Breaking News

Makalah

Sunday, October 9, 2016

PERANAN ORANG TUA TERHADAP PENDEWASAAN ANAK MENURUT PENDIDIKAN ISLAM


PERANAN ORANG TUA TERHADAP PENDEWASAAN ANAK MENURUT PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Dengan adanya peranan dan pengaruh itu, maka orang tua dapat membimbing anaknya yang sedang berkembang ke arah cita-cita yang mereka inginkan.
Anak yang baru dilahirkan berada dalam keadaan lemah, tidak berdaya, tidak bisa apa-apa, tidak bisa mengurus diri sendiri, tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Ia tergantung sepenuhnya dari lingkungannya, lingkungan hidupnya terutama orang tuanya. Anak yang baru dilahirkan diibaratkan sebagai sehelai kertas putih yang masih polos dan bagaimana jadinya kertas putih tersebut dikemudian hari, tergantung dari orang yang akan menulisnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah sebagai berikut :


Artinya : “…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Q.S. Al-Israa : 85)[1]
Dari ayat tersebut dapat diambil suatu pengertian anak yang dilahirkan berada dalam keadaan lemah, sehingga memerlukan bantuan dari orang lain yaitu dari kedua orang tuanya. Bagaimana kepribadian anak di kemudian hari, tergantung dari bagaimana ia berkembang dan diperkembangkan oleh lingkungan hidupnya, dan yang menjadi tokoh pusat dalam lingkungan hidup tersebut adalah orang tua.

Orang tualah yang berperan besar, langsung atau kadang-kadang tidak langsung, berhubungan terus menerus dengan anak, memberikan rangsangan melalui berbagai corak komunikasi antara orang tua dengan anak. Lingkungan keluarga seringkali disebut sebagai lingkungan pendidikan informal yang mempengaruhi berbagai aspek perkembangan anak. Adakalanya hal ini berlangsung melalui ucapan-ucapan, perintah-perintah yang diberikan secara langsung untuk menunjukkan apa yang seharusnya diperlihatkan atau dilakukan oleh anak. Adakalanya orang tua bersikap atau bertindak sebagai patokan, sebagai contoh atau model agar ditiru dan kemudian apa yang ditiru akan meresap dalam dirinya dan menjadi bagian dari kebiasaan bersikap dan bertingkah laku atau bagian dari kepribadiannya.[2]
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, orang tua jelas berperan besar dalam perkembangan dan memperkembangkan kepribadian anak. Orang tua menjadi faktor penting dalam menanamkan dasar kepribadian yang ikut menentukan corak dan gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa. Jadi gambaran kepribadian seseorang setelah dewasa banyak ditentukan oleh keadaan dan proses-proses yang ada dan terjadi sebelumnya. Para ahli sependapat bahwa dasar kepribadian anak ditanamkan dan terpola pada tahun-tahun awal dari kehidupan anak.[3]
Sehubungan dengan hal di atas, maka orang tua juga berperan dalam proses kedewasaan anak. Seringkali terdengar bahwa ada orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, sehingga hal ini bisa mempengaruhi perkembangan kedewasaan anak. Karena anak selalu dimanja, keinginannya selalu dituruti, maka hal ini kalau diteruskan akan terbawa sampai ia dewasa. Dan kemungkinan sekali anak tersebut akan sulit untuk mencapai kedewasaannya. Maka di sinilah letak tanggung jawab orang tua untuk selalu membimbing anak-anaknya, mengarahkannya dan mendidik dengan penuh kasih sayang akan tetapi dalam batas-batas sewajarnya.
Islam memandang keluarga sebagai lingkungan pertama bagi anak dimana ia berinteraksi. Dari interaksi dengan keluarga terutama orang tua, seorang anak memperoleh ciri-ciri dasar dari kepribadiannya. Seorang anak memerlukan keluarganya bukan hanya pada tingkat awal hidupnya dan pada masa kanak-kanak, tetapi ia memerlukan sepanjang hidupnya, sebagai kanak-kanak, remaja dewasa, untuk menanamkan pada dirinya rasa kasih sayang, rasa tentram dan ketenangan. Sebab orang yang tidak sempat dipelihara dalam suatu keluarga yang wajar dan sehat pada masa-masa pertama, akan mengalami akibat yang buruk pada keseluruhan hidupnya.[4]
Maka dari itu peranan orang tua dalam pendidikan anak sangat menentukan bagi perkembangan kepribadian anak dan juga bagi perkembangan kedewasaan anak. Sebab perkembagan proses kedewasaan anak juga dipengaruhi oleh proses-proses pendidikan yang dilalui anak sebelumnya.
Berpangkal dari uraian tersebut di atas, penulis sangat tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dalam karya ilmiah yang berbentuk skripsi dengan judul : “Peranan Orang Tua Terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam”.

