PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengembangan variasi mengajar merupakan suatu hal
yang harus dimiliki oleh pendidik, yang mana dengan kemampuan mengembangkan
variasi mengajar, seorang pendidik mampu menciptakan suasana belajar yang
diinginkan oleh peserta didik, sehingga mereka mampu menyerap pelajaran dengan
baik.
Namun di sisi lain, faktor kebosanan yang
disebabkan oleh adanya penyajian kegiatan belajar yang monoton mengakibatkan
perhatian, motivasi dan minat siswa terhadap pelajaran menurun. Untuk itu
diperlukan adanya keanekaragaman dalam
penyajian variasi mengajar.
Berlatar belakang dari adanya faktor – faktor
kebosanan tersebut yang mengakibatkan perhatian, motivasi dan minat siswa terhadap
pelajaran menurun dan perlu adanya variasi dalam mengajar maka makalah ini kami
susun.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
pengertian variasi mengajar?
2.
Apa
saja kearifan penggunaan variasi
mengajar?
3.
Apa
saja dimensi dalam variasi mengajar?
C. Tujuan Penulisan
Dalam makalah ini
terdapat tiga tujuan yaitu :
1.
Menjelaskan
pengertian variasi mengajar.
2.
Menjelaskan
kearifan penggunaan variasi mengajar.
3.
Menjelaskan
dimensi dalam variasi mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Variasi Mengajar
Keterampilan
mengajar merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru.
Hubungan antara guru dan siswa di dalam proses pembelajaran berlangsung secara
dinamis. Kedinamisan siswa mungkin diakibatkan oleh faktor internal siswa
sendiri ataupun karena pengaruh dinamika lingkungan yang sedikit banyak
mempengaruhi siswa. Guru di dalam pembelajaran dituntut menggunakan variasi
dalam mengajar untuk menghadapi keadaan siswa yang dinamis.
Penggunaan
variasi diartikan sebagai perbuatan guru dalam konteks proses belajar mengajar
yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar
mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan, serta berperan
secara aktif.[1]
Menurut Udin S. Winataputra, “ Variasi adalah keanekaragaman yang membuat
sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud perubahan – perubahan atau
perbedaan – perbedaan yang sengaja diciptakan atau dibuat untuk memberikan
kesan yang unik.”[2]
Dalam
proses belajar mengajar ada variasi apabila guru dapat menunjukkan adanya
perubahan dalam gaya mengajar, media yang berganti – ganti dan ada perubahan
dalam pola interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Variasi
lebih bersifat proses dari pada produk.[3]
Dari
penjelasan di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa variasi mengajar adalah
suatu kegiatan guru dalam proses interaksi pembelajaran yang ditujukan
untuk mengatasi kebosanan siswa dengan menciptakan lingkungan yang mendorong
dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar melalui perubahan dalam
gaya mengajar, media yang digunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam
pola interaksi antar siswa dan guru.
B.
Kearifan Penggunaan Variasi Mengajar
Penggunaan
variasi mengajar harus tersusun berdasarkan rencana yang jelas yang didasarkan
pada rujukan tujuan pembelajaran. Untuk mencapai keharusan tersebut, maka
seorang guru dituntut kearifan dalam menggunakan variasi mengajar.
Beberapa
langkah untuk mewujudkan prinsip tersebut diantaranya sebagai berikut:
1. Variasi
pengajaran yang diselenggarakan harus menunjang dan dalam rangka merealisasikan
tujuan pembelajaran.
2. Penggunaan variasi mengajar harus
lancar dan berkesinambungan tidak mengganggu proses belajar mengajar dan anak
didik akan lebih memperhatikan berbagai proses pengajaran secara utuh.
3. Penggunaan variasi mengajar harus
bersifat terstruktur, terencana dan sistematik.
4. Penggunaan variasi mengajar harus
luwes (tidak kaku) sehingga kehadiran variasi itu semakin mengoptimalkan
kegiatan belajar mengajar.[4]
Prinsip
itulah yang setidaknya diperlukan seorang guru dalam penggunaan variasi
mengajar. Prinsip ini menunjukkan bahwa dalam penggunaan variasi mengajar, guru
hendaknya memperhatikan keberadaan siswa, situasi dan kondisi lingkungan.
