Breaking News

Makalah

Sunday, October 9, 2016

proposal PTK PENINGKATAN DIKSI DALAM PENYUSUNAN KALIMAT EFEKTIF DENGAN TEKNIK PENENTUAN CIRI MAKNA KATA

PROPOSAL   PENELITIAN  TINDAKAN  KELAS


PENINGKATAN DIKSI DALAM PENYUSUNAN KALIMAT EFEKTIF

DENGAN TEKNIK PENENTUAN CIRI MAKNA KATA

SISWA KELAS VI  ..........................

TAHUN PELAJARAN 2002/2003


A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan berbahasa, karena bahasa banyak memberikan fungsi atau manfaat bagi manusia. Dengan bahasa manusia dapat mengungkapkan pikiran, perasaan dan kemampuannya (cipta, rasa, dan karsa) kepada orang lain. Dengan bahasa itu pula, manusia dapat mewarisi dan mewariskan, menerima dan memberikan segala pengalamannya kepada sesamanya.
Keraf (1980:16) menjelaskan bahwa ada empat macam maksud  dan tujuan bahasa yaitu (1) praktis, (2) artistik, (3) filologis dan (4) linguistis.
Tujuan praktis berkaitan dengan tujuan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan artistik yaitu tujuan yang berkaitan dengan tujuan untuk mengekspresikan bahasa itu dengan cara seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia. Tujuan filologis yaitu tujuan untuk mempelajari naskah-naskah kuno, untuk menyelidiki latar belakang sejarah manusia, sejarah kebudayaan dan adat istiadat, serta perkembangannya itu sendiri.
Kegiatan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa dapat berlangsung secara efektif, apabila setiap pemakai bahasa itu menguasainya dengan baik. Dapat dikatakan bahwa penguasaan bahasa tiap-tiap orang menentukan komunikasi yang dilakukan. Tidak jarang kita menjumpai seseorang yang mengalami kesulitan mengemukakan pikiran, perasaan, keinginan hanya disebabkan oleh kurangnya penguasaan bahasa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa ketidaklancaran kegiatan berbahasa pada satu pihak dapat mempengaruhi pemahaman komunikasi pada pihak lain. Dengan demikian kegiatan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa akan berlangsung memadai, apabila setiap pemakai bahasa tersebut menguasai dengan baik bahasa yang mereka gunakan. Sehubungan dengan penguasaan bahasa, bahasa perlu diajarkan di setiap sekolah.
Oka (1970:62) menjelaskan pengajaran bahasa merupakan suatu proses yang mengandung proses penyerahan bahasa sasaran kepada orang yang belajar bahasa, dan proses penerimaan bahasa sasaran kepada oleh pengajar bahasa.
Pendapat ini menitikberatkan pada unsur-unsur yang berpengaruh langsung dalam proses pengajaran yaitu (1) guru sebagai pengajar, dan (2) siswa sebagai yang diajar. Hal ini berarti, untuk menciptakan keberhasilan pengajaran bahasa, proses pengajarannya harus dapat menumbuhkan interaksi aktif antara siswa dengan guru atau guru dan siswa. Proses pengajaran bahasa dapat terlaksana dengan tujuan yang diinginkan jika unsur pengajar maupun yang diajar memiliki bekal pemahaman tentang bahasa sasaran yang diinginkan.
Oka (1978:62) menjelaskan keberhasilan proses pengajar bahasa, akan sangat ditentukan oleh pemahaman orang yang mengajarkan bahasa tentang bahasa sasaran yang diajarkannya, dan juga pemahaman pelajar bahasa tentang bahasa sasaran yang dipelajari.
Samsuri (1984:41) menjelaskan hakikat pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah bertujuan mempertinggi kemahiran siswa dalam mempergunakan bahasa. Pendapat ini menekankan pada aspek keterampilan bahasa yang memandang bahwa bahasa adalah suatu kebiasaan belajar bahasa yang harus diikuti dengan latihan-latihan berbahasa. Yasir Burhan (1971:184) menjelaskan tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah kita adalah menumbuhkan penguasaan bahasa yang baik pada anak didik, baik penggunaan bahasa lisan maupun bahasa tertulis.
Dari kedua pendapat di atas terlihat bahwa Burhan meluaskan pandangannya tentang hakikat pengajaran bahasa. Bahasa memiliki suatu perangkat aturan yang menunjang penguasaan bahasa GBPP, dan realitas lapangan bagaimana secara benar dan tepat. Sehubungan dengan hakikat penguasaan bahasa di dalam kurikulum bahasa Indonesia dijelaskan bahwa pengajaran bahasa bertujuan mengembalikan pengajaran bahasa kepada fungsi komunikasi. Sebagai konsekuensi lebih dalam hakikat pengajaran bahasa Indonesia yang benar dan tepat, maka kita perlu menggunakan bahasa Indonesia dengan benar.
Langkah awal yang harus ditempuh untuk mencapai hakikat pengajaran di atas dengan mengajarkan materi pelajaran bahasa Indonesia secara sistematis sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa siswa. Di samping itu, mata pelajaran perlu disajikan sesuai dengan kenyataan berbahasa di masyarakat. Dengan cara ini dimungkinkan siswa dapat menyerap materi pelajaran sebanyak-banyaknya sekaligus dapat berlatih mengenai bahasa Indonesia khususnya kosa kata sesuai dengan prinsip penggunaan dalam berkomunikasi di masyarakat.
