PELAKSANAAN SUPERVISI KEGIATAN GURU DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA
A. LATAR BELAKANG
Sekolah
Dasar (SD) adalah salah satu bentuk pendidikan dasar yang menyelenggarakan
program pendidikan dalam jangka waktu enam tahun. Tujuan jenjang pendidikan
dasar tersebut adalah untuk memberikan bekal kemampuan dasar bagi para siswa.
Kemampuan dasar tersebut merupakan perluasan dan peningkatan pengetahuan serta
ketrampilan yang telah dimiliki siswa. Dengan kemampuan tersebut diharapkan
mampu menghasilkan manusia Indonesia yang memiliki bekal kemampuan dasar dalam
mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat yang layak, serta mampu
mengembangkannya. Karena itu untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam mencapai
tujuan perlu diadakan penilaian secara terus menerus dan berkesinambungan.
Sehingga hasil yang diperoleh merupakan prestasi yang mencerminkan kemampuan
siswa.
Siswa
SD pada umumnya berusia antara 6 sampai dengan 12 tahun. Pada usia tersebut
siswa mulai merasakan berbagai perubahan dalam dirinya, baik aspek fisik,
mental dan intelektual. Semua perubahan itu memberikan pengaruh secara langsung
ataupun tidak langsung terhadap penyesuaian diri dan kualitas pribadi serta
perilakunya. Dunia sosial siswa pada masa ini sudah menjadi luas, sehingga
sekolah merupakan lingkungan yang memberikan pengaruh besar bagi perkembangan
siswa, termasuk perkembangan intelektual siswa dan masa ini pada umumnya berada
dalam tahapan berpikir formal.
Peranan
bimbingan guru kelas seperti memberi
bimbingan pribadi dan pembimbingan sosial sangat penting dirasakan. Tuntutan
terhadap guru kelas adalah kesediaan dan keikhlasan untuk mampu mengembangkan
motivasi, minat, dan nilai-nilai moral yang berkaitan dengan perkembangan siswa
menjadi pribadi utuh sebagai manusia pembangunan dan mampu untuk mengentaskan
kesulitan belajar siswa.
Layanan
bimbingan dari guru kelas merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan
kegiatan pendidikan di sekolah dan mencakup seluruh tujuan dan fungsi
bimbingan. Bimbingan di sekolah merupakan bagian yang integral dari komponen
pendidikan, maupun komponen proses belajar mengajar di sekolah, hal ini
dimaksudkan agar sekolah dapat melaksanakan pendidikan secara efektif. Artinya
sekolah dapat mempersiapkan siswa untuk menemukan dirinya, mengenal lingkungan
dan merencanakan masa depan.
Pendidikan
di sekolah pada dasarnya tidak hanya menjalankan program pengajaran dan
administrasi saja, tetapi harus memperhatikan para siswanya secara pribadi.
Dengan begitu akan dapat menghasilkan manusia yang cakap, terampil,
bercita-cita tinggi, mampu mencapai prestasi yang baik dan mampu merealisasikan
dirinya untuk hidup di masyarakat.
Layanan
bimbingan oleh guru kelas merupakan tempat bagi siswa untuk memperoleh bantuan
di dalam memecahkan kesulitan/hambatan yang mungkin timbul di dalam proses
belajarnya. Tugas utama dalam memberi layanan bimbingan di sekolah adalah
menciptakan iklim yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar
yang optimal, sehingga siswa akan memperoleh prestasi belajar seperti yang
diharapkan.
Realita
menunjukkan bahwa tidak semua siswa dapat mencapai prestasi belajar seperti
yang diharapkan dan kesulitan dalam mempelajari mata pelajaran tertentu masih
belum dapat terentaskan. Demikian pula tidak semua siswa dengan kesadarannya
sendiri melakukan konsultasi dengan guru kelas yang ada di sekolah dan bahkan
siswa cenderung takut terhadap guru kelas. Hal ini dimungkinkan adanya persepsi
yang salah dari sementara siswa terhadap layanan bimbingan yang diberikan oleh
guru kelas, sehingga siswa cenderung mengabaikan petunjuk, saran yang diberikan
guru kelas.
F.
