Breaking News

Makalah

Tuesday, November 14, 2017

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP



KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP


MAKALAH



 




Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu : Ibu Aida Husna, M.Ag.

Oleh :

        1. Titik Handayani                    NIM : 117120
        2. Mohammad Shofiyul Lubab  NIM : 117111
        3. Evy Erlinawati                      NIM : 117102          
   

KELAS/ SEMESTER    : F/1
PRODI/JURUSAN        : TARBIYAH/PAI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PATI
2017






KATA PENGANTAR
          Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan bimbingan-Nya makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana. Makalah yang berjudul “Konsep Pendidikan Seumur Hidup ” ini sebagai pemenuhan tugas dari Dosen Mata Kuliah Ilmu Pendidikan.
          Selama penyusunan makalah ini banyak kendala yang dihadapi, namun berkat bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak semua kendala tersebut dapat teratasi. Pada kesempatan ini dengan ketulusan hati, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1.      Orang tua yang selalu memberi doa dan restu
2.      Ibu Aida Husna, M.Ag. selaku Dosen Mata Kuliah Ilmu Pendidikan.
3.      Semua pihak yang terkait dalam penulisan makalah ini
Penulis merasa masih banyak kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis, untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.

                                                                                    Pati,    November 2017

                                                                                    Penulis






BAB I 
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan. Dengan pendidikan kita dapat keluar dari suatu lingkaran yang menyeret kepada suatu kebodohan dan kemelaratan. Maka dari itu, diterapkan konsep pendidikan seumur hidup yang berlangsung pada lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan pemerintahan. Konsep pendidikan ini dilakukan secara berlanjut dari bayi sampai meninggal atau prosesnya berlangsung selama manusia hidup. Proses pendidikan ini mencakup bentuk belajar secara fomal maupun non formal.

Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan adalah suatu proses yang terus-menerus (kontinue) dari bayi sampai meninggal dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep agama Islam seperti yang tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW, yang menganjurkan belajar mulai dari buaian sampai ke liang kubur. Proses pendidikan ini mencakup bentuk-benuk belajar secara informal maupun formal, baik yang berlangsug dalam keluarga, sekolah dalam pekejaan dan kehidupan masyarakat.

Masa dari pendidikan sangatlah panjang, banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan itu berlangsung hanya disekolah saja, tetapi dalam kenyataanya pendidikan berlangsung seumur hidup melalui pengalaman-pengalaman yang dijalani dalam kehidupanya. Islam juga menekankan pentingnya pendidikan seumur hidup.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendidikan seumur hidup?
2.      Apa konsep dasar  pendidikan seumur hidup?
3.      Apa implikasi konsep pendidikan seumur hidup?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian pendidikan seumur hidup.
2.      Untuk mengetahui konsep dasar pendidikan seumur hidup.
3.      Untuk mengetahui implikasi konsep pendidikan seumur hidup.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan Seumur Hidup” atau “Life-Long Education” bukan “(long life education”) adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita.

Pendidikan seumur hidup ialah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menjelaskan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar yang dilangsungkan dalam kehidupan manusia. Globalisasi dan pembangunan Iptek menyebabkan perubahan-perubahan yang pesat dalam masyarakat pada banyak  bidang. Pendidikan diharapkan dapat menolong individu supaya dapat mengikuti perubahan-perubahan sosial sepanjang hidupnya. Maka lahirlah konsep pendidikan seumur hidup.

Pendidikan seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas, bukan itu yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar disemua tempat, semua situasi dan semua hal.

Pendidikan seumur hidup bersifat holistik, sedangkan pengajaran bersifat spesialistik, terutama pengajaran yang terpilih dan terinferensikan dalam berbagai bentuk kelembagaan belajar. Holistik memiliki arti lebih mengarah kepada pengutuhan atau penyempurnaan. Manusia selalu berusaha uintuk mencapai titik kesempurnaan dalam segala hal, namun seberapa besar usahapun kita tidak akan sampai pada kesempurnaan itu. Karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta Alam.

Belajar berarti memfungsikan hidup, orang yang tidak belajar berarti telah kehilangan hidupnya, paling tidak telah kehilangan hidupnya sebagai manusia. Karena hidup manusia itu bukan hanya individu dalam dirinya saja tapi juga interaksi dengan sesamanya, dengan antar generasi dan kehidupan secara universal.

Dalam Pendidikan atau Belajar terdapat interaksi antara tantangan (challenge) dari alam luar diri manusia dan balasan (response) dari daya dalam diri manusia. Dalam belajar juga terjadi interaksi komunikasi antara manusia dan berlangsungnya kesinambungan antar generasi serta belajar melestarikan hidup, mengamankan hidup dan menghindari pengrusakan hidup. Belajar berarti menghargai hidup kita.

Dalam agama sering kita dengar kalimat ” Belajarlah (tuntutlah ilmu) dari ayunan sampai liang lahat”. Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima, belajar bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua hal.

B.     Konsep Dasar Pendidikan Seumur Hidup
Pembahasan mengenai konsep edukasi seumur hidup ini bakal diuraikan dalam dua bagian yakni ditinjau dari dasar teoritis/ religios dan dasar yuriditisnya.
1.  Dasar Teoritis Religious
Konsep pendidikan seumur hidup ini pada mulanya diajukan oleh filosof dan pendidik Amerika yang paling terkenal yakni John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melewati bukunya : An Introduction to Life Long Education. Berdasarkan keterangan dari John Dewey, pendidikan tersebut menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus dilangsungkan seumur hidup sampai-sampai pendidikan tersebut tidak pernah berakhir.