B.     PENEGASAN ISTILAH

Untuk menghindari agar tidak terjadi kesalahan dalam memberikan pengertian dan batasan-batasan dari masing-masing istilah yang terdapat pada judul, maka perlu untuk ditegaskan pengetian dari istilah-istilah tersebut, yaitu sebagai berikut :
  1. Peranan Orang Tua
Peranan adalah “sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama”.[5] Orang tua adalah “setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari lazim disebut ibu – bapak”.[6] Sedangkan yang dimaksud peranan orang tua di sini adalah bagaimana peran, kewajiban dan seberapa besar tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak, khususnya di lingkungan keluarga.
  1. Pendewasaan Anak
Pendewasaan adalah “proses pembuatan, cara menjadikan dewasa”.[7] Anak adalah “seorang individu di antara kelahiran dan masa pubertas atau seorang individu di antara masa kanak-kanak (masa pertumbuhan, masa kecil) dan masa pubertas”.[8] Masa pubertas sendiri terbagi menjadi dua bagian, “pubertas pertama antara 3 sampai 7 tahun dan pubertas kedua antara 14 sampai 18 tahun”.[9] Yang dimaksud anak dalam pembahasan ini adalah anak di antara masa menjelang berakhirnya pubertas pertama hingga masa pubertas kedua, atau anak usia sekolah.
Sedangkan yang dimaksud dengan pendewasaan anak adalah suatu proses perkembangan yang dilalui seorang anak hingga anak tersebut mencapai dewasa.
  1. Pendidikan Islam
“Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan”.[10] Pendidikan Islam ialah : “segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam”.[11]

C.    PERMASALAHAN

Yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan skripsi adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah peranan orang tua menurut Pendidikan Islam ?
  2. Bagaimanakah pendewasaan anak menurut Pendidikan Islam ?
  3. Bagaimanakah peranan orang tua terhadap pendewasaan anak menurut Pendidikan Islam ?

D.    TUJUAN PENULISAN SKRIPSI

Berdasarkan berbagai permasalahan di atas, maka tujuan penulisan skripsi iuni adalah :
1.      Untuk mengetahui peranan orang tua dalam pendidikan anak menurut perspektif Pendidikan Islam.
  1. Untuk mengetahui pendewasaan anak dalam perspektif Pendidikan Islam.
  2. Untuk mengetahui tentang peranan orang tua terhadap pendewasaan anak ditinjau dari sudut pandang pendidikan Islam.

E.     KERANGKA TEORITIS

  1. Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak
“Anak bagi orang tua merupakan amanat Allah dan menjadi tanggung jawabnya kepada Allah untuk mendidiknya, mengisi fitrahnya dengan karimah, dengan iman dan amal saleh”.[12] Mendidik anak merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang tua terhadap anaknya. Oleh karena itu orang tua selalu dituntut agar bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya, karena celaka dan bahagia anak terletak di tangan mereka. Sebagaimana dalam firman Allah SWT sebagai berikut :


Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (At-Tahrim : 6).[13]
Islam mewajibkan keluarga untuk mendidik dan menumbuhkan segala aspek kepribadian anak-anak. Ketidak berdayaan seorang anak menumbuhkan segenap tanggung jawab moril dan segenap kemampuan orang tuanya, agar anak tadi diasuh, dipelihara, dan dididik dengan baik. Secara jelasnya, anak tersebut membutuhkan adanya rawatan, keamanan, pemeliharaan, pertolongan, bimbingan, pendidikan dan pertanggung jawaban sepenuhnya dari orang tua.
Akan tetapi sangat disayangkan, arti dan makna perawatan, asuhan dan tanggung jawab orang tua dalam mengemban tugas tersebut, telah semakin memudar di sebagian masyarakat.[14] Hal ini diakibatkan oleh kesibukan kedua orang tua untuk memenuhi tuntutan ekonomi dan kebutuhan hidup, sehingga menyerahkan rawatan dan asuhan kepada pembantu atau pengasuh, sehingga dapat menyebabkan anak terabaikan pendidikannya.
Dengan demikian jelaslah peranan orang tua terhadap pendidikan anaknya, karena seorang anak yang baru saja dilahirkan hingga masa kehidupannya, sangat membutuhkan bimbingan dari orang tua, yaitu pendidikan yang diberikan orang tua terhadapnya.
  1. Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
Pengertian dewasa yang sebenarnya ialah dewasa secara fisik dan mental atau psikisnya. Banyak orang yang fisiknya secara biologis telah dewasa tetapi psikisnya belum dewasa. Ia masih berbuat kekanak-kanakan, minta dimanja, selalu menggantungkan diri pada orang lain dalam segala hal, tidak mempunyai tanggung jawab atas segala perbuatannya.
Pendewasaan merupakan tingkatan perkembangan yang dicapai seorang, “suatu tingkat kedewasaan tertentu harus tercapai lebih dulu sebelum adanya suatu kebutuhan tertentu”.[15] Seorang anak yang berumur tujuh atau delapan tahun tidaklah dapat diharapkan untuk merasakan kebiasaan-kebiasaan sosial yang biasanya baru dirasakan pada umur delapan belas tahun.
Whitherington dalam bukunya “Psikologi Pendidikan” mengatakan :
“Pada umumnya anak-anak dapat berpikir dengan jalan pikiran yang cukup baik selama mereka mengenal serta mempunyai minat terhadap hal-hal yang harus dipikirkan itu. Mereka sanggup memecahkan masalah-masalah yang setaraf dengan tingkat pengalaman mereka, oleh karena pada akhirnya tingkat pengalaman mereka dalam keadaan-keadaan yang normal sejajar atau sesuai dengan tingkat perkembangan total mereka”.[16]
Jadi pengertian dari kedewasaan, tidak hanya dewasa secara fisik saja, akan tetapi juga psikisnya. Tingkat kedewasaan yang lebih lanjut ditandai oleh pemahaman psikis yang lebih tinggi dan lebih luas.
  1. Peranan Orang Tua Terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
Sebagai pusat pendidikan pertama, keluarga mempunyai tugas fundamental dalam mempersiapkan anak bagi peranannya di masa depan. Dasar-dasar dari perilaku, sikap hidup, dan berbagai kebiasaan ditanamkan kepada anak sejak dalam lingkungan keluarga.
Suatu keluarga diawali dari sepasang suami istri, kemudian lahir anak-anak mereka. Itulah keluarga inti sebagai tempat berinteraksi yang pertama kali bagi setiap anak. Di situlah tempat berkembangnya individu dan disitu pula terdapat tahap-tahap awal proses pembentukan kepribadian anak melalui internalisasi nilai-nilai yang terpantul dari emosi, minat, sikap, dan perilaku orang tuanya.[17]
Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohaniah dan jasmaniah juga harus berlangsung secara bertahap. Oleh karena suatu kematanagan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan atau pertumbuhan, baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.
Tujuan pendidikan Islam yaitu untuk membentuk manusia susila dan takwa sebagai muslim yang berkepribadian utuh. Jika dikaitkan dengan kedewasaan maka kedewasaan itu telah sempurna apabila tata nilai Islam tercermin pada kepribadian seseorang. Lebih jelasnya, seseorang yang mampu bertanggung jawab dan telah dapat memutuskan baik buruknya tindakan yang dipilihnya dan dia bertanggung jawab atas segala tindakannya itu atas dasar pertimbangan falsafah hidup yang tidak melanggar ajaran Islam.
Jadi bila seseorang telah dididik atau dibimbing sesuai dengan ajaran Islam, dan kemudian dia telah mampu mengatur dan mengontrol dirinya sesuai dengan dasar Islam, maka telah dewasalah ia menurut kriteria pendidikan Islam.
Maka peranan orang-orang tua dalam hal ini adalah mengarahkan kepada anak-anaknya hal-hal yang sesuai dengan tuntutan Islam, dan agar anak tersebut bisa mencapai kedewasaannya. Sebagai pedoman untuk menyesuaikan tujuan bimbingan dan pendidikan anak menuju kepada kedewasaan, maka orientasi pendidikan atau bimbingan itu hendaklah relevan dengan tujuan akhir dari pendidikan Islam, yakni sebagaimana firman Allah berikut ini :



Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat, dan menunuaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Al Bayyinah : 5).[18]

F.     METODE PENULISAN SKRIPSI

  1. Variabel Penelitian
a.       Peranan Orang Tua, dengan indikator :
1.      Peran orang tua.
2.      Sikap orang tua.
3.      Cara mendidik.
b.      Kedewasaan Anak, dengan indikator :
1.      Perkembangan pola berpikir.
2.      Perkembangan sikap/tingkah laku.
3.      Kepribadian anak.
4.      Perkembangan Agama anak.
  1. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah : “metode Library research atau suatu penelitian kepustakaan”.[19] Hal ini dimaksudkan dengan cara membaca, menelaah dan memahami buku-buku yang relevan dengan masalah yang ditelaah.
  1. Metode Pembahasan
Metode yang digunakan dalam pembahasan ini adalah : metode penelitian deskriptif, yaitu suatu penelitian yang berusaha mendiskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang, yang mengambil atau memusatkan perhatian pada masalah-masalah aktual, sebagai pemecahan masalah praktis pendidikan.
  1. Metode Analisa Data
Untuk menganalisa data penulis melalui beberapa tahap :
1)      Menghimpun ayat-ayat Al Qur’an yang relevan dengan tema.
2)      Memberi penjelasan dengan menggunakan teknik interpretasi.
3)      Membahas konsep-konsep yang terkandung dalam ayat Al Qur’an, serta menghubungkannya dengan beberapa pendapat para ahli pendidikan.
4)      Menarik kesimpulan dari pembahasan yang telah diuraikan.

G.    SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI

Agar penulisan skripsi ini terarah dan mudah untuk dipahami, disusun dalam sistematika sebagai berikut :
1.      Bagian muka (preliminaries), terdiri dari : halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, halaman daftar isi.
  1. Bagian isi/batang tubuh, terdiri dari :
Bab I   : Pendahuluan, dalam bab ini memuat : Latar Belakang Masalah, Penegasan Istilah, Permasalahan, Tujuan Penulisan Skripsi, Kerangka Teoritis, Metode Penulisan Skripsi dan Sistematika Penulisan Skripsi
Bab II  :  Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Islam, dalam bab ini penulis memaparkan tentang masalah pentingnya peranan orang tua yang berisi : Pengertian Orang Tua, Kedudukan Orang Tua dalam Keluarga serta Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Anak.
               Selanjutnya penulis menguraikan tentang konsep pendidikan Islam yang terdiri dari : Pengertian Pendidikan Islam, Tujuan Pendidikan Islam serta Landasan Pendidikan Islam.
Bab III   :        Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam.
               Pada bab ini berisi tentang Pengertian Kedewasaan Anak, Batasan-batasan Kedewasaan Anak yang meliputi : Kedewasaan Fisik dan Kedewasaan Psikis dalam perspektif Pendidikan Islam
Bab IV   :        Peranan Orang Tua Terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam, yang terdiri dari : Upaya Orang Tua dalam Pendewasaan Anak dan Analisis Peranan Orang Tua terhadap Pendewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam.
Bab V  :  Penutup
               Pada bab ini penulis menyajikan kesimpulan apa yang telah           dijabarkan pada bab-bab terdahulu, dan juga saran-saran, dan diakhiri dengan penutup.
  1. Bagian Akhir (Refference Matter), terdiri dari : daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.