B. MASALAH
Berdasarkan
pada paparan latar belakang tersebut di atas, maka perlu diadakan supervisi
untuk mengetahui permasalahan bagaimana cara mengatasi kesulitan belajar siswa.
G.
C.
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Kesulitan Belajar
Mungin Eddy
Wibowo (1997:3) menjelaskan kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses
belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai
hasil belajar. Slameto (1997:2)
menjelaskan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Belajar merupakan suatu proses
dalam arti bahwa kegiatan itu merupakan suatu bentuk usaha individu yang
dilakukan secara sadar dan aktip untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar
mengarah pada penguasaan pengetahuan, kebiasaan dan sikap dalam arti bahwa
perubahan-perubahan yang terjadi dalam belajar meliputi aspek kognitip
(pengetahuan dan pemahaman), aspek afektif (kebiasaan, nilai dan sikap),
aspek psikomotor (kecakapan/skill dan ketrampilan).
Paparan di atas menunjukkan
bahwa perubahan yang terjadi pada individu yang belajar mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut :
a. Perubahan
yang terjadi secara sadar, berarti bahwa
individu yang belajar akan menyadari perubahan yang terjadi dalam dirinya.
Misalnya pengetahuannya bertambah, kecakapannnya bertambah, kebiasaaannya
bertambah dan sebagainya.
b. Perubahan
yang terjadi bersifat kontinyu dan fungsional, berarti perubahan dalam diri
individu berlangsung secara terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan
yang terjadi menyebabkan perubahan berikutnya. Misalnya seorang anak belajar
membaca, maka ia mengalami dari tidak bisa membaca menjadi bisa membaca.
Perubahan ini berlangsung secara terus menerus sehingga kecakapan membacanya
menjadi lebih baik.
c. Perubahan
dalam belajar bersifat aktif dan positif, berarti perubahan yang terjadi dalam
diri individu yang belajar senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh
hasil yang baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha yang
dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperolehnya.
d. Perubahan
dalam belajar itu bertujuan dan terarah, berarti bahwa perubahan tingkah laku
yang terjadi pada individu karena ada tujuan yang hendak dicapai dan perubahan
yang terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya
seorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin
dapat dicapai atau tingkat kecakapan
mana yang akan dicapai.
e. Perubahan
dalam belajar mencakup seluruh aspek tingkah laku, berarti bahwa perubahan yang
diperoleh melalui proses belajar meliputi keseluruhan tingkah laku. Jika
seorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah
laku secara menyeluruh dalam sikap, ketrampilan, pengetahuan dan sebagainya.
f. Perubahan
dalam belajar bukan bersifat sementara, berarti bahwa tingkah laku yang terjadi
setelah belajar akan bersifat permanen. Misalnya seorang anak yang belajar
memainkan gitar setelah belajar tidak akan hilang begitu saja melainkan akan
terus dimiliki dan bahkan akan makin berkembang bila dilatih terus.
Winkel (1991:161)
menjelaskan bahwa prestasi belajar adalah pencapaian pengetahuan atau
pengembangan ketrampilan di dalam pelajaran sekolah yang berupa penilaian
keadaan atau angka-angka atau keduanya yang dibuat oleh guru.
Berdasarkan
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah hambatan
siswa dalam memperoleh penilaian yang dibuat oleh guru dalam ujud simbol,
angka, huruf ataupun kalimat dalam periode tertentu. Penilaian pada hakekatnya
usaha mengumpulkan data/informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh
tentang proses dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa melalui kegiatan
belajar mengajar. Prestasi belajar pada dasarnya untuk mengetahui perubahan
tingkah laku siswa dibidang kognitip, afektip dan psikomotorik.
2. Norma Kesulitan Belajar.
Pada kenyataannya
kesulitan belajar yang dialami siswa bermacam-macam, ada yang ringan sehingga
mudah mengatasinya tetapi ada juga yang parah kemudian perlu mendapat
pertolongan dari seorang ahli. Tetapi seringkali guru sulit menentukan
parah-ringannya sesuatu kesulitan belajar, bahkan kadang-kadang terjadi suatu jenis kesulitan belajar dianggap
serius oleh seorang guru, namun dianggap biasa dan ringan oleh guru lainnya dan
mengabaikannya, sehingga kesulitan tersebut makin berlarut-larut dan menghambat
kemajuan belajar selanjutnya.
