Breaking News

Makalah

Saturday, October 14, 2017

PENELITIAN METODE PEMBELAJARAN



PENELITIAN METODE PEMBELAJARAN

DI TPQ ASH-SHIDIQI SUKOHARJO



A. PENDAHULUAN

            Keterampilan sosial dan kemampuan berbiracara merupakan hal yang paling kodrat dilakukan oleh semua orang. Begitu pula dengan keterampilan membaca Al Qur’an sejak usia dini sangatlah penting untuk diperhatikan. Ketika anak mulai masuk lembaga pendidikan Al Qur’an, pada tahap inilah belajar mengasah keterampilan membaca dan memperlancar bacaan Al Qur’an dengan baik menjadi suatu hal yang harus di tanamkan pada diri anak supaya lebih berkompeten dalam membaca Al Qur’an.

            Keberadaan TPA/TPQ merupakan penunjang bagi pendidikan agama Islam pada Lembaga-lembaga pendidikan sekolah (TK-SD-MI) untuk itu penyelenggaraannya pada siang dan sore hari di luar jam sekolah. Sesuai dengan tujuan dan targetnya, maka materi pelajaran dibedakan menjadi dua macam yaitu materi pokok dan materi tambahan. Yang dimaksud materi pokok adalah materi yang harus dikuasai benar oleh setiap peserta didik dan dijadikan tolok ukur keberhasilan peserta didik.

            Di TPQ ASH-SHIDIQI ini metode yang digunakan adalah metode Qiro'ati. Dalam metode tersebut terdapat berbagai jenis pembelajaran diantaranya: klasikal individual, berbaris dengan menggunakan komando berbahasa Arab, pemberian materi tambahan, klasikal baca simak, sorogan, dan evaluasi peraga. Pada masing-masing pembelajaran memiliki tujuan tersendiri yang tidak terdapat pada pembelajaran lain.

            Untuk membina agar anak mempunyai sifat-sifat terpuji tidak hanya dengan pembiasaan-pembiasaan melakukan hal baik, dan menjauhi larangan-Nya. Dengan kebiasaan dan latihan akan membuat anak cenderung melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk.


B.      Landasan teori

1. Jenis Pembelajaran Klasikal Individual
- Diterapkan untuk anak anak mulai usia Pra-TK
- Pengelompokan Kelas berdasarkan Jilid Qiraati yang sama
- 1 Kelas terdiri dari 10-15 siswa
- 10 - 15 Menit pertama diterapkan model klasikal, selanjutnya individual
- Membuat pedoman pengujian evaluasi belajar tahap akhir pengajaran Al-Quran (EBTAQ)
- Menyusun silabus pembelajaran untuk berbagai jenjang dan kelas
- Menentukan standar penilaian Qiraati

2. jenis pembelajaran baris perbaris
Menumbuhkan sikap jasmani yang tegap dan tangkas, rasa persatuan disiplin sehingga dengan demikian senantiasa dapat mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan individu, dan secara tak langsung juga menanamkan rasa tanggung jawab. Pembelajaran baris berbaris di sini menggunakan komando bahasa arab supaya murid lebih cenderung lebih mudah mengingat bahasa arab yang merupakan bahasa Qur’ani. Dengan begitu banyak hal positif yang bisa kita ambil dari pembelajaran baris berbaris ini.

 3. jenis pembelajaran materi tambahan
Materi tambahan yang terdiri dari beberapa materi diantaranya: suroh-suroh pendek, doa sehari-hari, fasholatan, kalimat thoyyibah, seni islami, kosa kata bahasa arab, dan hadist-hadist pendek. Pemberian materi tambahan ini berlangsung selama lima belas menit setelah baris berbaris. Adapun tujuan dari pemberian materi tambahan ini adalah supaya murid bertambah kuat ingatannya tentang bekal melakukan amaliyah yang baik dalam kehidupan sehari - hari. Misal: doa, fasholatan, dan lain sebagainya.

4. Jenis  pembelajaran  klasikal  baca  simak
Pada kondisi tertentu ada saat ketika murid menghadapi konsep bacaan yang sulit, kalimat yang kompleks dan panjang, murid mengalami kebosanan atau kelelahan sehingga hilang konsentrasi. Kondisi ini dapat diatasi dengan menggabungkan metode klasikal dan metode baca simak. Jika pada saat menerapkan metode baca simak dengan buku banyak murid yang mengalami kesulitan membaca, tersendat, dan hilang konsentrasi, maka guru segera mengambil langkah. Caranya dengan kembali memusatkan perhatian murid pada alat peraga. Tujuannya adalah untuk lebih memahamkan konsep, dan mengetahui dimana letak kesulitan yang dialami.

Penggabungan klasikal peraga dengan baca simak yaitu murid membaca kalimat, murid yang lain mendengarkan, kemudian jika ada kesalahan dikoreksi, lakukan pengulangan konsep secara singkat. Kemudian guru dan murid membaca bersama-sama kalimat tersebut. Murid kedua membaca kalimat berikutnya, murid yang lain mendengarkan, kemudian guru dan murid membaca bersama-sama kalimat tersebut, dan seterusnya sampai semua kalimat di halaman peraga terbaca.

