KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
MAKALAH
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu : Ibu Aida Husna, M.Ag.
Oleh
:
1. Titik Handayani NIM : 117120
2.
Mohammad Shofiyul Lubab NIM : 117111
3.
Evy Erlinawati NIM :
117102
KELAS/
SEMESTER : F/1
PRODI/JURUSAN : TARBIYAH/PAI
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM PATI
2017
KATA PENGANTAR
Segala
puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan bimbingan-Nya makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
Makalah yang berjudul “Konsep Pendidikan Seumur Hidup ” ini sebagai pemenuhan
tugas dari Dosen Mata Kuliah Ilmu Pendidikan.
Selama penyusunan makalah ini banyak kendala yang dihadapi,
namun berkat bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak semua kendala tersebut
dapat teratasi. Pada kesempatan ini dengan ketulusan hati, penulis ingin
menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Orang
tua yang selalu memberi doa dan restu
2. Ibu
Aida Husna, M.Ag. selaku Dosen Mata Kuliah Ilmu Pendidikan.
3. Semua
pihak yang terkait dalam penulisan makalah ini
Penulis
merasa masih banyak kekurangan, baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis, untuk itu kritik dan saran dari
semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.
Pati, November 2017
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan merupakan suatu hal yang
sangat penting bagi kehidupan. Dengan pendidikan kita dapat keluar dari suatu
lingkaran yang menyeret kepada suatu kebodohan dan kemelaratan. Maka dari itu,
diterapkan konsep pendidikan seumur hidup yang berlangsung pada lingkungan
keluarga, lingkungan masyarakat, dan pemerintahan. Konsep pendidikan ini
dilakukan secara berlanjut dari bayi sampai meninggal atau prosesnya
berlangsung selama manusia hidup. Proses pendidikan ini mencakup bentuk belajar
secara fomal maupun non formal.
Konsep
pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan adalah suatu proses
yang terus-menerus (kontinue) dari bayi sampai meninggal dunia. Konsep ini
sesuai dengan konsep agama Islam seperti yang tercantum dalam hadits Nabi
Muhammad SAW, yang menganjurkan belajar mulai dari buaian sampai ke liang
kubur. Proses pendidikan ini mencakup bentuk-benuk belajar secara informal
maupun formal, baik yang berlangsug dalam keluarga, sekolah dalam pekejaan dan
kehidupan masyarakat.
Masa
dari pendidikan sangatlah panjang, banyak orang yang beranggapan bahwa
pendidikan itu berlangsung hanya disekolah saja, tetapi dalam kenyataanya
pendidikan berlangsung seumur hidup melalui pengalaman-pengalaman yang dijalani
dalam kehidupanya. Islam juga menekankan pentingnya pendidikan seumur hidup.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian pendidikan seumur
hidup?
2. Apa konsep dasar pendidikan seumur hidup?
3. Apa implikasi konsep pendidikan
seumur hidup?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian
pendidikan seumur hidup.
2. Untuk mengetahui konsep dasar
pendidikan seumur hidup.
3. Untuk mengetahui implikasi konsep
pendidikan seumur hidup.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pendidikan Seumur Hidup
“Pendidikan Seumur Hidup” atau “Life-Long Education” bukan “(long
life education”) adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan
dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama
bagi para pendidik di negeri kita.
Pendidikan seumur
hidup ialah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menjelaskan keseluruhan
peristiwa-peristiwa kegiatan belajar yang dilangsungkan dalam kehidupan
manusia. Globalisasi dan pembangunan Iptek menyebabkan perubahan-perubahan yang
pesat dalam masyarakat pada banyak bidang. Pendidikan diharapkan dapat
menolong individu supaya dapat mengikuti perubahan-perubahan sosial sepanjang
hidupnya. Maka lahirlah konsep pendidikan seumur hidup.
Pendidikan
seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah
sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan
oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang”
yang bernama kelas, bukan itu yang dimaksud. Paradigma belajar seperti ini
harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan
tapi belajar disemua tempat, semua situasi dan semua hal.
Pendidikan
seumur hidup bersifat holistik, sedangkan pengajaran bersifat spesialistik,
terutama pengajaran yang terpilih dan terinferensikan dalam berbagai bentuk
kelembagaan belajar. Holistik memiliki arti lebih mengarah kepada pengutuhan
atau penyempurnaan. Manusia selalu berusaha uintuk mencapai titik kesempurnaan
dalam segala hal, namun seberapa besar usahapun kita tidak akan sampai pada
kesempurnaan itu. Karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta Alam.