Martensi dan
Mungin Eddy Wibowo (1980:11) menjelaskan bahwa norma atau ukuran kesulitan
belajar berkaitan dengan tujuan pendidikan, kedudukan dalam kelompok,
kemampuan, dan kepribadian. Untuk mencegah kesulitan belajar siswa, maka guru
kelas perlu mengetahui norma-norma atau aturan yang dapat menentukan apakah
siswa menderita kesulitan belajar.
3.
Akibat Kesulitan Belajar
Siswa
yang mengalami kesulitan belajar selain berpengaruh pada kerugian dana dari
orang tua yang dipergunakan untuk biaya belajar selama satu tahun, rasa kecewa
orang tua karena anaknya dapat menjadi tidak naik kelas, hal ini juga besar
pengaruhnya terhadap siswa yang bersangkutan. Pengaruh itu tidak hanya terhadap
hasil belajar atau prestasinya di dalam kelas, melainkan juga mengenai sikap
jiwanya dan hubungan sosial dalam kelas.
Bagi
keluarga yang belum melihat atau menyadari pentingnya pendidikan bagi siswa,
orang tua biasanya acuh tak acuh terhadap kemajuan anaknya di sekolah. Hal ini
juga menyebabkan siswa bersikap acuh tak acuh terhadap peristiwa kesulitan
belajarnya di kelas, siswa yang seperti ini sangatlah mungkin akan kebal terhadap
kerugian yang dapat menyebabkan tidak naik kelas. Dipihak lain orang tua yang
sadar akan arti pendidikan anak dalam belajar, merasa prihatin apabila melihat
bahwa anaknya tak kunjung maju di sekolah dan kemudian tidak naik kelas. Dan
akibatnya kemungkinan orang tua lebih prihatin apabila melihat akibat tidak
naik kelas menyebabkan kerugian bagi perkembangan jiwa anaknya.
Kenyataan
menunjukkan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar itu prestasi
belajarnya tidak dapat meningkat, bahkan
dapat dikatakan prestasi belajarnya tetap rendah, hal tersebut ada kemungkinan
disebabkan akibat kegagalan dalam menerima materi pelajaran di kelas, sehingga
mempengaruhi kejiwaan siswa bersangkutan. Supartinah Pakasi (1985:74) benturan
peristiwa kegagalan pada jiwa siswa dan pengaruh mematikan, peristiwa
mengulangi kelas telah memusnahkan kemauan siswa untuk belajar dan merusak atau
menghalangi sebagian dari belajar yang telah dijalankan siswa.
Paparan
di atas dapat disimpulkan bahwa akibat dari kesulitan belajar dapat memusnahkan
kemauan siswa dalam belajar, sehingga siswa yang kesulitan belajar itu akan
lebih sedikit belajarnya atau bahkan tidak mau belajar sama sekali, hal ini
tidak disebabkan karena siswa sudah mengganggap bisa, tetapi siswa ogah-ogahan dalam belajar, akibatnya siswa yang kesulitan
belajar ini tidak menjadi tambah baik melainkan sebaliknya. Mengenai pergaulan
siswa yang kesulitan belajar lebih senang bergaul dengan teman di kelas yang
lebih tinggi dan kurang senang bergaul dengan dengan teman sekelasnya, selain
itu akibat kesulitan belajar juga mempengaruhi sikap siswa, seperti tidak
ramah, bengis, dan senang mengganggu temannya. Siswa yang kesulitan belajar
masih harus memikul akibat dari kegagalannya yaitu hilangnya rasa percaya diri,
tidak mempunyai rasa harga diri dan tidak punya rasa kesejahteraan diri.
Memperhatikan
kenyataan dari berbagai akibat yang di alami oleh siswa yang kesulitan belajar,
maka pada pihak yang terkait dengan pendidikan di sekolah seperti para guru
kelas dan kepala sekolah, dan di rumah seperti orangtua, serta di masyarakat
yaitu para tokoh masyarakat serta alim ulama hendaknya ikut peduli membantu
siswa agar tidak berlarut-larut dalam menghadapi masalahnya, sehingga nantinya
siswa dapat lebih baik lagi dalam mengembangkan potensinya secara optimal.
4. Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan
Belajar
Belajar merupakan
suatu kegiatan yang komplek, karena keberhasilannya dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Syamsu Mappa (1984:17) faktor-faktor yang mempengaruhinya
kesulitan belajar yaitu faktor fisiologis, faktor psikologis, faktor lingkungan
belajar, dan faktor sistem instruksional.
Pendengaran dan
penglihatan sangatlah penting peranannya dalam kegiatan belajar mengajar. Baik untuk mendengarkan penjelasan guru,
pendapat sesama siswa dalam berdiskusi, membaca di perpustakaan, mempelajari
catatan sekolah, mengamati hasil percobaan laboratorium, dan mengadakan
observasi. Hal itu semuanya memerlukan penglihatan dan pendengaran yang baik,
sehingga kegiatan proses belajar mengajar dapat lebih efektif dan efisien.
Pendengaran jelas
sangatlah berperan sekali, karena kemampuan seseorang dalam mendengar tuturan
dari sumber suara makin berkurang sejalan dengan meningkatnya usia. Dengan
pendengaran dapat membedakan diskriminasi nada antara suara rendah sampai yang
tinggi, latar belakang dari suara utama makin menurun sejalan dengan
meningkatnya usia. Berhubungan dengan hal itu, maka seyogyanya tuturan yang
disasarkan kepada siswa hendaknya kecepatannya agak lambat dan agak lebih keras.
Penglihatan
seseorang memiliki intensitas penglihatan atau kemampuan untuk melihat dengan
jelas terhadap tulisan tergantung pada intensitas cahaya dalam ruang belajar,
juga jarak penglihatan. Misalnya untuk membaca buku, mengalami kemunduran
sejalan dengan usia, dan kemampuan membedakan warna spektrum serta ketelitian
penglihatan dari ujung kanan suatu baris bacaan ke ujung kiri awal baris
berikutnya.
Kondisi
fisiologis seperti pendengaran dan penglihatan sangat mempengaruhi segala
kegiatan belajar mengajar. Yang termasuk kondisi fisiologis diantaranya yaitu
kesegaran jasmani, keletihan, kekurangan gizi, kurang tidur, kesakitan yang
diderita. Dengan kata lain kondisi fisiologis pada umumnya mempengaruhi proses
belajar mengajar, oleh karena itu perlu dipertimbangkan juga dalam pemilihan
strategi belajar mengajar.
Jam pertemuan
dalam kegiatan belajar siang atau sore hari pada saat siswa telah mengalami
keletihan fisik dan mental, maka strategi belajar mengajar yang sesuai untuk
dipilih ialah strategi belajar mengajar yang berakar CBSA, seperti tugas
perorangan, diskusi kelompok, main peran, permainan belajar atau game, atau
strategi yang mengandung hiburan seperti pertunjukkan film, vidio maupun slide.
Faktor psikologis
yang mempengaruhi proses belajar siswa menurut Syamsu Mappa (1984:20)
diantaranya adalah aspek kecerdasan dan bakat, motivasi, perhatian, berfikir,
ingatan atau lupa.
Aspek kecerdasan
dan bakat merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan berhasil
atau gagalnya seseorang dalam mengikuti suatu kegiatan belajar. Oleh karena itu
perlu diketahui bahwa tugas pendidik adalah mengembangkan seoptimal mungkin
kecerdasan dan bakat dari siswa dalam mempelajari suatu pelajaran.
Motivasi adalah
suatu kekuatan yang terdapat dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi tingkah
lakunya untuk melakukan kegiatan. Motivasi seseorang ditentukan oleh kuat
lemahnya intensitas motif seseorang untuk melakukan kegiatan. Adapun fungsi
dari motif yaitu pertama, memberikan kekuatan semangat kepada seseorang
dalam melakukan kegiatan belajar. Seorang siswa yang kurang berhasil dalam
melaksanakan tugas kegiatan belajar sering nampak putus asa. Memperhatikan hal
demikian guru harus memberi motivasi untuk menguatkan kembali semangat belajar
siswanya. Kedua, mengarahkan kegiatan yang perlu dilakukan untuk
mencapai tujuan, dengan motivasi, minat, perhatian, waktu dan daya diarahkan
untuk menemukan cara yang dapat ditempuh guna mencapai tujuan. Ketiga,
memilih dan menekankan pada perilaku yang tepat dilakukan dalam usaha mencapai
tujuan dan menghindari perilaku yang tidak ada hubungannya dengan usaha
pencapaian tujuan.
