PENELITIAN
METODE PEMBELAJARAN
DI TPQ ASH-SHIDIQI
SUKOHARJO
A. PENDAHULUAN
Keterampilan sosial dan kemampuan berbiracara merupakan hal yang paling
kodrat dilakukan oleh semua orang. Begitu pula dengan keterampilan membaca Al
Qur’an sejak usia dini sangatlah penting untuk diperhatikan. Ketika anak mulai
masuk lembaga pendidikan Al Qur’an, pada tahap inilah belajar mengasah
keterampilan membaca dan memperlancar bacaan Al Qur’an dengan baik menjadi
suatu hal yang harus di tanamkan pada diri anak supaya lebih berkompeten dalam
membaca Al Qur’an.
Keberadaan TPA/TPQ merupakan penunjang
bagi pendidikan agama Islam pada Lembaga-lembaga pendidikan sekolah (TK-SD-MI)
untuk itu penyelenggaraannya pada siang dan sore hari di luar jam sekolah. Sesuai
dengan tujuan dan targetnya, maka materi pelajaran dibedakan menjadi dua macam
yaitu materi pokok dan materi tambahan. Yang dimaksud materi pokok adalah
materi yang harus dikuasai benar oleh setiap peserta didik dan dijadikan tolok
ukur keberhasilan peserta didik.
Di TPQ ASH-SHIDIQI ini metode yang
digunakan adalah metode Qiro'ati. Dalam metode tersebut terdapat berbagai jenis
pembelajaran diantaranya: klasikal individual, berbaris dengan menggunakan
komando berbahasa Arab, pemberian materi tambahan, klasikal baca simak,
sorogan, dan evaluasi peraga. Pada masing-masing pembelajaran memiliki tujuan
tersendiri yang tidak terdapat pada pembelajaran lain.
Untuk membina agar anak mempunyai sifat-sifat terpuji tidak hanya dengan
pembiasaan-pembiasaan melakukan hal baik, dan menjauhi larangan-Nya. Dengan
kebiasaan dan latihan akan membuat anak cenderung melakukan yang baik dan
meninggalkan yang buruk.
B. Landasan teori
1.
Jenis Pembelajaran Klasikal Individual
- Diterapkan untuk anak anak mulai
usia Pra-TK
- Pengelompokan Kelas berdasarkan Jilid
Qiraati yang sama
- 1 Kelas terdiri dari 10-15 siswa
- 10 - 15 Menit pertama diterapkan
model klasikal, selanjutnya individual
- Membuat
pedoman pengujian evaluasi belajar tahap akhir pengajaran Al-Quran (EBTAQ)
- Menyusun silabus pembelajaran
untuk berbagai jenjang dan kelas
- Menentukan standar penilaian
Qiraati
2. jenis pembelajaran baris
perbaris
Menumbuhkan sikap
jasmani yang tegap dan tangkas, rasa persatuan disiplin sehingga dengan
demikian senantiasa dapat mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan
individu, dan secara tak langsung juga menanamkan rasa tanggung jawab.
Pembelajaran baris berbaris di sini menggunakan komando bahasa arab supaya
murid lebih cenderung lebih mudah mengingat bahasa arab yang merupakan bahasa
Qur’ani. Dengan begitu banyak hal positif yang bisa kita ambil dari
pembelajaran baris berbaris ini.
3. jenis pembelajaran materi tambahan
Materi tambahan yang
terdiri dari beberapa materi diantaranya: suroh-suroh pendek, doa sehari-hari,
fasholatan, kalimat thoyyibah, seni islami, kosa kata bahasa arab, dan
hadist-hadist pendek. Pemberian materi tambahan ini berlangsung selama lima
belas menit setelah baris berbaris. Adapun tujuan dari pemberian materi
tambahan ini adalah supaya murid bertambah kuat ingatannya tentang bekal
melakukan amaliyah yang baik dalam kehidupan sehari - hari. Misal: doa,
fasholatan, dan lain sebagainya.