Belajar
berarti memfungsikan hidup, orang yang tidak belajar berarti telah kehilangan
hidupnya, paling tidak telah kehilangan hidupnya sebagai manusia. Karena hidup
manusia itu bukan hanya individu dalam dirinya saja tapi juga interaksi dengan
sesamanya, dengan antar generasi dan kehidupan secara universal.
Dalam
Pendidikan atau Belajar terdapat interaksi antara tantangan (challenge)
dari alam luar diri manusia dan balasan (response) dari daya dalam diri
manusia. Dalam belajar juga terjadi interaksi komunikasi antara manusia dan
berlangsungnya kesinambungan antar generasi serta belajar melestarikan hidup,
mengamankan hidup dan menghindari pengrusakan hidup. Belajar berarti menghargai
hidup kita.
Dalam
agama sering kita dengar kalimat ” Belajarlah (tuntutlah ilmu) dari ayunan
sampai liang lahat”. Belajar merupakan tugas semua manusia, tua-muda,
besar-kecil, kaya-miskin semua mempunyai tugas tersebut. Kita belajar mengetahui apapun yang ada di dunia ini
untuk kemajuan individu atau universal. Belajar memberi, belajar menerima,
belajar bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajar semua
hal.
B. Konsep
Dasar Pendidikan Seumur Hidup
Pembahasan mengenai
konsep edukasi seumur hidup ini bakal diuraikan dalam dua bagian yakni ditinjau
dari dasar teoritis/ religios dan dasar yuriditisnya.
1. Dasar
Teoritis Religious
Konsep pendidikan
seumur hidup ini pada mulanya diajukan oleh filosof dan pendidik Amerika yang
paling terkenal yakni John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend
melewati bukunya : An Introduction to Life Long Education. Berdasarkan keterangan dari John Dewey,
pendidikan tersebut menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus
dilangsungkan seumur hidup sampai-sampai pendidikan tersebut tidak pernah
berakhir.
Konsep pendidikan
seumur hidup telah lama dirumuskan oleh pakar pendidikan dari zaman ke zaman.
Dalam hal ini sudah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana ditetapkan dalam
Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi :
أطلـبُ الِعلم ِمنَ المَهْدِ اِلىَ اللحْد
“Tuntutlah ilmu semenjak dari ayunan sampai liang
lahad”
2. Dasar Yuridis
Konsep pendidikan
seumur hidup di Indonesia mulai diterapkan melalui kebijakan negara yaitu
melewati :
a. Ketetapan MPR
No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 mengenai GBHN memutuskan
prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :
1) Pembangunan
nasional dilakukan dalam rangka pembangunan insan Indonesia seutuhnya dan
pembangunan semua rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang)
2) Pendidikan
dilangsungkan seumur hidup dan dilakukan dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena
itu, pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan
pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).
b.
Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003, mengenai sistem pendidikan nasional pada
pasal 26, disebutkan bahwa pendidikan non formal diselenggarakan untuk warga
masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan yang bermanfaat sebagai
pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka
menyokong pendidikan seumur hidup.
Dari dasar pendidikan seumur hidup yang dijelaskan
di atas, jelaslah bahwa proses pendidikan dapat dilangsungkan selama manusia
masih hidup.
C. Implikasi
Konsep Pendidikan Seumur Hidup
Implikasi
diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan tentang
pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Menurut W.P Guruge dalam buku Toward
Better Educational Management, implikasi pendidikan seumur hidup pada program
pendidikan adalah :
1.
Pendidikan baca tulis fungsional
Pendidikan
keaksaraan fungsional adalah sebuah usaha pendidikan luar sekolah dalam membelajarkan
warga masyarakat penyandang buta aksara agar memiliki kemampuan menulis,
membaca dan berhitung untuk tujuan yang pada kehidupan sehari-hari dengan
memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di lingkungan sekitarnya, untuk
peningkatan mutu dan taraf hidupnya.
Prioritas
usia penyandang buta aksara berusia 15-50 tahun pada pemberantasan buta aksara
melalui program keaksaraan fungsional. Buta aksara adalah orang yang tidak
memiliki kemampuan-kemampuan membaca, menulis dan berhitung serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan
baca tulis sangatlah penting bagi masyarakat, baik negara maju maupun negara
berkembang. Adapun hubungannya dengan pendidikan seumur hidup :
a.
Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi
anak didik.
b.
Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut
kecakapan yang telah dimilikinya tersebut.