Sebagai langkah lanjut untuk melihat keberhasilan kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia, terutama yang berkaitan dengan pengajaran kosa kata diperlukan suatu penelitian. Dengan penelitian diharapkan dapat melihat langsung hasil belajar bahasa Indonesia, sekaligus mutu kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia, secara lebih mendalam. Dengan demikian penelitian digunakan sebagai umpan balik dalam melaksanakan pembinaan bahasa Indonesia di sekolah.
Membicarakan penguasaan bahasa tidak dapat dilepaskan dari penguasaan kosa kata. Dikatakan demikian karena penguasaan kosa kata merupakan salah satu aspek penguasaan bahasa. Dalam pemakaian bahasa, pemakai harus mampu menggunakan kosa kata bahasa yang digunakan.
Secara ekspresif, penutur harus mampu menggunakan kosa kata bahasa itu untuk menyusun kalimat-kalimatnya, sehingga penggunaan kosa kata itu berada pada satu sistem. Tanpa menguasai kosa kata yang baik, sulit bagi seseorang untuk menyusun kalimat yang akan dipakai untuk menyusun pikiran atau perasaannya. Selain itu harus mampu memilih kata yang sesuai untuk menampung konsep yang akan diungkapkan.
Dalam kegiatan berbahasa, baik lisan maupun tulis penguasaan diksi mempunyai peranan yang cukup penting. Dikatakan demikian, sebab pemakaian kosa kata yang kurang tepat dapat menimbulkan pemahaman yang tidak tepat pula. Pemilihan kata secara tepat dan cermat pada hakikatnya dimaksudkan untuk menciptakan komunikasi baik lisan maupun tulisan yang efektif. Seseorang yang tidak menguasai diksi, akan mengalami kesulitan dalam berkumunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Berdasarkan kenyataan ini dapat dikatakan bahwa penguasaan diksi pada diri seseorang, memungkinkan kegiatan berbahasa dilakukannya berlangsung secara efektif. Terbukti semakin seseorang menguasai diksi, maka akan semakin terampil seseorang menuangkan pesan melalui bahasa. Tarigan (1986:2) menjelaskan bahwa kualitas ketrampilan berbahasa seseorang sangat bergantung kepada kuantitas dan kualitas kosa kata yang dimilikinya. Semakin kaya kosa kata yang kita miliki maka semakin besar pula kemungkinan kita terampil berbahasa.
Diksi dalam berkomunikasi secara tertulis digunakan untuk menentukan keefektifan penulisan. Sering kita merasa jenuh membaca sebuah tulisan disebabkan oleh kurangnya penguasaaan diksi pada diri penulis terbukti banyaknya pengulangan kata, kurang tepatnya memilih kata. Dalam hal ini, kurangnya penguasaan diksi dapat menimbulkan efek yang menjenuhkan. Dalam kegiatan berbahasa secara lisan pun penguasaan diksi dapat mempengaruhi kelancaran komunikasi seseorang dalam mengemukakan suatu maksud pembicara. Hal ini tampak ketika seseorang mengalami kesulitan memilih kata-kata yang tepat dalam waktu yang relatif singkat untuk mengungkapkan suatu maksud. Agar seseorang dapat berkomunikasi dengan baik perlu sekali menguasai diksi. Penguasaan diksi yang baik akan menciptakan keefektifan kegiatan berbahasa.
Penguasaan diksi juga digunakan untuk menciptakan adanya variasi dalam pemakaian kosa kata. Dengan diksi yang bervariasi menjadikan kalimat lebih efektif. Selanjutnya untuk menyusun kalimat efektif perlu diperhatikan adanya prinsip ketepatan, kesamaan, kelaziman kata-kata yang digunakan. Ketiga prinsip ini merupakan bagian dasar keefektifan sebuah kalimat.
Bagaimanapun indahnya sebuah kata tidak akan komunikatif apabila tidak digunakan menurut prinsip yang berlaku. Hal ini menunjukkan kebermaknaan sebuah kata dalam kalimat efektif ditentukan prinsip tersebut.
Mengingat pentingnya diksi dalam kegiatan berkomunikasi tersebut, maka pada setiap lembaga pendidikan formal perlu diajarkan kosa kata. Pengajaran kosa kata dari tingkat bawah sampai tingkat atas pasti diajarkan, dan semua diterangkan dalam GBPP 1994 dan suplemennya 1999.
Tujuan sasaran penguasaan kosa kata yang dituangkan dalam GBPP dimaksudkan untuk menunjang penguasaan bahan pada diri siswa. Penguasaan diksi sebagai bagian dari penguasaan kosa kata dan penguasaan bahasa pada umumnya merupakan unsur yang mendasar. Karena itu diksi sebagai bagian dari pengajaran kosa kata dan penguasaan bahasa, maka perlu diperhatikan.
Keraf (1980:8) mengemukakan bahwa pengajaran kosa kata merupakan kemampuan membedakan bermacam-macam nuansa makna. Misalnya : makna leksikal – gramatikal, makna denotasi – konotasi dari setiap kata bersinonim, berantonim, berhiponim dalam setiap penyusunan kalimat efektif.
Berdasarkan uraian di atas, penulis akan melihat bagaimana penguasaan diksi siswa setelah melalui teknik penentuan ciri makna. Selama ini yang penulis amati, penguasaan diksi para siswa masih kurang. Dari latar belakang sosial yang berbeda, suku yang beragam, menjadikan mereka dalam menyusun kalimat juga bervariasi.