DAFTAR ISI


Halaman Judul
Halaman Nota Pembimbing
Halaman Pengesahan
Halaman Motto
Halaman Persenbahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I         : Pendahuluan
A.      Latar Belakang Masalah.
B.       Penegasan Istilah.
C.       Permasalahan.
D.      Tujuan Penulisan Skripsi.
E.       Kerangka Teoritis.
F.        Metode Penulisan Skripsi.
G.      Sistematika Penulisan Skripsi
Bab II        : Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Islam
A.      Peranan Orang Tua
1.         Pengertian Orang Tua.
2.         Kedudukan Orang Tua dalam Keluarga.
3.         Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak.
B.       Pendidikan Islam
1.         Pengertian Pendidikan Islam.
2.         Tujuan Pendidikan Islam.
3.         Landasan Pendidikan Islam.
Bab III      : Kedewasaan Anak Menurut Pendidikan Islam
A.      Pengertian Kedewasaan Anak
B.       Batasan-batasan Kedewasaan Anak
1.         Kedewasaan Fisik.
2.         Kedewasaan Psikis.
Bab IV      : Peranan Orang Tua terhadap Pendewasaan Anak menurut Pendidikan Islam
A.      Upaya Orang Tua dalam Pendewasaan Anak.
B.       Analisis Peranan Orang Tua terhadap Pendewasaan Anak menurut Pendidikan Islam.
Bab V        :  Penutup
A.      Kesimpulan
B.       Saran
C.       Penutup




 
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Drs., Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992.
C. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Rajawali Pers, Jakarta, 1997.
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994.
Hasan Langgulung, Prof. Dr., Manusia dan Pendidikan, Al Husna Zikra, Jakarta, 1995.
M. J. Langeveld, Ilmu Jiwa Perkembangan, Jemmars, Bandung, 1979.
Muhammad Ali Qutb, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, C. V. Diponegoro, Bandung, 1993.
Rachmat Djatnika, Sistem Etika Islami, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1992.
R. H. A. Soenarjo, Prof.  S. H., Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, 1971.
Singgih D. Gunarsa, Prof. Dr., Yulia Singgih D. Gunarsa, Dra. Ny., Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Gunung Mulia, Jakarta, 1995.
Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M. A., Metodologi Research I, Andi Offset, Yogyakarta, 1995.
Thamrin Nasution, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Gunung Mulia, Jakarta, 1985.
Whitherington, Psikologi Pendidikan, Aksara Baru, Jakarta, 1988.
W. J. S. Poerwodarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1984.




[1] R.H.A. Soenarjo, dkk., Al-Qur`an dan Terjemahnya, Jakarta, 1971, hal.437.
[2] Singgih D. Gunarsa, Ny. Yulia Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, Gunung Mulia, Jakarta, 1995, hal. 104.
[3] Ibid., hal. 105.
[4] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Al Husna Zikra, Jakarta, 1995, hal. 348 – 349.
[5] W. J. S. Poerwodarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1984, hal. 735.
[6] Thamrin Nasution, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Gunung Mulia, Jakarta, 1985, hal. 1.
[7] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1994, hal. 232.
[8] C. P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Rajawali Pers, Jakarta, 1997, hal. 83.
[9] M. J. Langeveld, Ilmu Jiwa Perkembangan, Jemmars, Bandung, 1979, hal. 7.
[10] Depdikbud, Loc. Cit.
[11] Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Aditya Media, Yogyakarta, 1992, hal. 20.
[12] H. Rachmat Djatnika, Sistem Etika Islami, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1992, hal. 223.
[13] R. H. A. Soenarjo, Op.Cit, hal. 950.
[14] Muhammad Ali Qutb, Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam, C. V. Diponegoro, Bandung, 1993, hal. 53.
[15] Whitherington, Psikologi Pendidikan, Aksara Baru, Jakarta, 1988, hal. 109.
[16] Ibid.
[17] Achmadi, Op. Cit., hal. 91.
[18] R. H. A. Soenarjo, S. H., Op. Cit., hal. 1084.
[19] Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, Andi Offset, Yogyakarta, 1995, hal. 9.

No comments:

© Copyright YONGKIRUDI