JURNAL TASAWUF
AKHLAQI
Tasawuf Akhlaqi
Tasawuf Akhlaki merupakan tasawuf yang berfokus
pada perbaikan akhlak dan budi pekerti, berupaya mewujudkan perilaku yang
baik (Mahmudah) serta menghindarkan diri dari sifat-sifat tercela (Mazmumah).
Tasawuf akhlaki ini disebut juga dengan tasawuf sunni, dikembangkan oleh para
ulama salaf as-salih dengan menerapkan metode-metode tertentu.
Menurut para sufi, pengembangan tasawuf akhlaki
dibangun sebagai dasar latihan kerohanian dengan tujuan mensucikan hati dan
mengendalikan hawa nafsu sampai ke titik terendah. Sehingga nantinya tidak akan
ada penghalang yang membatasi manusia dengan Tuhannya. Agar lebih mudah dalam
mewujudkan ajaran Tasawuf Akhlaki ini, para sufi menyusun beberapa tahapan
sistem, yang meliputi Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.
1.
Takhalli
Takhalli adalah tahapan pertama yang dilakukan
oleh seorang sufi untuk membersihkan (melepaskan) diri dari perilaku buruk,
seperti berbuat maksiat, kecintaan kepada dunia yang berlebihan, berprasangka
su’udzon, ujub, hasad, riya, ghadab, dan sejenisnya. Sebagian sufi berpendapat
bahwa perbuatan maksiat merupakan najis maknawiyah yang bisa menghalangi
kedekatan hamba dengan Rabbnya. Oleh karena itu, sifat-sifat nafsu dalam diri
harus dimusnahkan agar manusia tidak terjerumus ke dalam dosa.
Namun imam Al-Ghazali mempunyai pendapat lain.
Menurutnya, selama hidup di dunia setiap manusia pasti membutuhkan nafsu. Bukan
untuk melakukan hal-hal buruk, tapi nafsu diperlukan demi menjaga keharmonisan
keluarga, membela harga diri, dan hal-hal positif lainnya
2.
Tahalli
Setelah membersihkan diri dari
perbuatan-perbuatan tercela,tahapan berikutnya yang perlu dilakukan adalah
pengisian jiwa atau disebut Tahalli. Pada tahap ini, seorang sufi diharuskan
membiasakan diri dengan akhlak-akhlak terpuji sabar, ikhlas, ridha, taubat, dan
sebagainya.
Selain itu, juga menjalankan ketentuan syariat agama,
seperti sholat, puasa, zakat, membaca Al-Quran, dan berhaji bila mampu. Dengan
demikian, apabila seseorang telah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan mulia,
taat dan beriman kepada Allah SWT maka lama-kelamaan hati pun akan menjadi
bersih.
3.
Tajalli
Tahap yang terakhir adalah Tajalli yang berarti
tersingkapnya nur ghaib. Di tahap ini, seorang sufi benar-benar menanamkan rasa
cinta kepada Allah SWT di dalam hatinya. Tujuannya agar perilaku-perilaku baik
yang telah dijalani pada tahap Tahalli tidak luntur begitu saja, dan bisa terus
berkelanjutan.
Ritual Tajalli biasanya dilakukan dengan cara
bermunajat kepada Allah SWT, yaitu memuja dan memuji keagungan Allah SWT.
Kemudian bermusahabah (merenungi dosa-dosa yang telah diperbuat), muraqabah
(merasa jiwa selalu diawasi oleh Allah SWT), Tafakkur (merenungi kekuasaan
Allah dalam menciptakan alam semesta), serta memperbanyak amalan dzikir.
Tokoh Sufi yang Mengembangkan Tasawuf Akhlaki
Tasawuf Akhlaki pertama kali berkembang di
pertengahan abad kedua hingga abad keempat hijriyah. Adapun tokoh-tokoh sufi
yang tergabung dalam tasawuf ini , meliputi Hasan Al-Bashri, Imam Abu Hanifa,
al-Junaidi al-Bagdadi, al-Qusyairi, as-Sarri as-Saqeti, dan al-Harowi.
Selanjutnya di abad kelima hijriyah, imam Al Ghozali, Al Harawi, dan Al
Qusyairi mulai mengadakan pembaharuan dengan mengembalikan dasar-dasar tawasuf
yang sesuai dengan Al Quran dan as Sunnah.
Berikut
ini beberapa tokoh yang paling berpengaruh dalam pengembangan tasawuf akhlaki:
a.
