URGENSI
PERBANDINGAN AGAMA
DALAM
MEMPERTAHANKAN KEBENARAN AGAMA
A. PENDAHULUAN
Sebagaian orang mungkin masih awam
mendeteksi ihwal studi perbandingan agama. Gagasan studi itu dianggap sesuatu
yang baru yang kurang begitu didalami. Tidak bisa dipungkiri ada anggapan bahwa
dengan mempelajarinya, bisa saja mereka dapat murtad setelah memelajari suatu
agama tertentu.
Fenomena inilah yang menjadi fokus,
bagaimana agar mainset masyarakat yang menjustifikasi perbandingan agama
sebagai hal yang tabu, khususnya bagi mereka yang beraliran radikal, lambat
laun dinaturalkan. Kebebasan beragama yang telah diatur dalam UUD 1945 pasal 29
ayat 2 seharusnya dijadikan landasan hukum yang jelas dalam beragama, mengingat
kita hidup dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pun demikian halnya dengan Islam
sendiri, agama yang rahmatanlil ‘alamin ini jugaa mengakui
kebebasan cara pandang dalam beragama. Sebagaimana Firman Allah SWT yang
termaktub dalam QS. Al Kafirun ayat 5
ö/ä3s9ö/ä3ãYÏuÍ<urÈûïÏÇÏÈ.
Artinya: “Untukmu agamamu, dan
untukkulah, agamaku."[1]
Jelaslah,
bahwa pluralisme dalam beragama juga diakui dalam agama Islam.
Selanjutnya dalam makalah ini kami
mencoba membahas lebih lanjut mengenai urgensi mempelajari ilmu perbandingan
agama di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang plural. Bagaimana umat beragama
memaknai kebenaran ajaran agama masing-masing yang sangat relatif? Serta bagaimana
kedudukan perbandingan agama dalam mempertahankan kebenaran agama mereka.
B. RUMUSAN
MASALAH
Dalam bab ini kami membeberkan beberapa
poin dalam bentuk draft pertanyaan yang menjadi dasar pemikiran kami untuk
melangkah runtut dalam bab pembahasan. Selanjutnya pertanyaan itu menjadi
rumusan kerangka pokok tulisan kami dalam berfikir mendedah tema urgensi
perbandingan agama ini.
Adapun rumusan permasalah yang dimaksud,
diantaranya:
1. Mengapa perbandingan agama diperlukan
dalam kehidupan bangsa Indonesia yang plural?
2. Bagaimana relativitas pemeluk agama
dalam mempertahankan kebenaran agamanya?
3. Mengapa perbandingan agama begitu
penting untuk mempertahankan kebenaran agama?
C. PEMBAHASAN
1.
Peran Penting Perbandingan Agama dalam Kehidupan
Bangsa Indonesia yang Plural
Dalam
memelihara kehidupan masyarakat, kontribusi nilai-nilai agama sangat diperlukan
terutama dalam upaya membangun etika yang diperlukan masyarakat. Sebagaimana
konsep Global Responsibility yang diungkapkan Hans Kung bahwa ada
beberapa pola dalam membentuk tanggung jawab dunia. Pertama, dunia tidak akan
bertahan tanpa adanya etika dunia (No survival without a world ethic);
kedua, tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian keberagamaan (No world
peace without religious peace); ketiga, tidak ada perdamaian keberagamaan
tanpa dialog keberagamaan (No religious peace without religious dialogue),
keempat, tidak ada dialog keberagamaan tanpa mempelajari dasar agama-agama (No
religious dialogue without investigating the foundation of the religions).[2]
Berdasarkan realitas beragama banyak sekali
manfaat yang diperoleh dalam pelaksanaan aktivitas hubungan antar-agama,
seperti:
a. Mempermudah
dalam memahami realitas agama
Kita dapat mengetahui bahwa untuk memahami
suatu hal kita membutuhkan suatu penunjang demi mendukung proses pemahaman
tersebut. Hasil daripada penelitian-penelitian dapatlah kita gunakan sebagai
referensi untuk lebih dalam lagi memahami ajaran Islam, dengan adanya hasil
penelitian itu maka kita dapat dengan mudah mempelajari apa yang akan kita
kaji.