B. Masalah
Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut di atas, maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut.
1.   Bagaimana peningkatan kemampuan diksi dalam penyusunan kalimat efektif dengan teknik penentuan ciri makna kata.
2. Bagaimana perubahan tingkah laku siswa sesudah diadakan pembelajaran dengan teknik penentuan ciri makna kata.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. untuk mendiskripsikan peningkatan kemampuan diksi siswa dalam penyusunan kalimat efektif dengan teknik penentuan ciri makna kata.
2. untuk mendiskripsikan perubahan tingkah laku siswa dalam penyusunan kalimat efektif dengan teknik penentuan ciri makna kata.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoretis
Untuk mengembangkan pembelajaran kosa kata, karena teknik penentuan ciri makna kata dimaksudkan untuk lebih meningkatkan kemampuan siswa dalam penyusunan kalimat efektif.
2. Manfaat praktis
a.   Memberikan sumbangan pemikiran kepada guru tentang pembelajaran kosa kata terutama dalam penyusunan kalimat efektif, dengan teknik penentuan ciri makna kata.
b. Memberikan sumbangan kepada siswa yang bermasalah terutama dalam penyusunan kalimat efektif dengan diksi yang tepat.

E. Kerangka Teoretis 
1. Hakikat Kalimat Efektif
Razak (1985:2)  menyatakan bahwa konsep kalimat efektif erat kaitannya dengan fungsi kalimat selaku komunikasi. Dalam hubungan ini, setiap kalimat terlibat dalam proses penyampaian dan penerimaan. Apa yang disampaikan dan apa yang diterima itu mungkin berupa ide, gagasan, kesan, pengertian atau informasi. Kalimat efektif dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung secara sempurna. Kalimat yang efektif mampu membuat isi dan maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran di penerima (pembaca), persis seperti yang disampaikan.
Sehubungan dengan hal itu dikatakan pula bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pesan kepada pembaca tentang apa yang dimaksud penulis. Dengan kata lain kalimat efektif adalah kalimat yang sanggup menyampaikan pesan penulis kepada pembaca. Pendapat ini menghendaki adanya kesamaan maksud yang terkandung dalam suatu kalimat, baik bagi pembaca maupun bagi penulis sendiri.
Keraf (1980:35) mengatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang dirasakan hidup, segar mudah ditangkap dan mudah dimengerti. Dijelaskan pula bahwa kalimat efektif memiliki kemampuan atau tenaga untuk dapat menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca, identik dengan apa yang dirasakan atau dipikirkan pembicara atau penulis. Dalam hal ini Keraaf lebih menitikberatkan kalimat efektif pada kemampuan menimbulkan gagasan yang dimiliki pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, pembaca atau pendengar diharapkan dapat memberikan respon secara tepat terhadap apa yang telah dikatakan penulis atau pembaca. Apabila pembaca atau pendengar dapat memberikan respon secara tepat terhadap apa yang dikatakan penulis atau pembicara adalah kalimat efektif.
Parera (1984:3) mengartikan kalimat efektif adalah kalimat atau bentuk kalimat yang dengan sadar dan sengaja disusun untuk mencapai daya informasi yang tepat dan baik. Dalam pengertian ini, Parera menitikberatkan pada unsur kesadaran dan kesengajaan untuk menciptakan ketetapan informasi yang disampaikan penutup kepada orang lain. Dengan kata lain, jika informasi yang disampaikan tersebut terdapat respon yang kurang tepat, maka kalimat yang digunakan tidak efektif.
Samsuri (1987:118) mengartikan kalimat efektif adalah kalimat yang dapat dipahami dengan mudah dan tepat oleh pembaca. Ditegaskan pula bahwa kalimat efektif harus menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau penutup. Hal ini berarti kalimat efektif harus disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penutur belakang pembacanya.
Pendapat Samsuri ini tentang kalimat efektif tidak jauh dengan yang dikemukakan Parera. Samsuri juga menitikberatkan pada unsur kesadaran penutup atau penulis dalam menyusun kalimat efektif. Hal ini dimaksudkan agar gagasan atau buah pikiran yang disampaikan penulis atau penutur diterima dengan mudah dan tepat oleh pembaca atau pendengar.
Kalimat efektif tidak pernah menimbulkan kebosanan dan kekacauan gagasan yang dimiliki pembaca. Kalimat yang efektif tidak pernah menimbulkan makna ganda yang pada akhirnya dapat membingungkan pembaca atau pendengarnya. Kalimat efektif memang harus tegas dalam memberikan penekanan terhadap sesuatu yang dipentingkan.
Soedjito (1988:2) menyatakan bahwa kalimat dapat dikatakan efektif jika telah memenuhi kaidah gramatikal atau tatabahasa, menggunakan atau memakia kata yang tepat, seksama, dan lazim. Selain itu, penggunaan sinonim, kata-kata yang bernilai rasa, homonim, antonim, juga perlu diperhatikan dalam penyusunan kalimat efektif, sebagai hal yang dapat menunjang efektifitas kalimat, sehingga dapat menghasilkan ketepatan informasi.
Badudu  (1981:129)  mengemukakan  bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki struktur yang teratur, penggunaan makna yang tepat, hubungan logis antar bagiannya, dan penggunaan tanda baca yang benar (dalam bahasa tulis). Lebih lanjut diuraikan bahwa pilihan kata yang tepat membuat kalimat lebih menarik sehingga penerima pesan lebih puas. Selain itu penggunaan tanda baca yang tepat sangat mendukung pemahaman terhadap bahasa tulis.
Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu tergambar dengan jelas, lengkap dalam pikiran si penerima. Kata-kata yang digunakan harus membentuk satu kebulatan yang berfungsi, mengenai sasarannya sehingga komunikatif.
Arifin (1987:114) menyatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan dan pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembaca dan penulis lebih lanjut dinyatakan bahwa kalimat efektif lebih mengutamakan keefektifan kalimat itu, sehingga kejelasan kalimat lebih terjamin.
Dari berbagai pendapat mengenai pengertian kalimat efektif seperti yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kalimat efektif ialah kalimat yang disusun berdasarkan kaidah-kaidah kebahasan dan ketepatan pilihan kata, mampu menyampaikan gagasan secara tepat kepada pembaca, sehingga pembaca atau pendengar memahami maksud yang terkandung dalam kalimat secara lengkap sesuai dengan apa yang dimaksudkan penulis atau pembicara.