4. Jenis pembelajaran klasikal baca simak
Pada kondisi tertentu
ada saat ketika murid menghadapi konsep bacaan yang sulit, kalimat yang kompleks
dan panjang, murid mengalami kebosanan atau kelelahan sehingga hilang
konsentrasi. Kondisi ini dapat diatasi dengan menggabungkan metode klasikal dan
metode baca simak. Jika pada saat menerapkan metode baca simak dengan buku
banyak murid yang mengalami kesulitan membaca, tersendat, dan hilang
konsentrasi, maka guru segera mengambil langkah. Caranya dengan kembali
memusatkan perhatian murid pada alat peraga. Tujuannya adalah untuk lebih
memahamkan konsep, dan mengetahui dimana letak kesulitan yang dialami.
Penggabungan klasikal
peraga dengan baca simak yaitu murid membaca kalimat, murid yang lain
mendengarkan, kemudian jika ada kesalahan dikoreksi, lakukan pengulangan konsep
secara singkat. Kemudian guru dan murid membaca bersama-sama kalimat tersebut.
Murid kedua membaca kalimat berikutnya, murid yang lain mendengarkan, kemudian
guru dan murid membaca bersama-sama kalimat tersebut, dan seterusnya sampai
semua kalimat di halaman peraga terbaca.
5. jenis pembelajaran sorogan
Sorogan
berasal dari kata sorog yang artinya maju. Disebut demikian karena dalam
sistem sorogan ini, santri menghadap ustadz seorang demi seorang dengan membawa
kitab yang telah dipelajari. Belajar face to face dengan ustadz dimana
para santri menunggu giliran untuk berguru dan bertatap muka satu persatu. Pada
umumnya, metode ini diberikan kepada para santri yang baru masuk dan memerlukan
bimbingan secara individual.
Penerapan metode
sorogan, dilakukan di pondok pesantren pada umumnya, dan mempunyai beberapa
cara dalam pelaksanaanya, Ustadz membacakan dan menerjemahkan kalimat demi
kalimat, kemudian menerangkan maksudnya, atau ustadz cukup menunjukkan cara
membaca yang benar, tergantung materi yang diajukan dan kemampuan santri.
Dalam
pelaksanaan metode sorogan secara umum terdapat dua cara, yaitu; pertama:
Bagi santri pemula, mereka mendatangi ustadz yang akan membacakan kitab
tertentu. Kedua: Bagi santri senior, mereka mendatangi seorang ustadz
supaya sang ustadz mendengarkan sekaligus memberikan koreksi terhadap bacaan
kitab mereka.
Dengan sorogan,
santri diajak untuk memahami kandungan kitab secara perlahan-lahan secara
detail dengan mengikuti pikiran atau konsep yang termuat dalam kitab kata
perkata, inilah yang memungkinkan menguasai kandungan kitab, baik menyangkut
konsep besarnya maupun konsep detailnya.
Melalui sorogan,
perkembangan intelektual santri dapat dipantau ustadz secara utuh, ustadz juga
dapat memberikan bimbingan dengan penuh kejiwaan, sehingga dapat memberikan
tekanan pengajaran kepada santri-santri tertentu atas dasar observasi langsung
terhadap tingkat kemampuan dasar dan kapasitas mereka. Dengan mengetahui
observasi langsung dari ustadz, metode sorogan menuntut kesabaran dan keuletan
pengajar juga mengutamakan kematangan, perhatian dan kecakapan santri dan juga
disiplin yang tinggi dari seorang santri, karena metode ini membutuhkan waktu
lama, yang berarti pemborosan, kurang efektif dan efisien dalam pembelajaranya.