5. jenis  pembelajaran sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog yang artinya maju. Disebut demikian karena dalam sistem sorogan ini, santri menghadap ustadz seorang demi seorang dengan membawa kitab yang telah dipelajari. Belajar face to face dengan ustadz dimana para santri menunggu giliran untuk berguru dan bertatap muka satu persatu. Pada umumnya, metode ini diberikan kepada para santri yang baru masuk dan memerlukan bimbingan secara individual.
Penerapan metode sorogan, dilakukan di pondok pesantren pada umumnya, dan mempunyai beberapa cara dalam pelaksanaanya, Ustadz membacakan dan menerjemahkan kalimat demi kalimat, kemudian menerangkan maksudnya, atau ustadz cukup menunjukkan cara membaca yang benar, tergantung materi yang diajukan dan kemampuan santri.
Dalam pelaksanaan metode sorogan secara umum terdapat dua cara, yaitu; pertama: Bagi santri pemula, mereka mendatangi ustadz yang akan membacakan kitab tertentu. Kedua: Bagi santri senior, mereka mendatangi seorang ustadz supaya sang ustadz mendengarkan sekaligus memberikan koreksi terhadap bacaan kitab mereka.
Dengan sorogan, santri diajak untuk memahami kandungan kitab secara perlahan-lahan secara detail dengan mengikuti pikiran atau konsep yang termuat dalam kitab kata perkata, inilah yang memungkinkan menguasai kandungan kitab, baik menyangkut konsep besarnya maupun konsep detailnya.
Melalui sorogan, perkembangan intelektual santri dapat dipantau ustadz secara utuh, ustadz juga dapat memberikan bimbingan dengan penuh kejiwaan, sehingga dapat memberikan tekanan pengajaran kepada santri-santri tertentu atas dasar observasi langsung terhadap tingkat kemampuan dasar dan kapasitas mereka. Dengan mengetahui observasi langsung dari ustadz, metode sorogan menuntut kesabaran dan keuletan pengajar juga mengutamakan kematangan, perhatian dan kecakapan santri dan juga disiplin yang tinggi dari seorang santri, karena metode ini membutuhkan waktu lama, yang berarti pemborosan, kurang efektif dan efisien dalam pembelajaranya.
Untuk mengefesienkan waktu, dalam menerapkan materi pembelajaran, seorang ustadz harus mengetahui metode dan materi yang hendak dicapai, yang beragam jenis dan fungsinya. agar tidak bertentangan dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Metode sorogan dianggap telah terbukti secara efektif mampu meningkatkan semangat dan kemampuan santri dalam belajar dan menguasai kitab kuning. Namun demikian, metode tersebut dianggap sulit dari keseluruhan sistem metode pendidikan islam tradisional, sebab menuntut kesabaran, ketekunan, kerajinan, ketaatan, disiplin pribadi santri dan kemandirian belajar santri.

6. jenis  pembelajaran  evaluasi  peraga
Guru mengevaluasi bacaan murid menggunakan peraga. Tujuannya adalah supaya ingatan murid menjadi lebih kuat.

C.    HASIL PENELITIAN
1.      KONDISI belajar mengajar sebelum di terapkan pembelajaran materi tambahan
Berdasarkan hasil observasi tersebut masih banyak indikator penilaian  yang belum di capai oleh murid-murid TPQ ASH-SHIDIQI . Dari observasi awal maka dapat di simpulkan bahwa keterampilan menghafal murid di TPQ ASH-SHIDIQI masih rendah. Data yang di dapat dari asesmen awal menunjukkan masih rendahnya keterampilan menghafal murid yang belum optimal.

2.      PENERAPAN pembelajaran materi tambahan DALAM       MENINGKATKAN KETERAMPILAN menghafal DAN daya ingat anak
Dari siklus pertama ini terlihat bahwa jenis kelamin mempengaruhi  perkembangan sosial dan bahasa anak, sehingga anak perempuan menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak laki-laki, anak juga dapat pertanyaan-pertanyaan dari guru seputar materi tambahan berdasarkan kelas masing-masing.  Pada skluds dua, sudah terlihat peningkatan yang berarti dalam keterampilan menghafal dan daya ingat anak, guru juga sudah dapat melaksanakan prosedur dalam  melaksanakan pemberian materi tambahan . Pada siklus tiga ini, anak-anak sudah dapat melafalkan bacaan dengan baik, meskipun ada beberapa anak yang masih lambat dalam menghafalkan. Namun hanya minoritas.

3.      PENINGKATAN pembelajaran setelah di lakukan pemberian materi tambahan     
Penerapan metode bermain peran memberikan kontribusi yang sangat besar pada keterampilan menghafal dan kelancaran hafalan terlihat dari anak-anak yang tadinya ragu dan lambat ketika menghafal sudah tidak ragu lagi untuk memastikan kelancaran hafalannya, anak sudah dapat melafalkan hafalannya dengan baik meskipun minoritas menemui kendala yang berupa kelambatan dalam menghafal.