Konsep pendidikan seumur hidup telah lama dirumuskan oleh pakar pendidikan dari zaman ke zaman. Dalam hal ini sudah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana ditetapkan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi :
أطلـبُ الِعلم ِمنَ المَهْدِ اِلىَ اللحْد
“Tuntutlah ilmu semenjak dari ayunan sampai liang lahad”

2. Dasar Yuridis
Konsep pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai diterapkan melalui kebijakan negara yaitu melewati :
a. Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 mengenai GBHN memutuskan prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :
1) Pembangunan nasional dilakukan dalam rangka pembangunan insan Indonesia seutuhnya dan pembangunan semua rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang)
2) Pendidikan dilangsungkan seumur hidup dan dilakukan dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).

b. Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003, mengenai sistem pendidikan nasional pada pasal 26, disebutkan bahwa pendidikan non formal diselenggarakan untuk warga masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan yang bermanfaat sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka menyokong pendidikan seumur hidup.

Dari dasar pendidikan seumur hidup yang dijelaskan di atas, jelaslah bahwa proses pendidikan dapat dilangsungkan selama manusia masih hidup.


C.    Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup
Implikasi diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Menurut W.P Guruge dalam buku Toward Better Educational Management, implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan adalah :
1. Pendidikan baca tulis fungsional
Pendidikan keaksaraan fungsional adalah sebuah usaha pendidikan luar sekolah dalam membelajarkan warga masyarakat penyandang buta aksara agar memiliki kemampuan menulis, membaca dan berhitung untuk tujuan yang pada kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di lingkungan sekitarnya, untuk peningkatan mutu dan taraf hidupnya.

Prioritas usia penyandang buta aksara berusia 15-50 tahun pada pemberantasan buta aksara melalui program keaksaraan fungsional. Buta aksara adalah orang yang tidak memiliki kemampuan-kemampuan membaca, menulis dan berhitung serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan baca tulis sangatlah penting bagi masyarakat, baik negara maju maupun negara berkembang. Adapun hubungannya dengan pendidikan seumur hidup :
a. Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik.
b. Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya tersebut.

2. Pendidikan vokasional
Pendidikan vokasional merupakan penggabungan antara teori dan praktik secara seimbang dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya. Kurikulum dalam pendidikan vokasional, terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (apprenticeship of learning) pada kejuruan-kejuruan khusus (specific trades). Kelebihan pendidikan vokasional ini, antara lain, peserta didik secara langsung dapat mengembangkan keahliannya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan atau bidang tugas yang akan dihadapinya.

Adapun hubungannya dengan pendidikan seumur hidup yaitu pendidikan vokasional sebagai program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah atau sebagai program pendidikan formal dan non formal dalam rangka ‘apprentice ship training merupakan salah satu program dalam pendidikan seumur hidup. Namun pendidikan vokasional tidak boleh dipandang sebagai jalan pintas tetapi tetap dilaksanakan secara kontinu. Jadi, pendidikan vokasional bertujuan untuk membekali peserta didik dengan keahlian yang akan membantunya dalam mengatasi permasalahan hidup yang kompleks.

3. Pendidikan profesional 
Sebagai realisasi pendidikan seumur hidup, dalam tiap profesi hendaklah tercipta built in mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi, dan sikap profesionalnya secara kontinu. Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi pekerja dan buruh, berlaku pula bagi professional, bahkan tantangan buat mereka lebih besar.

4. Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan
Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari asas pendidikan seumur hidup. Diakui bahwa diera globalisasi dan informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK, telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, dengan cara masak yang serba menggunakan mekanik, sampai dengan cara menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja konsekuensinya menurut pendidikan yang berlangsung secara kontinue (lifelong education).

 5. Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik
 Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik perlu diberikan dalam pendidikan seumur hidup bagi kehidupan berbangsa dan bernegara baik menjadi rakyat maupun pimpinan. Disamping tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dalam kondisi sekarang dimana pola pikir masyarakat yang semakin maju dan kritis, baik rakyat biasa, maupun pemimpin pemerintahan di Negara yang demokratis, diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga Negara. Pendidikan seumur hidup yang bersifat kontinu dalam koteks ini merupakan konsekuensinya.

6. Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang
Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang perlu diberikan secara konstruktif sebagai bagian konsep long life education. Dengan cara ini waktu senggang dapat dimanfaatkan berbasis budaya yang baik sehingga pendidikan seumur hidup dapat berjalan menyenangkan. Spesialisasi yang berlebihan dalam masyarakat dapat menyebabkan sempitnya pandangan terhadap bidangnya sendiri. Pendidikan kultural sangat membantu agar mereka berpandangan luas dan dapat mengisi waktu senggangnya, sebab itu  keduanya merupakan bagian penting dalam pendidikan seumur hidup.










BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa:
1.      Pendidikan seumur hidup ialah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menjelaskan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar yang dilangsungkan dalam kehidupan manusia.
2.      Konsep dasar pendidikan seumur hidup ada 2, yaitu: dasar teoritis religious dan dasar yuridis.
3.      Terdapat beberapa implikasi konsep pendidikan seumur hidup yang ditimbulkan pada program pendidikan yaitu, pendidikan baca tulis fungsional, pendidikan vokasional, . pendidikan profesional ,  pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan, pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik serta pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang.











DAFTAR PUSTAKA


·         http://alifanotes.blogspot.co.id/2015/07/pengertian-pendidikan-seumur-hidup.html (diakses 12 Oktober 2017 pkl 20:56 WIB)
·         http://www.kumpulanmakalah.com/2015/11/pendidikan-seumur-hidup.html (diakses 14 Oktober 2017 pkl 12:16 WIB)
  • Ihsan, Fuad, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta; Rineka Cipta, 2008.
  • Mudyahardjo, Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.


No comments:

© Copyright YONGKIRUDI