Untuk
mengefesienkan waktu, dalam menerapkan materi pembelajaran, seorang ustadz
harus mengetahui metode dan materi yang hendak dicapai, yang beragam jenis dan
fungsinya. agar tidak bertentangan dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Metode sorogan
dianggap telah terbukti secara efektif mampu meningkatkan semangat dan
kemampuan santri dalam belajar dan menguasai kitab kuning. Namun demikian,
metode tersebut dianggap sulit dari keseluruhan sistem metode pendidikan islam
tradisional, sebab menuntut kesabaran, ketekunan, kerajinan, ketaatan, disiplin
pribadi santri dan kemandirian belajar santri.
6. jenis pembelajaran evaluasi peraga
Guru mengevaluasi bacaan murid menggunakan peraga.
Tujuannya adalah supaya ingatan murid menjadi lebih kuat.
C.
HASIL PENELITIAN
1. KONDISI belajar mengajar sebelum di terapkan
pembelajaran materi tambahan
Berdasarkan hasil
observasi tersebut masih banyak indikator penilaian yang belum di capai oleh murid-murid TPQ
ASH-SHIDIQI . Dari observasi awal maka dapat di simpulkan bahwa keterampilan
menghafal murid di TPQ ASH-SHIDIQI masih rendah. Data yang di dapat dari
asesmen awal menunjukkan masih rendahnya keterampilan menghafal murid yang
belum optimal.
2. PENERAPAN pembelajaran materi tambahan DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN menghafal DAN
daya ingat anak
Dari siklus pertama ini
terlihat bahwa jenis kelamin mempengaruhi
perkembangan sosial dan bahasa anak, sehingga anak perempuan menunjukkan
perkembangan yang lebih cepat dari anak laki-laki, anak juga dapat
pertanyaan-pertanyaan dari guru seputar materi tambahan berdasarkan kelas
masing-masing. Pada skluds dua, sudah
terlihat peningkatan yang berarti dalam keterampilan menghafal dan daya ingat
anak, guru juga sudah dapat melaksanakan prosedur dalam melaksanakan pemberian materi tambahan . Pada
siklus tiga ini, anak-anak sudah dapat melafalkan bacaan dengan baik, meskipun
ada beberapa anak yang masih lambat dalam menghafalkan. Namun hanya minoritas.
3. PENINGKATAN pembelajaran
setelah di lakukan pemberian materi tambahan
Penerapan
metode bermain peran memberikan kontribusi yang sangat besar pada keterampilan
menghafal dan kelancaran hafalan terlihat dari anak-anak yang tadinya ragu dan
lambat ketika menghafal sudah tidak ragu lagi untuk memastikan kelancaran
hafalannya, anak sudah dapat melafalkan hafalannya dengan baik meskipun
minoritas menemui kendala yang berupa kelambatan dalam menghafal.
4. kendala yang di hadapi guru dalam menerapkan materi
tambahan untuk meningkatkan kemampuan menghafal anak
Ada
beberapa kendala yang dihadapi oleh guru dalam menerapkan materi tambahan untuk
meningkatkan kemampuan menghafal anak, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Perbedaan karakter dalam diri anak sehingga
guru harus menyesuaikan
b. Minimnya pengontrolan wali murid di rumah
terhadap hafalan anak
c. Kurangnya pengetahuan guru
terhadap penyesuaian karakter anak
D.
KESIMPULAN
DAN REKOMENDASI
1.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian tentang “penerapan materi tambahan untuk meningkatkan
keterampilan anak dalam melafalkan dan menghafalkan " di TPQ ASH-SHIDIQI
disimpulkan sebagai berikut:
a. Pembelajaran
di TPQ ASH-SHIDIQI sebelum di adakannya belajar dengan pemberian materi
tambahan, belum begitu optimal. Pelaksanaan pembelajaran belum begitu terprogram dengan baik, guru
melaksanakan kegiatan rutin pembelajaran
dengan metode yang kurang bervariasi. Seperti metode mencontohkan lafal,
tanya jawab, strategi yang digunakan kurang begitu menarik, karena hanya dengan
menyimak saja. Hal ini menyebabkan keterampilan menghafal di TPQ ASH-SHIDIQI
masih kurang.