C.
Dimensi Dalam Variasi Mengajar
Pada
dasarnya komponen dalam mengajar dibagi dalam tiga kategori besar yaitu variasi
gaya mengajar, variasi media dan bahan, dan variasi interaksi.
1. Variasi gaya mengajar
a.
Pengguaan variasi suara (teacher
voice), variasi suara adalah perubahan dari tinggi ke rendah dari cepat menjadi
lambat, dari gembira menjadi sedih atau pada suatu saat memberikan tekanan dan
kata-kata tertentu.
b. Pemusatan perhatian siswa
(focusing), memusatkan perhatian siswa pada hal-hal yang dianggap penting yang
dapat dilakukan guru.
c.
Kesenyapan atau kebisuan guru
(teacher silence), adanya kesenyapan, kebisuan atau selingan diam yang secara
tiba-tiba dan disengaja selagi guru menerangkan sesuatu, yang mana ini
merupakan salah satu alat yang baik untuk menarik perhatian siswa.
d. Mengadakan kontak pandangan dan
gerak (eye contact and movement), apabila guru sedang berbicara atau
berinteraksi dengan siswanya, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan
melihat kemata murid - murid untuk menunjukan adanya hubungan yang intim dan / harmonis.
Kontak pandangan dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan untuk
mengetahui perhatian dan pemahaman siswa.
e.
Gerakan badan mimik, variasi dalam
ekspresi wajah guru, gerakan kepala, dan gerakan badan adalah aspek yang sangat
penting dalam berkomunakasi. Gunanya untuk menyampaikan pesan yang disampaikan
dan menarik perhatian. Ekspresi wajah yaitu dengan tersenyum, mengerutkan dahi,
cemberut, menaikkan alis mata dan untuk menunjukan kekaguman yaitu dengan
tercengang maupun heran. Gerakan kepala dapat dilakukan dengan bermacam-macam
misalnya dengan mengangguk, menggeleng,
mengangkat atau merendahkan kepala untuk menunjukkan setuju atau sebaliknya.
Gerakan jari misalnya dengan mengetuk-ngetuk yang menandakan waktu dan lain
sebagainya.
f.
Pergantian posisi dalam kelas dan
gerak guru (techer movement), pergantian gerak guru dalam kelas yaitu agar
dapat mempertahankan perhatian siswa. Terutama sekali bagi guru yang menyajikan
pelajaran dikelas, biasakan bergerak bebas tidak kikuk atau kaku dan
menghindari perilaku negatif.
Berikut ini beberapa hal yang harus
diperhatikan:
1). Biasakan bergerak bebas di dalam
kelas.
2). Jangan
membiasakan menerangkan sambil menulis menghadap ke papan tulis.
3). Biasakan
menerangkan dengan arah pandangan menjelajahi seluruh kelas.
4).
Mengobservasi seluruh kelas dengan bergerak perlahan – lahan dari belakang ke
depan untuk mengetahui tingkah laku murid.
2. Variasi Media dan Bahan
Media dan
alat pengajaran bila ditinjau dari indra yang digunakan, dapat digolongkan ke
dalam tiga bagian, yaitu didengar, dilihat dan diraba. Dalam perbedaan ini guru
harus mampu menyesusaikan kemampuannya, karena pada diri anak terdapat
perbedaan dalam menggunakan inderanya. Ada yang termasuk tipe visual, auditif
dan motorik. Adapun variasi pengunaan alat antara lain sebagai berikut :
a.
Variasi alat atau bahan yang dapat
dilihat (visual aids), alat atau media yang termasuk dalam jenis ini antara
lain grafik, bagan, poster, diorama, spesimen, gambar, film, dan slide.
b. Variasi alat atau bahan yang dapat
didengar (auditif aids), antara lain suara guru, rekaman suara, radio, musik, deklamasi
puisi, sosiodrama, dapat dipakai sebagai penggunaan indera pendengar yang
divariasi dengan indera lainnya.
c.