Hasan Al-Basri (21 H- 110 H)
Hasan
Al-Bashri memiliki nama lengkap Abu Said Al-Hasan bin Yasar, adalah seorang
zahid dari kalangan tabiin yang lahir di Madinah pada tahun 21 Hijriyah. Beliau
merupakan pelopor utama yang mulai memperluaskan ilmu-ilmu kebatinan dan
kesucian jiwa.
Menurut
pandangannya, tasawuf merupakan ajaran untuk menanamkan rasa takut (baik itu
takut akan dosa-dosa, takut tidak mampu memenuhi perintah dan larangan Allah,
takut akan ajal atau kematian ) di dalam diri setiap hamba dan senantiasa
mengingat Allah SWT. Beliau berpendapat bahwa dunia adalah ladang beramal,
banyak duka cita di dunia dapat memperteguh amal sholeh.
b.
Al-Muhasibi (165 H – 243 H)
Al-Muhasibi
memiliki nama lengkap Abu Abdillah Al-Harist bin Asad Al-Bashri Al- Baghdadi
Al-Muhasibi. Beliau lahir di Bashroh, Irak pada tahun 165 Hijriyah. Menurut
beliau, tasawuf berarti ilmu yang mengajarkan untuk selalu bertakwa kepada
Allah SWT, menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba dan meneladani akhlak
Rasulullah Saw.
Beliau
juga berpendapat ada 3 hal yang perlu ditekankan untuk membersihkan jiwa dan
mencapai jalan keselamatan, yaitu melalui Ma’rifat (Mengenal Allah SWT dengan
mata hati), Khauf (rasa takut), dan Raja’ ( pengharapan).
c.
Al-Qusyairi
(376 H- 465 H)
Al-Qusyairi
memiliki nama lengkap ‘Abdul Karim bin Hawazim. Beliau lahir di kawasan
Nishafur pada tahun 465 Hijriyah, dimana beliau ini merupakan seorang ulama
yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu pada masanya.
Ajaran
tasawuf Al-Qusyairi didasarkan pada doktrin Ahlusunnah Wal Jama’ah dan
berlandasakan ketauhidan. Beliau mengadakan pembaharuan di ajaran tasawuf,
dengan menentang keras doktrin-doktrin aliran Karamiyah, Syi’ah, Mu’tazilah,
dan Mujassamah. Ia juga menjelaskan pembeda antara dzahir dan bathil, serta
syariat dan hakikat. Menurutnya, tidak haram jika seseorang menikmati
kesenangan dunia, asalkan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Assunnah.
d.
Al-Ghazali
(450 H – 505 H)
Al-Ghazali
memiliki nama lengkap Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Thusi.
Beliau lahir di kota Khurasan, Iran pada tahun 450 Hijriyah. Di masa hidupnya,
Al Ghazali merupakan seorang ahli ilmu yang dikagumi oleh banyak ulama besar.
Beliau juga dikenal sebagai seorang Sufi, Filosof, Fuqoha (ahli fiqh), dan
Mutakallim. Beliau juga memiliki banyak gelar, salah satunya Hujjah al-islam
yang diperolehnya dari kerajaan Bani Saljuk.
Seperti
halnya Al-Qusyairi, Al-Ghazali juga berupaya mengembalikan ajaran tasawuf yang
sesuai syariat agama dan bersih dari aliran-aliran asing yang menyesatkan
islam, dengan berpedoman pada Al Quran dan As sunnah (Ajaran Rasulullah Saw).
Tasawuf Al-Ghazali lebih kepada penekanan pendidikan moral, dimana seseorang
dianjurkan memperdalam ilmu aqidah dan syariat terlebih dahulu sebelum
mempelajari ketasawufan.
Itulah
sedikit ulasan mengenai ajaran tasawuf akhlaki. Yang perlu kita pahami, bahwa
memang penting bagi seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun bukan berarti kita melalaikan urusan di dunia. Islam memerintahkan
umatnya untuk bekerja sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup, sebagai firman
Allah dalam surat At-Taubah ayat 105:
“Dan
Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin
akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)
KOMENTAR
KORELASI ANTARA TASAWUF DENGAN ZAMAN MODERN
Dalam kehidupan modern yang serba materi,
tasawuf bisa dikembangkan ke arah yang konstruktif, baik yang menyangkut
kehidupan pribadi maupun sosial. Ketika suatu mayarakat sudah terkena apa yang
disebut alienasi (keterasingan) karena proses pembangunan dan modernisasi, maka
pada saat itulah mereka butuh pedoman hidup yang bersifat spiritual yang
mendalam untuk menjaga integritas kepribadiannya.