2. Ciri-ciri Kalimat Efektif
Parera (1984:22) memberikan ciri-ciri kalimat efektif sebagai kalimat yang mampu membuat pembaca mengerti dengan baik dan tepat, tentang pesan berita, dan amanat yang hendak disampaikan sebagai ciri pertama. Sebagai ciri kedua, kalimat yang membuat pendengar atau pembaca merasa tergerak oleh pesan, berita dan amanat itu. Ciri yang ketiga, kalimat yang membauat pendengar atau pembaca mengetahui serta tergerak oleh pesan, berita dan amanat itu.
Badudu (1981:150) menjelaskan bahwa ciri-ciri kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menimbulkan atau kalimat yang dapat menumbuhkan kesan yang sama tentang maksud yang terkandung, baik bagi penyampai atau penulis maupun bagi penerima atau pembaca. Lebih lanjut Badudu juga menjelaskan bahwa ciri-ciri kalimat efektif adalah mampu menumbuhkan pemahaman yang baik antara penyampai dan penerima tentang pesan yang terkandung di dalamnya.
Abdul Razak (1985:9) mengemukakan bahwa kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki ciri-ciri (1) keutuhan, (2) keterpautan, (3) pemusatan perhatian, dan (4) keringkasan. Ciri keutuhan akan nyata jika tiap kata dalam kalimat yang baik betul-betul merupakan bagian yang terpadu dari seluruh kalimat. Keutuhan kalimat dapat dirusak oleh ketiadaan subjek atau oleh adanya kerancuan. Ciri perpautan berkenaan dengan tata hubungan antara unsur-unsur kalimat. Hubungan itu harus logis dan jelas bagi pembaca atau pendengar. Ciri pemusatan perhatian dapat dicapai dengan menempatkan bagian yang terpenting dalam kalimat. Ciri keringkasan akan tampak jika ada penghematan dalam pemakaian kata, sehingga kata yang tidak perlu, yang merupakan pemborosan kata harus dibuang.
Keraf (1980:36) mengemukakan bahwa ciri kalimat efektif ialah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis, dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dengan pikiran pendengar atau pembaca yang dipikirkan oleh penulisnya atau pembacanya.
Dari beberapa simpulan tentang ciri-ciri kalimat efektif di atas, terlihat jelas bahwa pendapat yang satu dengan yang lainnya tidak jauh berbeda, bahkan dapat dikatakan sejalan dengan pengungkapan pernyataan yang mengarah pada ciri-ciri kalimat efektif.
Uraian yanag telah dipaparkan di atas, merupakan ciri-ciri secara umum yang dimiliki kalimat efektif. Di samping itu ditemui juga ciri-ciri lain yang lebih terinci, yang dimiliki oleh kalimat efektif. Ciri lain yang sangat menentukan ada dan tidaknya ciri-ciri umum yang harus terkandung dalam kalimat efektif. Ciri-ciri lain tersebut sebagai syarat-syarat kalimat efektif.

3. Syarat-Syarat Kalimat Efektif
Sebuah kalimat yang telah memenuhi syarat gramatikal mungkin belum efektif. Keefektifan kalimat menuntut lebih dari syarat-syarat gramatikal dan kelaziman kalimat dalam pemakaian bahasa. Parera (1984:2) menjelaskan kalimat efektif tidak saja menyampaikan berita dan amanat sederhana, melainkan kalimat itupun merakit peristiwa gagasan ke dalam bentuk yang lebih kompleks dan satuan yang lebih utuh .
Lebih lanjut Parera (1984:3) mengemukakan bahwa kalimat efektif didukung oleh (1) kesepadanan antara struktur bahasa atau jalan pikiran yang logis atau masuk akal, (2) keparalelan atau paralelisme bentuk bahasa yang dipakai untuk tujuan keefektifan tertentu, (3) ketegasan dalam menumbuhkan pikiran utama, (4) kehematan dalam pilihan kata atau penyusunan pikiran yang kadang kala bertumpuk-tumpuk dalam satu kalimat, dan (5) kevariasian dalam penyusunan kalimat, seperti antara kalimat panjang dan pendek.
Arifin, dan Tasai (1987:87) mengatakan bahwa kalimat efektif memiliki ciri-ciri khas kesepadanan struktur, keparalelan, penekanan, kehematan, kepaduan, dan kelogisan. Soedjito (1988:36) menjelaskan bahwa syarat-syarat kalimat efektif tidak hanya ditentukan oleh penugasan kaidah-kaidah diksi yang tepat dan jalan pikiran yang logis tetapi lebih luas lagi bahwa kalimat efektif harus memenuhi persyaratan (1) kepaduan, (2) kemantapan, (3) kehematan, dan (4) kevariasian.
Keraf (1988:36) mengatakan bahwa syarat-syarat kalimat efektif meliputi kesatuan gagasan, koherensi yang kompak, penekanan, variasi, paralelisme, dan penalaran. Syarat-syarat kalimat efektif meliputi empat kualitas, yaitu (1) unity (kesatuan), (2) economy (kehematan), (3) emphasis (penekanan), dan (4) variety (kevariasian). Pendapat ini mengatakan unsur-unsur yang secara umum dikatakan sebagai syarat-syarat kalimat efektif sebagai kualitas yang harus dikandung oleh sebuah kalimat efektif.
Keraf (1980:647) mengatakan bahwa dalam penyusunan kalimat efektif perlu memperhatikan (1) adanya kesatuan pikiran (unity), yaitu bahwa dalam kalimat hanya terdapat satu ide pokok, (2) adanya kesatuan susunan (coherence), yaitu adanya hubungan yang jelas antara unsur-unsur yang membentuk kalimat, (3) adanya penekanan (emphasisi) terhadap inti ide kalimat, (4) adanya variasi dalam pikiran kata dan struktur kalimat, dan (5) adanya tarif (definition) dari istilah-istilah yang dipakai.
Akhdiah (1988:116) menyatakan, agar kalimat yang ditulis dapat memberikan informasi kepada pembaca secara tepat seperti apa yang diharapkan penulis, perlu diperhatikan beberapa hal yang merupakan syarat kalimat efektif yang meliputi (1) kesepadanan dan kesatuan, (2) kesejajaran bentuk, (3) penekanan, (4) kehematan dalam menggunakan kata, dan (5) kevariasian dalam struktur kalimat.
Arifin dan Tasai (1987:114) berpendapat bahwa kalimat efektif memiliki syarat (1) kesepadanan struktur, (2) keparalelan, (3) penekanan, (4) kehematan, (5) kecermatan, dan (6) kepaduan dan kelogisan.
Kalimat efektif mempunyai syarat-syarat keutuhan, keterpautan, pemusatan dan keringkasan. Keutuhan kalimat berhubungan dengan ketertiban logika dan kebulatan. Struktur (struktur yang benar); pertautan berhubungan dengan interaksi antara bagian-bagian kalimat; pemusatan mengacu pada fokus pembicaraan; dan keringkasan mengacu pada pemakaian kata secara hemat; tidak ada pemborosan
Syarat-syarat kalimat efektif (1) sesuai dengan struktur dan kaidah bahasa Indonesia, bukan struktur dan kaidah bahasa daerah atau bahasa asing; (2) menggunakan kata-kata yang tepat dan fungsional, tidak ada pemborosan; (3) ada ketertiban logika dan tidak terganggu oleh kerancuan sehingga komunikatif; dan (4) menggunakan kata-kata atau ragam bahasa yang proposional.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa syarat kalimat efektif secara luas meliputi (a) kelogisan, (b) kesatuan gagasan, (c) kepaduan, (d) ketidakrancuan, (e) keparalelan.