4.      kendala yang di hadapi guru dalam menerapkan materi tambahan untuk meningkatkan kemampuan menghafal anak
Ada beberapa kendala yang dihadapi oleh guru dalam menerapkan materi tambahan untuk meningkatkan kemampuan menghafal anak, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Perbedaan karakter dalam diri anak sehingga guru harus menyesuaikan
b. Minimnya pengontrolan wali murid di rumah terhadap hafalan anak
c. Kurangnya pengetahuan guru terhadap penyesuaian karakter anak

D.    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1.      KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang “penerapan materi tambahan untuk meningkatkan keterampilan anak dalam melafalkan dan menghafalkan " di TPQ ASH-SHIDIQI disimpulkan sebagai berikut:
a.       Pembelajaran di TPQ ASH-SHIDIQI sebelum di adakannya belajar dengan pemberian materi tambahan, belum begitu optimal. Pelaksanaan pembelajaran  belum begitu terprogram dengan baik, guru melaksanakan kegiatan rutin pembelajaran  dengan metode yang kurang bervariasi. Seperti metode mencontohkan lafal, tanya jawab, strategi yang digunakan kurang begitu menarik, karena hanya dengan menyimak saja. Hal ini menyebabkan keterampilan menghafal di TPQ ASH-SHIDIQI masih kurang.
b.      Menerapkan materi tambahan sudah berhasil karena guru dan murid berpendapat bahwa materi ini sangat menarik.
c.       Menerapkan metode bermain peran dilaksanakan dengan 3 siklus, peningkatan yang cukup besar terjadi pada siklus dua dan siklus tiga . yaitu pada indikator anak dapat merespon pertanyaan, dapat mengulas kembali hafalan nya dengan lancar.
d.      Dalam penerapan metode bermain peran guru menemui beberapa kendala seperti kelambatan anak dalam memahami lafal dan menghafalkannya, minimnya kontrol dari orang tua terhadap hafalan anak, serta kurangnya pengetahuan guru terhadap penyesuaian  karakter anak.

2.      REKOMENDASI
Adapun beberapa rekomendasi yang dapat penulis sampaikan berkenaan dengan penerapan materi tambahan dalam meningkatkan keterampilan melafalkan dan menghafalkan diantaranya sebagai berikut:
a.       Niat ikhlas dan bersabar seorang pendidik harus senantiasa memiliki keikhlasan hati dan sepenuh hati dalam mengajarkan Al Qur’an karena ini sudah merupakan tanggung jawab seorang muslim untuk mengamalkan ilmunya dan hanya mengharap rida Allah SWT semata. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ; ”Sebaik-baik manusia diantara kamu adalah yang mau belajar Al Qur’an dan mau mengamalkannya”. Seorang pendidik harus menghilangkan niatan-niatan yang bersifat duniawi. Karena Allah lah  yang akan memberikan balasan bagi hamba-Nya  yang mau berjuang dijalan-Nya. Niatan yang salah meskipun hanya kecil akan menjadi penghambat bagi seseorang dalam berdakwah. Sekiranya usaha tersebut di rasa sudah maksimal maka yang terakhir di lakukan adalah bersabar. Bersabar dalam arti tidak berputus asa dengan hasil yang ada. Namun selalu melakukan evaluasi dan peningkatan mutu selanjutnya.
b.      Seorang pendidik hendaknya rajin melaksanakan sholat tahajjud. Sikap senantiasa bermunajat kepada  sang Khaliq harus ada pada setiap diri pendidik. Semua persoalan dikembalikan kepada Khaliqnya. Tak bosan-bosan untuk selalu mendoakan para santrinya dan kemudahan-kemudahan untuk menjalankan aktifitas kesehariannya. Seorang guru tidak hanya memberikan pendidikan jasmani semata, namun memiliki ghiroh untuk ; Mengajar, Mendidik, Membimbing dan Mendoakan [4 M]. Suri tauladan yang baik harus senantiasa ditampilkan di hadapan para anak didiknya.
c.       Rajin tadarus Tadarus atau baca Al Qur’an hendaknya di lakukan setiap hari dan setiap saat. Banyak waktu yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk selalu tadarus dimanapun berada. Di sekolah tadarus dapat dilakukan dengan kepala sekolah, dengan koordinator cabang, wilayah maupun pusat. Hal ini dapat membantu guru untuk lebih lancar, fasih dan mantap dalam memahami metode Qiro’ati.
d.      Menyusun strategi atau metode yang tepat untuk meningkatkan keterampilan melafalkan dan keterampilan menghafal anak.
e.       Guru harus terampil dalam menggunkan metode pembelajaran yang variatif.
f.       Memberi pengarahan kepada orang tua tentang bagaimana cara agar anak dapat dapat melatih keterampilan melafalkan dan keterampilan menghafal yang baik, dan juga memberi wawasan tentang pentingnya belajar  menghafal bagi anak-anak.
 

No comments:

© Copyright YONGKIRUDI