b. Menambah
wawasan dalam beragama
Mengapa kami katakan penelitian
Islam bisa menjadi sarana untuk menambah wawasan, karena subtansi ajaran Islam
sangatlah luas, dengan melakukan penelitian terhadap subtansi-subtansinya maka
kita secara langsung menambah pengetahuan kita terhadap Islam
c. Membangun
kesepahaman dalam keperbedaan
Setiap agama pasti berbeda, tetapi
berbeda tidak berarti tidak bisa brejumpa, dalam keperbedaan tersebut setiap
umat beragama sangat mungkin untuk berjumpa dalam satu bentuk kesepahaman yang
dibangun di atas pluralitas agama-agama. Kesepahaman dalam keperbedaan menjadi
kata kunci menjalin hubungan lintas agama tersebut.[3]
2.
Relativitas Pemeluk Agama dalam Mempertahankan
Kebenaran Agamanya
Menurut Scope susunan tingkatan
kebenaran dibedakan menjadi :
1. Tingkatan
kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang
dialami manusia
2. Tingkatan
ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah
pula dengan rasio
3. Tingkat
filosofis, rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu
semakin tinggi nilainya
4. Tingkatan
religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati
oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.[4]
Manusia
selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat
asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan
dan pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia
akan mengalami pertentangan batin, konflik psikologis. Karena di dalam
kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam
jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari
kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
Pluralitas agama adalah hukum alam,
muncul sebagai konsekuensi logis dari hasil interpretasi manusia
terhadap kehendak Tuhan. Hanya saja yang menjadi perbedaan di antaranya adalah
hanya pada aspek ritual-formalistiknya. Islam pergi ke Masjid, Kristen ke
Gereja Hindu ke Pura dan lain sebagainya.
Sekalipun demikian, truth claim dan
salvation claim setiap agama selalu mengemuka manakala berhadapan
dengan agama lain (other religions). Seseorang cenderung membenarkan
dan yakin agamanya yang paling benar, sementara agama lain adalah salah sama
sekali. Sikap eksklusivisme keberagamaan semacam ini seakan menjadi kewajiban
agama bagi setiap penganutnya sebagai upaya mempertahankan kebenaran agamanya.
Sebagian orang Islam tentu akan berapologi dan apatis dalam memandang
keberadaan agama lain. Bahkan, tidak jarang konsep jihad yang hanya dimaknai al-qital
bil-shaif (berperang dengan pedang), dan amar ma’ruf nahy munkar menjadi
alasan untuk menyerang non-Muslim yang diyakininya sebagai kuffar,
orang-orang kafir.
Padahal, agama turun tidak dalam ruang
hampa, tanpa peradaban manusia. Agama diturunkan dalam aneka spektrum
sosiologis, antropologis tertentu, turun dalam nuansa yang serba manusiawi.
Sebab antara teks dan realitas (konteks) senantiasa berdialektika secara
terus-menerus. Misalnya Islam dengan tempat turunnya di Arab (Mekkah dan
Madinah), Hindu dengan India dan lain sebagainya. Maka dari itu aspek
historisitas dari agama tidak bisa dipandang sebelah mata. Agama senantiasa
menyejarah, dinamis. Clifford Geertz menyebutkan bahwa agama mencakup dua
aspek; aspek model untuk (model for) dan model mengenai (model of).
Model for ini bersifat abstrak yang berhubungan dogma, teori dan
doktrin. Sementara model of bersifat kongkrit yang berkaitan dengan
realitas sosial, struktur sosial. Kedua aspek tersebut (normativitas dan
historisitasnya) harus berjalan sejajar.
