.
[2]
Singgih D. Gunarsa, Ny. Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis Anak,
Remaja dan Keluarga, Gunung Mulia, Jakarta, 1995, hal. 104.
[3] Ibid.,
hal. 105.
[4]
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Al Husna Zikra, Jakarta, 1995,
hal. 348 – 349.
[5]
W. J. S. Poerwodarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta, 1984, hal. 735.
[6]
Thamrin Nasution, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar
Anak, Gunung Mulia, Jakarta, 1985, hal. 1.
[7]
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994,
hal. 232.
[8]
C. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Rajawali Pers, Jakarta, 1997,
hal. 83.
[9]
M. J. Langeveld, Ilmu Jiwa Perkembangan, Jemmars, Bandung, 1979, hal. 7.
[10]
Depdikbud, Loc. Cit.
[11]
Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media,
Yogyakarta, 1992, hal. 20.
[12]
H. Rachmat Djatnika, Sistem Etika Islami, Pustaka Panjimas, Jakarta,
1992, hal. 223.
[13]
R. H. A. Soenarjo, Op.Cit, hal. 950.
[14]
Muhammad Ali Qutb, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, C. V.
Diponegoro, Bandung, 1993, hal. 53.
[15]
Whitherington, Psikologi Pendidikan, Aksara Baru, Jakarta, 1988, hal.
109.
[16]
Ibid.
[17]
Achmadi, Op. Cit., hal. 91.
[18]
R. H. A. Soenarjo, S. H., Op. Cit., hal. 1084.
[19]
Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, Andi Offset, Yogyakarta, 1995,
hal. 9.
No comments:
Post a Comment