Tasawuf dan zaman modern adalah dua term yang
tidak bisa dipisahkan dan harus dimiliki oleh manusia karena keduanya memiliki
peran masing- masing dalam diri manusia yakni dalam mengemban amanat-Nya
sebagai wakil Allah SWT di muka bumi. Oleh karena itu, usaha mengembangkan
keduanya menjadi sesuatu yang harus kita optimalkan. Bagaimana bertasawuf di
zaman modern tanpa meninggalkan konsep-konsep tasawuf.
Peradaban zaman modern bukanlah sesuatu yang
“kotor”, apalagi tanpa “nilai” karena peradaban zaman modern ditandai dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang merupakan ciri dari
peradaban modern, dapat membimbing manusia kepada Allah beserta keagungan-Nya.
Alam semesta yang sangat luas adalah ciptaan Allah dan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) dapat dijadikan instrumen manusia untuk menyelidikinya,
mengungkapkan keajaiban-Nya dan berusaha memanfaatkan kekayaan alam yang
melimpah ruah untuk kesejahteraan hidupnya. Dengan melihat peranan teknologi modern
dan tasawuf yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, maka tidak selayaknya jika kita menempatkan keduanya pada
posisi yang “antagonistik” (bertentangan satu dengan yang lain), tetapi
hendaknya kita menempatkan keduanya pada posisi yang sejajar yakni sebagai
mitra untuk membahagiakan manusia baik lahir maupun batin.
Teknologi modern memenuhi kepuasan lahir
manusia dengan menampilkan seperangkat teknologi yang dapat memenuhi segala
kebutuhan jasmani manusia, sedangkan tasawuf memenuhi kepuasan batin manusia
dengan menampilkan seperangkat metodologi dalam mendekatkan diri pada kesempurnaan
Allah SWT sehingga dapat memenuhi kebutuhan batin manusia. Oleh karena itu agar
kehidupan menjadi semakin bermakna dan tidak mengurangi eksistensi kemanusiaan manusia
modern, maka perlu adanya penanaman benih kesufian melalui jalan diterimanya
tasawuf di tengah-tengah masyarakat muslim yang sedang menikmati dan
mendayagunakan teknologi modern, sehingga apa yang diharapkan manusia itu sendiri
yakni terwujudnya hidup yang aman,
damai, sejahtera baik lahir maupun batin dapat benar-benar terealisasikan.
Apabila ajaran tasawuf akhlaqi benar – benar
diterapkan dalam kehidupan seseorang,
maka dunia ini akan damai. Permusuhan, pertikaian, perkelahian atau
bahkan peperangan tidak akan terjadi.Karena ketika sesorang telah mengamalkan
tasawuf akhlaqi maka ia akan benar- benar berhati – hati didalam setiap
perkataan dan perbuatannya. Ia akan berfokus pada perbaikan akhlak dan budi
pekerti.
Pertama dengan membersihkan (melepaskan) diri
dari perilaku buruk, seperti berbuat maksiat, kecintaan kepada dunia yang
berlebihan, berprasangka su’udzon, ujub, hasad, riya, ghadab, dan sejenisnya.
Kemudian membiasakan diri dengan akhlak-akhlak terpuji seperti sabar, ikhlas,
ridha, taubat, dan sebagainya.Maka setelah itu ia akan benar-benar menanamkan
rasa cinta kepada Allah SWT di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka peranan tasawuf itu
sangat besar terhadap kehidupan seseorang. Seseorang yang tidak mengamalkan
ajaran tasawuf, ia tidak mengetahui apa sebenarnya tujuan hidup ini. Bisa saja
tujuan hidupnya untuk mengumpulkan harta sebanyak- banyaknya supaya bisa hidup
bahagia. Dengan uang, dia berfikir bisa membeli segalanya. Jika sudah demikian,
ia akan lupa kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Hidupnya hanya akan
disibukkan oleh urusan – urusan dunia saja yang tidak akan bermanfaat untuknya
kelak di akhirat. Padahal urusan dunia yang dilakukan karena beribadah kepada
Allah SWT, selain akan menghasilkan sesuatu di dunia tentunya akan bermanfaat
pula kelak di akhirat.Misalnya saja bekerja, bila dilakukan dengan niat
beribadah, selain mendapatakan upah, juga akan mendapatkan pahala dari Allah
SWT.
No comments:
Post a Comment