Dengan demikian, agama itu relatif,
sesuai dengan tafsir manusia atas firman Tuhan, tidak absolut. Keterkaitan
manusia atas penafsiran agama meniscayakan adanya multi persepsi tentangnya. Saya
(Allah) tergantung pada perspepsi hambaKu, kata Allah dalam salah satu
Hadist Qudsinya. Paul F. Knitter mengatakan bahwa agama sebagai jalan adalah
relatif. Masing-masing tafsir atas agama Tuhan itu pun juga relatif, sehingga
adanyat truth claim dan salvation claim dan konflik agama
bisa diminimalisir. Sebab, salah satu penyebab munculnya konflik agama adalah
karena saling menuduh salah dan sesat atas agama lain yang pada gilirannya akan
memeranginya sebagai tindakan menumpas kejahatan, kriminal (evil) yang
menjadi anjuran setiap agama.[5]
3.
Ilmu Perbandingan Agama dalam Kaitanya dengan
Mempertahankan Kebenaran Agama
Setelah
mempelajari perbandingan agama, orang yang belajar ilmu ini diharapkan dapat
meyakini dan mempertahankan kebenaran agamanya. Kami mengambil sample agama
Islam disejajarkan dengan agama yang lain.
Sebagai
seorang muslim, dengan mempelajari perbandingan agama, dapat menemukan beberapa
ajaran agama lain yang tidak sesuai dan seorang muslim akan lebih teguh mempertahankan
kebenaran agamanya. Berikut ini beberapa ajarana agama lain yang tidak sesuai
dengan Islam dan menjadi pelemah di mata kaum muslimin:
a.
Agama Hindu
1. Tentang ketuhanan
Sejak
1.500 SM. hingga sekarang orang india atau orang-orang yang beragama hindu
umumnya tenggelam dalam menyembah berhala dan dewa-dewa. Menurut Islam
kepercayaan dan penyembahan semacam itu disebut animism, yang artinya anggapan
adanya roh pada setiap benda, baik benda hidup maupun benda mati. Perbuatan
menyembahnya dalam Islam disebut syirik, sedang orangnya disebut musyrik.
2. Tentang Roh Manusia
Dalam
agama hindu ada kepercayaan bahwa orang akan bahagia, apabila atman
(jiwa manusia) kembali bersatu dengan Brahman (yang maha ada), sebab
atman adalah merupakan satu bagian dari pada Brahman. Jadi mereka menganut
faham Patheisme yaitu suatu aliran yang menganggap bahwa semua alam ini
adalah Tuhan. Atau dengan kata lain, Tuhan itu adalah alam ini semua. Jadi
kodrat berada di dalam alam ini juga. Hal ini juga sangat bertentangan dengan
ajaran Islami.
3. Terhadap Hukum Karma dan Reinkarnasi
Hukum
karma atau hukum sebab akibat ( the low of cause and offect ), yang
maksudnya segala amal perbuatan ada buahnya, hal ini dalam Islam serupa, tetapi
tidak sama.
Dalam
agama hindu orang masuk surga atau neraka adalah tidak kekal tetapi hanya
sementara saja. Sebab manusia tidak mungkin akan mendapat pahala yang tidak
terbatas dari perbuatan yang terbatas. Tetapi menurut Islam, orang yang masuk
surga atau neraka dapat kekal selama – lamanya, walaupun kadang – kadang harus
mampir dulu dineraka, sebab berlakunya hukum itu ada di tangan Allah.
Mengenai
Reinkarnasi, agama hindu mengajarkan bahwa manusia yang lahir didunia ini baik
yang kaya bahagia, miskin menderita, buta, tuli bisu dan lain – lain itu
semuanya adalah buah perbuatannya diwaktu yang dulu. Sedangkan dalam Islam
anggapan semacam itu tidak ada. Buah perbuatan manusia akan dirasakan besok
dialam akhirat. Disitu manusia akan mendapatkan buah amalnya dengan
sepenuh-penuhnya dan senyata-nyatanya
Adapun
kebahagiaan atau penderitaan hidup di dunia itu bukan akibat perbuatan pada
hidupnya di dunia yang lalu.