Perhatian
diartikan sebagai pemusatan energi psikis yang dilakukan secara sadar terhadap
sesuatu objek atau dalam hal materi pelajaran, adapun jenis perhatian itu ada
yang disengaja, spontan, intensif, memusat dan memencar.
Ingatan atau lupa
adalah suatu kegiatan kognitif yang memungkinkan seseorang menyadari bahwa
pengetahuan yang dimilikinya itu bersumber dari masa lampau. Frase-frase dalam
ingatan antara lain fiksasi atau kemampuan pengungkapan yang cepat dan teliti,
retensi atau kemampuan menyimpan kesan-kesan tanpa disadari, serta evokasi atau
reproduksi yaitu aktualisasi atau penyadaran kembali kesan yang tersimpan.
Faktor lingkungan
belajar menurut Syamsu Mappa (1984:31) dapat dibedakan menjadi beberapa faktor
diantaranya lingkungan dalam sekolah dan lingkungan luar sekolah yang
masing-masing dapat dibedakan lagi atas lingkungan alam, lingkungan fisik dan sosial. Faktor lingkungan belajar
dalam sekolah mencakup keadaan suhu, kelembaban dan pertukaran udara serta
cahaya dalam ruangan yang kesemuanya menyangkut sistem ventilasi dan penerangan
ruangan. Lingkungan fisik menyangkut gedung, mobiler, instalasi, pertamanan,
sistem pembuangan air dan sampah, perlengkapan alat bahan belajar yang
digunakan, kontruksi dan tata letak segala benda yang ada di dalam sekolah.
Lingkungan sosial yang menyangkut suasana hubungan timbal balik antara segenap
warga dalam sekolahan baik itu guru, karyawan dan siswa. Lingkungan alam yang
menyenangkan dapat mempertinggi ketekunan dan kegairahan berpartisipasi dalam
proses belajar mengajar.
Faktor lingkungan
belajar di luar sekolah mencakup topografi, flora dan fauna serta jenis mata
pencaharian penduduk sekitar kampus, dapat menjadikan sumber bahan belajar dan
sumber inspirasi bagi warga sivitas akademika dalam menunjang berlangsungnya
proses belajar mengajar yang bergairah. Lingkungan fisik mencakup bangunan
gedung, perkantoran, perumahan rakyat, pabrik, instalasi, proyek, jalan, jembatan,
pelabuhan, tempat hiburan atau taman yang terdapat di sekitar sekolah serta
sanitasi lingkungan dapat pula menjadi
sumber bahan belajar dan sumber inspirasi bagi warga sekolah. Lingkungan sosial
mencakup struktur sosial, adat istiadat budaya setempat, kegotong royongan,
rasa simpati dan kekeluargaan terhadap generasi muda yang melanjutkan
pelajaran, dapat mendorong kegairahan belajar siswa.
Aspek sistem
instruksional yang dapat mempengaruhi proses belajar mengajar menurut Syamsu
Mappa (1984:32) adalah kurikulum, bahan pelajaran dan metode penyajian.
Struktur
kurikulum juga menentukan pemilihan strategi belajar mengajar suatu mata
pelajaran, oleh karena itu dengan struktur tersebut dapat diketahui kedudukan
dan peranan setiap mata pelajaran dalam pembentukan kompetensi pribadi,
akademis dan sosial. Di dalam garis-garis besar program pengajaran kurikulum
dapat diketahui format belajar untuk setiap pokok bahasan dari masing-masing
mata pelajaran, dan untuk setiap pokok bahasan telah dijabarkan jumlah jam
pertemuan untuk setiap jenis pengalaman belajar baik itu teori, praktek dan
pengalaman lapangan.