b. Menerapkan
materi tambahan sudah berhasil karena guru dan murid berpendapat bahwa materi
ini sangat menarik.
c. Menerapkan
metode bermain peran dilaksanakan dengan 3 siklus, peningkatan yang cukup besar
terjadi pada siklus dua dan siklus tiga . yaitu pada indikator anak dapat
merespon pertanyaan, dapat mengulas kembali hafalan nya dengan lancar.
d. Dalam
penerapan metode bermain peran guru menemui beberapa kendala seperti kelambatan
anak dalam memahami lafal dan menghafalkannya, minimnya kontrol dari orang tua
terhadap hafalan anak, serta kurangnya pengetahuan guru terhadap penyesuaian karakter anak.
2.
REKOMENDASI
Adapun beberapa
rekomendasi yang dapat penulis sampaikan berkenaan dengan penerapan materi
tambahan dalam meningkatkan keterampilan melafalkan dan menghafalkan
diantaranya sebagai berikut:
a. Niat
ikhlas dan bersabar seorang pendidik harus senantiasa memiliki keikhlasan hati
dan sepenuh hati dalam mengajarkan Al Qur’an karena ini sudah merupakan
tanggung jawab seorang muslim untuk mengamalkan ilmunya dan hanya mengharap
rida Allah SWT semata. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ; ”Sebaik-baik manusia
diantara kamu adalah yang mau belajar Al Qur’an dan mau mengamalkannya”.
Seorang pendidik harus menghilangkan niatan-niatan yang bersifat duniawi.
Karena Allah lah yang akan memberikan
balasan bagi hamba-Nya yang mau berjuang
dijalan-Nya. Niatan yang salah meskipun hanya kecil akan menjadi penghambat
bagi seseorang dalam berdakwah. Sekiranya usaha tersebut di rasa sudah maksimal
maka yang terakhir di lakukan adalah bersabar. Bersabar dalam arti tidak
berputus asa dengan hasil yang ada. Namun selalu melakukan evaluasi dan
peningkatan mutu selanjutnya.
b. Seorang
pendidik hendaknya rajin melaksanakan sholat tahajjud. Sikap senantiasa
bermunajat kepada sang Khaliq harus ada
pada setiap diri pendidik. Semua persoalan dikembalikan kepada Khaliqnya. Tak
bosan-bosan untuk selalu mendoakan para santrinya dan kemudahan-kemudahan untuk
menjalankan aktifitas kesehariannya. Seorang guru tidak hanya memberikan
pendidikan jasmani semata, namun memiliki ghiroh untuk ; Mengajar, Mendidik,
Membimbing dan Mendoakan [4 M]. Suri tauladan yang baik harus senantiasa
ditampilkan di hadapan para anak didiknya.
c. Rajin
tadarus Tadarus atau baca Al Qur’an hendaknya di lakukan setiap hari dan setiap
saat. Banyak waktu yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk selalu tadarus
dimanapun berada. Di sekolah tadarus dapat dilakukan dengan kepala sekolah,
dengan koordinator cabang, wilayah maupun pusat. Hal ini dapat membantu guru
untuk lebih lancar, fasih dan mantap dalam memahami metode Qiro’ati.
d. Menyusun
strategi atau metode yang tepat untuk meningkatkan keterampilan melafalkan dan
keterampilan menghafal anak.
e. Guru harus
terampil dalam menggunkan metode pembelajaran yang variatif.
f. Memberi
pengarahan kepada orang tua tentang bagaimana cara agar anak dapat dapat
melatih keterampilan melafalkan dan keterampilan menghafal yang baik, dan juga
memberi wawasan tentang pentingnya belajar
menghafal bagi anak-anak.
No comments:
Post a Comment