2. Pendidikan
vokasional
Pendidikan
vokasional merupakan penggabungan antara teori dan praktik secara seimbang
dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya. Kurikulum dalam pendidikan
vokasional, terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (apprenticeship of
learning) pada kejuruan-kejuruan khusus (specific trades). Kelebihan pendidikan
vokasional ini, antara lain, peserta didik secara langsung dapat mengembangkan
keahliannya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan atau bidang tugas yang akan
dihadapinya.
Adapun
hubungannya dengan pendidikan seumur hidup yaitu pendidikan vokasional sebagai
program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah atau
sebagai program pendidikan formal dan non formal dalam rangka ‘apprentice ship
training merupakan salah satu program dalam pendidikan seumur hidup. Namun
pendidikan vokasional tidak boleh dipandang sebagai jalan pintas tetapi tetap
dilaksanakan secara kontinu. Jadi, pendidikan vokasional bertujuan untuk
membekali peserta didik dengan keahlian yang akan membantunya dalam mengatasi
permasalahan hidup yang kompleks.
3.
Pendidikan profesional
Sebagai
realisasi pendidikan seumur hidup, dalam tiap profesi hendaklah tercipta built
in mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai
kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi, dan
sikap profesionalnya secara kontinu. Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi
pekerja dan buruh, berlaku pula bagi professional, bahkan tantangan buat mereka
lebih besar.
4. Pendidikan ke
arah perubahan dan pembangunan
Pendidikan
bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti
perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari asas
pendidikan seumur hidup. Diakui bahwa diera globalisasi dan informasi yang
ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK, telah mempengaruhi berbagai
dimensi kehidupan masyarakat, dengan cara masak yang serba menggunakan mekanik,
sampai dengan cara menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja
konsekuensinya menurut pendidikan yang berlangsung secara kontinue (lifelong
education).
5. Pendidikan
kewarganegaraan dan kedewasaan politik
Pendidikan
kewarganegaraan dan kedewasaan politik perlu diberikan dalam pendidikan seumur
hidup bagi kehidupan berbangsa dan bernegara baik menjadi rakyat maupun pimpinan.
Disamping tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dalam
kondisi sekarang dimana pola pikir masyarakat yang semakin maju dan kritis,
baik rakyat biasa, maupun pemimpin pemerintahan di Negara yang demokratis,
diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga
Negara. Pendidikan seumur hidup yang bersifat kontinu dalam koteks ini
merupakan konsekuensinya.
6. Pendidikan
kultural dan pengisian waktu senggang
Pendidikan
kultural dan pengisian waktu senggang perlu diberikan secara konstruktif
sebagai bagian konsep long life education. Dengan cara ini waktu senggang dapat
dimanfaatkan berbasis budaya yang baik sehingga pendidikan seumur hidup dapat
berjalan menyenangkan. Spesialisasi yang berlebihan dalam masyarakat dapat
menyebabkan sempitnya pandangan terhadap bidangnya sendiri. Pendidikan kultural
sangat membantu agar mereka berpandangan luas dan dapat mengisi waktu
senggangnya, sebab itu keduanya merupakan bagian penting dalam pendidikan
seumur hidup.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
pembahasan tersebut di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa:
1.
Pendidikan seumur hidup ialah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan
yang menjelaskan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar yang
dilangsungkan dalam kehidupan manusia.
2.
Konsep dasar pendidikan seumur hidup ada 2, yaitu: dasar
teoritis religious dan dasar yuridis.
3.
Terdapat beberapa implikasi konsep pendidikan
seumur hidup yang ditimbulkan pada program pendidikan yaitu, pendidikan baca tulis fungsional, pendidikan vokasional, .
pendidikan profesional , pendidikan
ke arah perubahan dan pembangunan, pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan
politik serta pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang.
DAFTAR
PUSTAKA
·
https://tweetyqhu.wordpress.com/2013/10/07/implikasi-konsep-pendidikan-seumur-hidup-pada-program-program-pendidikan/ (diakses 12 Oktober 2017
pkl 20:33 WIB)
·
http://alifanotes.blogspot.co.id/2015/07/pengertian-pendidikan-seumur-hidup.html (diakses 12 Oktober 2017 pkl 20:56 WIB)
·
http://www.kumpulanmakalah.com/2015/11/pendidikan-seumur-hidup.html (diakses 14 Oktober 2017 pkl 12:16 WIB)
- Ihsan, Fuad, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta; Rineka Cipta, 2008.
- Mudyahardjo, Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.
No comments:
Post a Comment