Variasi alat atau bahan yang dapat
diraba, dimanupulasi dan digerakkan (motorik) penggunaan alat yang termasuk
kedalam jenis ini akan dapat menarik perhatian siswa dan dapat melibatkan siswa
dalam membentuk dan memperagakan kegiatannya baik secara perseorangan atau
kelompok. Yang termasuk dalam hal ini misalnya peragaan yang dilakukan oleh guru
atau siswa, model, spesimen, patung, topeng, dan boneka, dapat digunakan oleh
anak untuk diraba, diperagakan, atau dimanipulasikan.
d. Variasi alat atau bahan yang dapat didengar,
dilihat, dan diraba (audio – visual aids). Penggunaan alat jenis ini merupakan
tingkat yang paling tinggi karena melibatkan semua indera yang kita miliki. Hal
ini sangat dianjurkan dalam proses belajar dan mengajar. Media yang termasuk
AVA ini misalnya, film, televise, radio, slide proyektor yang diiringi
penjelasan guru, tentu saja penggunaannya disesuaikan dengan tujuan pengajaran
yang hendak dicapai.
3. Variasi Interaksi
Pola
interaksi guru dengan murid dalam kegiatan belajar mengajar sangat
beranekaragam coraknya, mulai dari gerakan yang didominasi oleh guru sampai
yang dilakukan oleh murid itu sendiri yang mana ini semua dilakukan untuk
menghindari kebosanan dalam belajar serta untuk menghidupkan suasana kelas demi
keberhasilan murid dalam mencapai tujuan. Adapun jenis pola interaksi (gaya
interaksi) dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Pola guru - murid : komunikasi sebagai aksi satu arah.
b. Pola guru - murid - guru : ada balikan (feedback) bagi guru, tidak
ada interaksi antar siswa (komunikasi sebagai interaksi)
c.
Pola guru - murid - murid : ada balikan bagi guru, siswa
saling belajar satu sama lain.
d. Pola guru - murid, murid - guru, murid - murid : interaksi
optimal antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid (komunakasi
sebagai transaksi, multi arah).
e. Pola melingkar : setiap siswa
mendapatkan giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak
diperkenankan berbicara dua kali apabila setiap siswa belum mendapat giliran.[5]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, kita dapat
menyimpulkan bahwa:
1. Variasi mengajar adalah suatu
kegiatan guru dalam proses interaksi pembelajaran yang ditujukan untuk
mengatasi kebosanan siswa dengan menciptakan lingkungan yang mendorong dan
memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar melalui perubahan dalam gaya
mengajar, media yang digunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola
interaksi antar siswa dan guru.
2.
Kearifan penggunaan variasi mengajar diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Variasi pengajaran yang
diselenggarakan harus menunjang dan dalam rangka merealisasikan tujuan
pembelajaran.
b. Penggunaan variasi mengajar harus lancar dan
berkesinambungan tidak mengganggu proses belajar mengajar dan anak didik akan
lebih memperhatikan berbagai proses pengajaran secara utuh.
c. Penggunaan variasi mengajar harus bersifat terstruktur,
terencana dan sistematik.
d. Penggunaan variasi mengajar harus luwes (tidak kaku)
sehingga kehadiran variasi itu semakin mengoptimalkan kegiatan belajar
mengajar.
3.
Pada dasarnya komponen dalam mengajar
dibagi dalam tiga kategori besar yaitu variasi gaya mengajar, variasi media dan
bahan, dan variasi interaksi.
DAFTAR PUSTAKA
Bahri Jamarah, Syaiful,
Strategi
Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2006.
Fathurrohman, Pupuh, Strategi
Belajar Mengajar, Bandung : Refika Aditama, 2009.
J. J Hasibuan, Proses Belajar Mengajar, Bandung :
Remaja Rosda Karya, 2006.
Uzer Usman, Moh, Menjadi
Guru Profesional, Bandung : Remaja Rosda Karya, 1999..
[1] J.
J Hasibuan, Proses Belajar Mengajar
(Bandung : Remaja Rosda Karya, 2006), 64.
[2]
Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar
Mengajar (Bandung : Refika Aditama, 2009), 91.
[3]
Syaiful Bahri Jamarah, Strategi Belajar
Mengajar (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), 161.
[4]
Pupuh Fathurrohman, Strategi Belajar
Mengajar (Bandung : Refika Aditama, 2009), 94.
[5]
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional
(Bandung : Remaja Rosda Karya, 1999), 85 – 88.
No comments:
Post a Comment