4. Diksi
Arifin dan Tasai (1987:150) menyatakan bahwa diksi ialah pilihan kata. Maksudnya kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Selanjutnya dikatakan bahwa diksi yang baik adalah pilihan kata-kata yang efektif dan layak dalam arti, baik persesuaiannya dengan suatu subjek, pendengar maupun suatu keadaan atau kejadian. Pilihan kata yang layak, penting sekali dalam semua tipe komunikasi.
Keraf (1980:24) mengemukakan diksi ialah (a) kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat, (b) kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi nilai rasa yang dimiliki kelompok mesyarakat pendengar (c) pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat ditegaskan bahwa diksi mempunyai pengertian yang menyangkut dua masalah pokok, yaitu (1) penggunaan kata-kata yang tepat pada kaidah kebahasaan, dan (2) penggunaan kata-kata yang sesuai dengan kaidah pemakaiannya di masyarakat. Kedua masalah pokok tersebut saling berkaitan, sehingga terwujud komunikasi baik lisan maupun tulis yang efektif. Dalam hal ini diksi digolongkan menjadi (a) kata bermakna denotasi, (b) kata bermakna konotasi, (c) kata bersinonim.

5. Diksi dalam Kalimat Efektif
Dalam kegiatan penyusunan kalimat efektif, diksi mempunyai peranan yang utama. Dalam hal ini, efektif atau tidaknya pemakaian kata sangat menentukan efektif atau tidaknya kalimat yang disususn. Jadi, hasil dari kegiatan pemilihan kata sangat mempengaruhi wujud kalimat yang ditampilkannya.
Razak (1985:84) menjelaskan bahwa faktor pemilihan kata ikut menentukan tenaga sebuah kalimat. Pemilihan kata yang tepat dapat membuka “selera” pembaca. Dalam sebuah kalimat, setiap kata merupakan wakil dari pengertian. Acapkali terjadi, sebuah kata menimbulkan gambaran lain kepada pembaca (berbeda dengan yang dimaksud pemakaian kata itu). Gambaran yang berbeda itu akan memberikan efek tertentu kepada pembaca. Sehingga gambaran yang ditimbulkan kabur, maka kabur pulalah arti kalimat itu.
Parera (1984:2) mengatakan bahwa kehematan dalam pilihan kata turut mempengaruhi keefektifan sebuah kalimat. Keraf (1980:64) menjelaskan adanya kevariasian dalam pilihan kata dan struktur kalimat menentukan keefektifan kalimat yang ditampilkan
Diksi yang efektif dapat disajikan dengan memperhatikan prinsip-prinsip tertentu. Prinsip-prinsip penerapan diksi yang efektif adalah dengan jalan menggunakan kata-kata tertentu secara (a) tepat, (b) seksama, (c) lazim. Diksi dikatakan tepat jika kata-kata yang dipilihnya tepat pada arti dan tempatnya. Diksi dikatakan seksama jika kata-kata yang dipilihnya serasi benar dengan maksud yang ingin diungkapkannya.

6. Teknik Penentuan Ciri Makna
Pengertian teknik, sebenarnya adalah cara-cara dan alat-alat yang digunakan guru dalam kelas. Dengan demikian teknik adalah daya upaya, usaha-usaha, atau cara-cara yang digunakan guru untuk mencapai tujuan langsung dalam pelaksanaan pengajaran di kelas pada waktu itu. Teknik dan metode biasanya diartikan sebagai istilah yang sama.
Abdul Chaer (1995:59) menjelaskan bahwa teknik penentuan ciri makna disini adalah teknik tentang bagaimana cara menentukan makna dalam kalimat.
a. Berdasarkan jenis semantiknya :
1)   Makna leksikal adalah makna yang bersifat leksikon, leksem atau bersifat kata.
Contoh : 1. Tanaman padinya habis dimakan tikus
 2. Tikus di gudang beras itu berkepala hitam
Pada kalimat 1, kata tikus menunjuk pada  nama binatang, arti sebenarnya. Adapun kalimat kedua kata tikus bermakna bukan binatang, melainkan kepada seorang manusia, yang perbuatannya seperti tikus. Sehingga pada kalimat 1 makna yang ada adalah makna leksikal, sedangkan pada kalimat kedua kata tikus bukanlah makna leksikal.
2)   Makna gramatikal ini adalah makna ynag hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, reduplikasi dan komposisi.
Contoh : Proses afiksaasi awalan ber pada kata sepeda dalam kalimat : Adikku bersepeda ke sekolah bermakna mengendarai / naik.
b. Berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata / leksem dapat dibedakan adanya :
1) Makna dari kata yang dianggap mempunyai referan.
Contoh :  kata-kata seperti meja, kursi, almari mempunyai makna referen, karena kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sejenis perabot tumah tangga.
2)   Makna dari kata yang dianggap tidak mempunyai referen
Contoh      :konjungsi,preposisibermakna, nonreferen-sial.
Jadi kata-kata seperti : karena, tetapi, di, dari, termasuk kata-kata nonreferensial.
c.   Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata dibedakan :
Makna denotatif dan makna konotatif. Disebut juga makna konseptual atau makna kognitif, karena makna denotatif ini lazim diberi penjelasaan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi pancaindera kita/seperti makna referensial. Sedaangkan makna konotatif apabila kata-kata itu mempunyai nilai rasa, baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa berarti tidak memiliki konotasi.
Contohnya : kata bini dan istrigadis dan perawan, wanita dan perempuan.
Kata-kata tersebut mempunyai makna denotasi yang sama, tetapi nilai rasanya berbeda bini  nilai rasanya negatif, tetapi istri maknanya netral. Begitu juga dengan kata gadis bermakna netral , perawan  nilai rasanya rendah. Demikian juga dengan kata wanita dan perempuan, wanita berkonotasi tinggi, sedangkan perempuan berkonotasi rendah.
d. Berdasarkan ketepatan maknanya dikenal :
1) Makna kata merupakan makna kata secara umum. Biasanya makna ini tidak digunakan secara cermat.
Contohnya : mati sama maknanya wafat, gugur, berpulang, tewas
Makna kata-kata itu akan jelas, bila dipakai dalam konteks kalimat.
2) Makna Istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Jadi, tanpa konteks kalimatpun makna istilah itu sudah pasti.
Contoh:  istilah bidang perfilman artis, sutradara, scenario dan sebagainya.
Istilah-istilah tersebut tidak mungkin digunakan dalam istilah persuratkabaran, meskipun kata-kata tersebut lepas.
Abdul Chaer (1995:110) analisis kata yang banyak digunakan adalah analisis biner. Analisis biner ini dapat digunakan untuk mencari perbedaan semantik kata-kata yang bersinonim. Umpamanya kata-kata kandang, pondok, rumah, istana, keraton, dan wisma. Keenam kata itu dapat dianggap bersinonim dengan makna dasar atau makna denotatif  “tempat tinggal” atau “tempat kediaman”.
Contoh-contoh lain seperti kata-kata di atas masih banyak, hanya persoalannya tidak semuanya bisa dianalisis dengan cara analisis biner.
Dengan menggunakan teknik penentuan ciri makna seperti tersebut di atas, akan membuat minat siswa terhadap analisis komponen makna kata menjadi meningkat.
Dari pengalaman peneliti selama ini, langkah-langkah yang akan digunakan dalam melaksanakan pengajaran pemahaman diksi dalam penyusunan kalimat efektif adalah sebagai berikut : (a) guru menetapkan wacana yang sesuai dengan kemampuan siswa (b) guru menjelaskan kata-kata atau istilah sesuai dengan wacana (c) guru memberikan waktu untuk mengerjakan tugas (d) guru melaksanakan tes formatif dengan materi yang sesuai.
Makna kata yang sudah penulis uraikan di atas, menunjukkan bahwa makna kata itu ada dan digunakan dalam kalimat sesuai dengan konteks kalimatnya, dan digunakan untuk mencari makna kata sesuai dengan kriteria yang dimaksud. Dengan demikian teknik penentuan ciri makna akan digunakan, dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa siswa dalam memahami makna suatu kata akan lebih meningkat.
Dari pengalaman peneliti selama ini dan berdasarkan satuan pembelajaran, langkah-langkah yang akan digunakan dalam melaksanakan pengajaran pemahaman diksi dalam penyusunan kalimat efektif adalah sebagai berikut : (a) guru menetapkan wacana sesuai dengan kemampuan siswa (b) guru menjelaskan kata-kata atau istilah sesuai dengan wacana (c) guru memberikan waktu untuk mengerjakan tugas (d) guru melaksanakan tes formatif dengan materi yang diberikan guru.
F. Hipotesis
Dengan mengacu teori di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Ada peningkatan kemampuan diksi dalam penyusunan kalimat efektif dengan teknik penentuan ciri makna pada siswa kelas VI .......................... tahun pelajaran 2002/2003.