4. Tentang Kasta
Agama
Hindu mengenal empat kasta yaitu, penggolongan dalam masyarakat yang
diklasifikasikan dari tingkatan tertinggihingga tingkatan terndah. Tiap-tiap
golongan tersebut mempunyai hak dan kewajiban yang tidak sama. Dari yang
golongan satu dengan golongan yang lainnya merupakan stratifikasi tertutup,
artinya dari golongan atas tidak diperkenankan mengadakan hubungan langsung
dengan hubungan yang lebih rendah, apalagi mengadakan hubungan perkawinan.
Tetapi
dalam agama Islam tidak ada aturan tentang itu, menurut Islam seorang muslim
adalah saudara muslim seagama, senasib dan sepenanggungan dan mempunyai hak-hak
yang sama, tidak pandang apakah dia kaya atau miskin kulit hitam atau kulit
putih.
Perbedaan
ini terletak pada takwa nya saja yang paling takwa itulah yang paling mulia
disisi Allah.
b.
Agama Budha
1. Ketuhanan
Sejak
permulaan Budha mengembangkan agama, ia tidak ada membicarakan soal-soal ketuhananan
dan soal-soal alam di luar alam yang nyata ini.
Dia tidak menyebut atau membicarakan Yang Maha Kuasa dan Pencipta ala
mini. Malah menurut Dr. Ghallab, dalam penyelidikannya ditemui bahwa dia
(Budha) mengingkari adanya tuhan, roh yang ada pada segala wujud.
2. Kejadian Alam
Pendapat
Budha tentang terjadinya alam ini sebagai berikut : wujud ini disebabkan oleh
peredaran yang terus menerus secara natur, yang tidak ubahnya dengan peredaran
mata rantai tidak diketahui mana yang awal dan mana yang akhir, satu sama lain
hajat menghajatkan, bukan karena oleh adanya yang mewujudkan dan mengatur wujud
ini. Demikianlah keterangan Myasein dalam ceramahnya tentang Budha di Birma.
Budha memberi contoh dengan terjadinya manusia. Manusia terjadi dadi beberapa
unsur, bukan karena Sang Khalik.
c.
Agama Nasrani
1)
Ajaran
Nassrani tentang tritunggal, sangat bertentangan dengan ajaran Tauhid Islam.
2)
Ajaran
gereja tentang dosa waris, tidak terdapat dalam Islam sesuai dengan Hadits Nabi
Muhammad SAW. Yang artinya: “Tiap-tiap anak
dilahirkan atas tithrah (kesuacian = suci dari dosa) …”
3)
Penyaliban
Isa Al Masih menurut Al Qur’an Nabi Isa as tidak disalib, tetapi dimiripkan
(diserupakan) seseorang kepadanya di mata orang banyak.
4)
Kitab
Suci Bijbel, yang menjadi pegangan agama Kristen, tempat memebesarkan semua
urusan ialah kitab suci mereka Bijbel, yaitu kumpulan dari Perjanjian Baru.
Perjanjian Lama adalah semua kitab-kitab, surat-surat, naskah dan catatan Bani
Israil sejak zaman Nabi Musa sampai ke zaman akan lahirnya Nabi Isa. Pendirian
Islam terhadap Bijbel dengan tegas telah dinyatakan dalam QS. Al Baqarah:79).
Juga bertentangan dengan Hadits Nabi. Suatu ketika seorang sahabat bertanya
pada Nabi SAW: “Ya Rasulullah, Bagaimana sikap kami mendengar cerita agama dari
orang-orang ahli kitab yakni Yahudi dan Nasrani? Nabi menjawab: Janganlah
mereka dibenarkan dan jangan pula didustakan. Menurut Moh. Rifa’i (1980) Hadits
Nabi tersebut disimpulkan dengan bahwa kita umat Islam hanya percaya dan
menerima kepada ucapan-ucapan yang diucapkan Isa yang asli, dan menolak segala
ajaran yakni akidah yang bertentangan dengan kepercayaan aqidah Islamiyah.[6]
D. ANALISIS
Begitu
banyak gesekan antar agama yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi para pemeluk
agama masing-masing. Solusi dengan memperdalam ilmu perbandingan agama menjadi
tawaran realistis dalam mewarnakan toleransi antar umat beragama.
Pemahaman
kebenaran agama pada setiap pemeluk agama adalah bersifat relatif. Islam
menganggap Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu paham akidah mutlak yang tidak
bisa diganggu gugat. Kristen memandang trinitas sebagai akidah ketuhanan yang
relevan. Budha menganggap Sidharta Gautama merupakan adalah orang suci yang
memperoleh petunjuk untuk keselamatan manusia. Relativitas di sini sangat
kentara sekali. Maka perbandingan agama menjadi jalan keluar soltif dalam
mempertahankan kebenaran agama dengan mempelajari berbagai agama untuk
menemukan perbedaan terhadap agama yang diyakini.
Sebelum
berkecimpung dalam studi ini, seseorang (mahasiswa) harus menata keimanan mereka
terlebih dahulu, memperbanyak fondasi pengetahuan tentang agama yang diyakini,
terutama tentang ranah akidah sehingga ghiroh untuk mempertahankan kebenaran
agama yang kita yakini akan lebih tersematkan.
E. KESIMPULAN
1. Pentingnya
mengkaji perbandingan agama di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang
plural diantaranya:
a. Mempermudah
dalam memahami realitas agama
b. Menambah
wawasan dalam beragama
c. Membangun
kesepahaman dalam keperbedaan
Pemeluk agama seharusnya mempercayai
keyakinan agamanya masing-masing karena keyakinan yang dianutnya merupakan
penggilan hati yang paling hakiki dibanding ajaran agama yang lainnya.
2. Agama adalah relatif, sesuai dengan
tafsir manusia atas firman Tuhan, tidak absolut. Keterkaitan manusia atas
penafsiran agama meniscayakan adanya multi persepsi tentangnya. Saya
(Allah) tergantung pada perspepsi hambaKu, kata Allah dalam salah satu
Hadist Qudsinya. Paul F. Knitter mengatakan bahwa agama sebagai jalan adalah
relatif. Masing-masing tafsir atas agama Tuhan itu pun juga relatif, sehingga
adanyat truth claim dan salvation claim dan konflik agama
bisa diminimalisir.
3.
Setelah
mempelajari perbandingan agama, penekun ilmu ini diharapkan dapat meyakini dan
mempertahankan kebenaran agamanya. Seperti halnya seorang muslim yang lebih
giat mempertahankan agamanya setelah
mempelajari agama yang lain. Keimanan seorang muslim akan lebih kuat setelah
mengetahui kelebihan Islam dibanding agama yang lainnya. Mereka akan lebih
mengenal agama-agama lain yang tidak sepaham yang makna berkat pemahaman tersebut
akan semakin menebalkan hiroh mereka dalam mempertahankan kebenaran agama.
DAFTAR
PUSTAKA
AH. Choiron, Perbandingan Agama:
Kajian Agama-agama dalam Peerspektif Komparatif, STAIN Kudus Press: Kudus,
2009.
Depag
RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Toha Putra: Semarang, 1998
Djam’annuri, Studi Agama-Agama: Sejarah dan Pemikiran,
Pustaka Rihlah: Yogyakarta, 2003.
Zakiyah Darojat, Perbandingan Agama,
Bumi Aksara: Jakarta, 1994.
http://van88.wordpress.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/,
diakses tanggal 19 Mei 2013.
[1] Depag RI, Al
Qur’an dan Terjemahnya, Toha Putra: Semarang, 1998 , hal 134.
[2]Ilim Abdul
Halim dalam Hans Kung, Global Responsibility in Search of a New World
Ethic, New York: Crossroad, Translated John Bowden, 1991: hlm,
vii-xii.
[3]AH. Choiron, Perbandingan
Agama: Kajian Agama-agama dalam Peerspektif Komparatif, STAIN Kudus Press:
Kudus, 2009, hal. 5- 6.
No comments:
Post a Comment