G. Rancangan Penelitian Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian dalam skipsi ini, yaitu kemampuan meningkatkan diksi dalam penyusunan kalimat efektif siswa kelas VI .......................... tahun pelajaran 2002/2003.
Peneliti mengambil siswa kelas VI dengan alasan sebagai berikut.
a. Para siswa kelas VI  di dalam membuat kalimat efektif mempunyai penguasaan diksi yang masih rendah.
b.   Materi pelajaran-pelajaran diksi termasuk materi kosa kata tercantum di GBPP dan suplemennya tahun 1999.
c.   Latar belakang sosial budaya yang  berbeda, menyebabkan penguasaan diksi mereka berbeda.

2. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini ada dua, yaitu peningkatan kemampuan diksi dalam penyusunan kalimat efektif, dan teknik penentuan ciri makna kata.


a. Kemampuan penguasaan diksi dalam penyusunan kalimat efektif
Aspek-aspek yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah : (1) aspek membedakan pilihan kata baku dan nonbaku, (2) aspek kemampuan membedakan pilihan kata bermakna denotasi dan konotasi (3) aspek kemampuan membedakan antara kata umum dengan kata khusus, dan (4) aspek kemampuan memilih kata bersinonim dalam menyusun kalimat efektif.
Untuk mengukur setiap aspek kemampuan tersebut diperlukan alat pengukur, yaitu dengan menggunakan tes.
b. Teknik penentuan ciri makna
Dalam pembelajaran ini yang dimaksud dengan teknik penentuan ciri makna kata adalah cara untuk menentukan makna, ciri-ciri semantik sesuai dengan kata yang dimaksud. Kesesuaian ciri ini berlaku bukan hanya pada unsur leksikal, tetapi bisa juga pada unsur gramatikal. Ciri makna ini harus sesuai dengan konteks kalimatnya. Misalnya : siswa diminta untuk menggolongkan atau memberi tanda pada kata-kata yang sesuai dengan ciri makna dan konteks kalimatnya.

3. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Pelaksanaan tindakan kelas dilaksanakan dua siklus selama dua bulan. Pada setiap siklus terdiri atas empat tahapan, yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi,.
Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk bagian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan siswa dalam melaksanakan tugas.
Setelah dilakukan refleksi yang meliputi analisis dan penilaian terhadap proses tindakan tadi, biasanya muncul permasalahan atau pemikiran baru yang perlu mendapat perhatian, sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, serta dilakukan refleksi ulang.
Siklus I ini sekaligus dipakai sebagai refleksi untuk melakukan siklus 2. Sedangkan siklus 2 bertujuan untuk mengetahui peningkatan siswa dalam kemampuannya mencari makna kata yang ditemukan baik makna denotasi, konotasi, sinonim kata, dan membedakan makna kata satu dengan lainnya, kemudian membuatnya dalam kalimat efektif. Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar yang didasarkan pada siklus 1.
a. Siklus 1 pada penelitian ini dilakukan empat tahap, meliputi.
1) Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini peneliti membuat satuan pelajaran, memberikan topik, kemudian peneliti menyuruh membaca cerita dan mencari kata-kata sukar yang ada dalam wacana tersebut. Peneliti menuliskan di papan tulis dan siswa disuruh mencari maknanya. Beberapa siswa ditunjuk untuk membuatnya menjadi kalimat efektif. Peneliti memberikan penjelasan tentang diksi dalam penyusunan kalimat efektif, termasuk makna kata yang ada pada tiap-tiap kata yang muncul. Makna kata yang muncul itu bisa berbentuk sinonim, antonim, homonim, makna konotasi, denotasi, hipernim dan hiponim. Waktu yang digunakan selama dua jam pelajaran, pada akhir pelajaran siswa diberi tes.
2) Tindakan
Tindakan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan. Pada waktu proses belajar mengajar berlangsung, terlebih dahulu guru memberikan penjelasan tentang kosa kata yang berkaitan dengan penyusunan kalimat efektif. Makna kata yang ada pada setiap kata bisa berbentuk sinonim, antonim, homonim, makna konotasi, denotasi, hipernim dan hiponim. Selanjutnya siswa disuruh membedakan makna kata satu dengan kata yang lain, kemudian membuatnya dalam kalimat. Siswa yang belum yang belum menguasai pembelajaran ini diberi kesempatan untuk bertanya kepada temannya atau kepada guru. Pada akhir pembelajaran siklus 1 ini dilaksanakan tes, yang berbentuk objektif tes dan tes uraian untuk membuat kalimat.
3) Observasi atau pengamatan
Selama mengikuti kegiatan belajar mengajar kosa kata ini, semua aktivitas siswa dicatat seperti bagaimana siswa mengartikan kata-kata yang terdapat pada wacana, merupakan kata-kata yang sudah ditentukan peneliti. Demikian juga penyusunan kalimat efektif yang dibuat siswa. Para siswa yang tidak merespon kegiatan pembelajaran ini pun, menjadi catatan peneliti.

4) Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti melihat hasil perencanaan tindakan dan pengamatan. Atas dasar pengamatan pembelajaran kosa kata, yaitu diksi dalam penyusunan kalimat efektif dengan teknik penentuan ciri makna kata yang berlangsung akan dikaji secara serius perubahan yang terjadi dan mencari solusi untuk memecahkan kesukaran atas masalah yang timbul. Pada siklus 1 diperkirakan terdapat banyak kesukaran atas masalah yang timbul. Kesalahan itu terutama adalah membedakan makna kata yang ada, penyusun kalimat dengan kata yang maknanya hampir sama atau sama, misalnya menyusun kalimat dengan kata-kata seperti : kecil, mungil, kerdil, cebol, permai, indah, cantik, molek, tampan, dan lain-lain. Peneliti mengulangi kegiatan pembelajaran ini pada siklus 2 sebagai perbaikan dari siklus 1, dengan adanya siklus 2 diharapkan sudah mendapat gambaran bahwa teknis penentuan ciri makna kata dapat diupayakan untuk meningkatkan pembelajaran ini.
b. Proses Tindakan Siklus 2
Pada siklus 2 ini dilaksanakan empat tahap, yaitu:
1)  Revisi Perencanaan
Sebagai tindak lanjut proses siklus 1 diadakan kegiatan ulang. Pada tahap revisi perencanaan ini disiapkan satuan pelajaran. Isi satuan pelajaran sama seperti pada siklus 1. Ada perubahan tindakan yang direncanakan demi tercapainya tujuan penelitian ini. Perubahan-perubahan itu terutama pada tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus 2 yaitu adanya kebebasan di dalam menyusun kalimat. Siswa diperbolehkan membuka kamus dan mencari makna kata dari kata-kata yang ada dalam bacaan, kemudian kata-kata yang sudah diketahui maknanya itu dibuat dalam kalimat. Pada siklus 2 ini siswa diharapkan dapat menyusun kata-kata itu dalam kalimat, kemudian merangkainya menjadi karangan. Hal ini dimaksudkan dengan menentukan ciri makna kata diksi yang digunakan atau ditemukan siswa bertambah.
2) Tindakan
Tindakan yang dilakukan pada siklus 2 ini tidak sama dengan siklus 1. Ada beberapa perubahan tindakan. Jika pada siklus 1 siswa disuruh mencari sendiri kata-kata sukar dalam wacana, kemudian mencari maknanya. Setelah diketahui maknanya siswa menyusunnya menjadi kalimat efektif. Kegiatan pada siklus 1 ini siswa yang berkemampuan tinggi, akan cepat sekali menyelesaikan tugasnya. Akan tetapi pada siswa yang berkemampuan rendah akan sulit mengerjakannya.
Oleh karena itu pada siklus 2 ini siswa diperbolehkan membuka kamus, kemudian siswa yang berkemampuan rendah disuruh menuliskan kalimatnya di papan tulis, sehingga teman-temannya dapat ikut membetulkan bila terjadi kesalahan. Setelah itu para siswa membuat karangan singkat dengan tajuk yang ditentukan oleh guru. Hal ini dimaksudkan supaya keterampilan siswa dalam menentukan makna kata bertambah, kosa kata yang dipilih dalam membuat kalimat juga bervariasi, sehingga kemampuan diksi dalam menyusun kalimat efektif akan semakin meningkat.
3) Observasi atau pengamatan
Pada pelaksanaan observasi selama kegiatan belajar mengajar kosa kata, mencatat semua aktivitas siswa dalam mengartikan kata-kata dan penyusunan kalimat efektif yang terdapat pada wacana yang sudah ditentukan peneliti. Para siswa yang tidak merespon kegiatan pembelajaran menjadi catatan peneliti tersendiri.
4) Refleksi
Setelah diadakan tindakan, maka akan ada perubahan. Siswa yang semula mendapat nilai rendah, dengan semakin banyaknya kosa kata yang ditemukan dan mengerti makna dari kata-kata tersebut siswa akan semakin rajin membuat kalimat.
Siswa akan lebih terampil membuat kalimat karena sudah melalui beberapa kali latihan. Dengan adanya perubahan tindakan ini menunjukkan bahwa tujuan penelitian ini tercapai.

4. Alat Pengumpul Data
a. Bentuk Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data dalam penelitian ini berupa tes dan nontes. Alat pengumpul data yang berupa tes berbentuk objektif dan mengarang. Sedangkan alat pengumpul data nontes berbentuk wawancara, observasi dan jurnal.
Adapun aspek yang dinilai meliputi kata bermakna denotasi, kata bermakna konotasi, pilihan kata yang tepat, penyusunan kalimat efektif dengan tepat, variasi kata dalam kalimat.
b. Kriteria Penilaian
Kriteria penilaian aspek kebahasaan tersebut secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut.
Tabel 1. Skor Penilaian Tes

No.
Kategori
Nilai
1
2
3
4
Sempurna
Baik
Cukup
Kurang
90 – 100
7,10 – 8,99
6,10 – 7,00
£ 6

Sedangkan alat pengumpul data non tes berupa :
1) Lembar Wawancara
Kegiatan wawancara dilakukan dengan tujuan memperoleh data yang akurat tentang pembelajaran diksi dalam penyusunan kalimat efektif. Peneliti mencari keterangan dari siswa secara langsung mengenai minat siswa terhadap pembelajaran ini. Wawancara dilakukan dengan tidak dipersiapkan lembar pertanyaan, tetapi hanya dipersiapkan pedoman wawancara saja.
Wawancara dilakukan kepada dua siswa peringkat atas, dua siswa peringkat sedang dan dua siswa peringkat bawah. Pertanyaannya secara garis besarnya sama, hanya dilakukan dengan santai, sehingga terkesan mereka tidak diwawancarai. Pelaksanaannya pada jam-jam istirahat.
2) Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Objek pengamatan adalah seluruh siswa yang menjadi subjek penelitian. Peneliti mengamati aktivitas siswa dalam mencari makna dalam kata, kemudian membuatnya menjadi kalimat efektif.
Adapun faktor-faktor yang diamati adalah aspek kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi hal-hal : makna kata, pilihan kata, kalimat efektif dan variasi kata dalam kalimat. Sedangkan faktor nonkebahasaan meliputi faktor tingkah laku, keaktifan siswa, keberanian dalam membuat kalimat. Observasi dilakukan dua kali yaitu pada saat tes awal dan terakhir.
3) Jurnal
Jurnal yaitu bentuk catatan yang digunakan untuk mengetahui perubahan yang terjadi baik dari siswa ataupun kejadian-kejadian yang menonjol selama penelitian. Peneliti membuat jurnal sebagai umpan balik untuk mengetahui tingkat keberhasilan teknik yang digunakan.

5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data ada dua macam yaitu teknik tes dan nontes.
a. Tenik tes
Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan tes. Tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada tes awal dan tes akhir dengan materi tes yang mengarah pada aspek pengetahuan, ketrampilan membuat kalimat dengan diksi yang tepat.
Hasil tes penelitian setelah dianalisis untuk mengetahui kelemahan siswa, selanjutnya sebagai dasar untuk melakukan siklus serikutnya.
b. Teknik nontes
Teknik pengumpulan data nontes dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data tentang situasi kegiatan belajar mengajar kosa kata. Teknik nontes yang digunakan adalah wawancara, observasi dan jurnal.
Pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan jurnal dilakukan terhadap aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data yang dihimpun berkaitan dengan diksi dan penyusunan kalimat efektif dengan teknik penentuan ciri makna kata.

6. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan cara kualitatif (deskriptif). Peneliti mendeskripsikan keaktifan siswa, motivasi siswa dalam pembelajaran dan mendeskripsikan temuan hasil pembelajaran.
Karangan yang dianalisis berhubungan dengan kesalahan dan kekurangan aspek kebahasaan serta penggunaan diksi daam kalimat serta disesuaikan dengan norma penilaian untuk mengarang.
Langkah-langkah analisis data yang dilakukan peneliti terhadap masing-masing data adalah sebagai berikut.

a. Data Observasi
1)   Mengelompokkan berdasarkan jenis data dari segi keaktifan dan motivasi dalam pembelajaran
2)   Menghubungkan data yang memiliki kesesuaian ke dalam jenis perilaku siswa
3)   Menginterpretasikan data siswa yang bermasalah secara perorangan
4) Menarik kesimpulan secara perorangan dan klasikal berdasarkan interpretasi data
b. Data Wawancara
1)   Menghubungkan data wawancara secara perseorangan dari jawaban semua butir pertanyaan
2)   Menggolongkan jenis penyebab kesulitan siswa berdasarkan minat dan kemampuan siswa dalam menulis narasi
3)   Menginterpretasikan data berdasarkan jenis penyebab kesulitan siswa
4)  Menarik kesimpulan secara perseorangan berdasarkan interpretasi data
c. Data Tes
1)   Mengelompokkan siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar dengan yang belum tuntas belajar
2)   Membandingkan hasil pretes dan postes secara perorangan
3)   Menandai siswa yang belum mengalami kemajuan belajar
4)   Menginterpretasikan hasil postes untuk program perbaikan
5)   Membuat kesimpulan hasil tes secara perorangan dan secara klasikal

DAFTAR  PUSTAKA


Akhadiah, Subarti dkk. 1988. Pembinaan ketrampilan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta:Erlangga.

Arifin, E Zaenal. 1987. Berbahasa Indonesialah dengan Benar. Jakarta: Mediyatma Sarana Perkasa.

Arifin dan Amran Tasai. 1987. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Mediyatma Sarana Perkasa.

Badudu, Yus. 1981a. Inilah Bahasa Indonesia yang benar II. Jakarta:Gramedia.

_______. 1981b. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. Bandung:Pustaka Prima.

Burhan, Yasir. 1971. Problematika Bahasa dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung:Pustaka Prima.

Chaer, Abdul. 1995. Pengamatan Sistematik Bahasa Indonesia. Jakarta:Rineka Cipta.

Depdikbud. 1994. Kurikulum SD. Garis-Garis Besar Program Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta:Depdikbud.

Halim, Amran. 1984. Politik Bahasa yang Baik dan Benar. Jakarta:P3B-Depdikbud.

Keraf Gorys, 1980. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta:Nusa Indah

Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Moeliono, Anton M. 1988. Santun Bahasa. Jakarta:Gramedia.

Oka, IGN. 1978. Problematika Bahasa dan Pengajaran Bahasa indonesia. Malang:FKSS

Parera, Jos Daniel. 1984. Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud. 1991. Ejaan Bahasa Indonesia Seri I. Jakarta:Depdikbud.

Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif:Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta:Gramedia.

Samsuri. 1987. Analisa Bahasa:Memahami Bahasa secara Ilmiah. Jakarta:Erlangga.

Soedjito, 1988. Kalimat Efektif. Malang:FPBS IKIP Malang.


Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Kosakata. Bandung:Angkasa.

No comments:

© Copyright YONGKIRUDI