Bahan
belajar yang akan disajikan mempengaruhi dalam memilih jenis strategi belajar
mengajar yang akan digunakan, adapun aspek bahan pelajaran yang perlu diperhatikan
apabila akan dilaksanakan antara lain, aspek kemampuan yang ingin dikembangkan,
berupa konsep, prinsip, teori dan pemecahan masalah, serta sikap dan nilai,
juga ketrampilan. Aspek kesukaran bahan yang memerlukan penyajian yang lebih
lama, cara penyajian yang bervariasi serta contoh yang lebih lama. Aspek jenis
bahan yang bermakna, yang telah dikenal ataupun menyangkut kepentingan siswa,
lebih mudah dipelajari dan diajarkan. Aspek luas dan jumlah bahan, semakin
banyak bahan yang harus dipelajari semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk
mempelajari bahan tersebut. Pertambahan waktu dibutuhkan untuk mempelajari
sesuatu bahan pelajaran lebih besar dibandingkan dengan pertambahan bahan
pelajaran itu sendiri. Aspek letak bagian dalam keseluruhan pelajaran, pokok
bahasan yang disajikan pada minggu awal dan akhir dari suatu catur wulan lebih
mudah dipelajari dari pada disajikan pada minggu-minggu pertengahan.
Metode
penyajian yang digunakan berkaitan erat
dengan strategi belajar mengajar yang dipilih serta kegiatan belajar mengajar
yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengajaran. Beberapa kriteria
pemilihan metode penyajian yang menunjang strategi dan proses belajar mengajar
antara lain metode penyajian yang dipilih sesuai dengan sifat dan hakekat
tujuan pengajaran yang ingin dicapai, dan metode penyajian yang dipilih sesuai
dengan sifat dan hakekat bahan belajar yang disajikan, serta metode penyajian
yang dipilih sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
H.
D.
METODOLOGI
Metode yang digunakan
untuk mengungkap kesulitan belajar siswa ...........................................
adalah observasi dan dokumentasi.
Observasi menurut Suharsimi Arikunto (1998:234) adalah
pengamatan dengan menggunakan format atau blangko sebagai instrumen. Format
berisi kejadian yang digambarkan akan terjadi. Tujuan observasi membantu
peneliti menemukan data langsung pada objek.
Teknik observasi ini dilakukan dengan cara mengamati
kegiatan guru SD 4 Ploso Jati Kudus
dalam membantu kesulitan belajarsiswa.
Muhammad Ali (1982:75) menjelaskan metode dokumentasi adalah metode
pengumpulan data dengan menggunakan dokumen atau melihat catatan-catatan
peristiwa masa lampau tentang keadaan siswa masa lampau berkenaan objek yang
disupervisi.
Dokumentasi yang digunakan dalam supervisi ini adalah
data-data nama-nama siswa, latar belakang siswa, absensi, dan prestasi belajar
siswa.
E. HASIL
PEMBAHASAN
Kegiatan supervisi
ini dilakukan terhadap guru ..........................................., dalam
rangka pemberian bantuan masalah kesulitan belajar siswa melalui layanan
pembelajaran.
Layanan
pembelajaran dimaksudkan untuk memungkinkan siswa memahami dan mengembangkan
sikap dan kebiasaan belajar yang baik, ketrampilan dan materi belajar cocok
dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta tuntutan kemampuan yang berguna
dalam kehidupan dan perkembangan dirinya. Siswa yang mendapatkan layanan
pembelajaran diharapkan nantinya dapat mecahkan kesulitan belajar, sehingga
setiap siswa dapat memperoleh sukses dalam belajar secara optimal sesuai dengan
potensinya.
Upaya yang
dilakukan guru kelas untuk mengatasi kesulitan belajar yaitu sebagai berikut :
1.
Mencarikan cara-cara belajar yang efisien dan efektif bagi seorang peserta
bimbing atau sekelompok peserta bimbing.
2. Menunjukkan
cara-cara mempelajari sesuatu dengan menggunakan buku pelajaran.
3. Memberikan informasi (saran atau petunjuk)
bagiamana memanfaatkan perpustakaan.
4. Agar peserta
bimbing dapat berkonsentrasi dalam belajar.
5. Menunjukkan cara-cara mencatat dan
mendengarkan sewaktu menerima pelajaran.
6. Agar peserta bimbing dapat berdiskusi atau
belajar kelompok.
Setelah guru
kelas memberikan layanan bimbingan belajar, selanjutnya mengadakan remidi
sebagai penjajagan kemampuan siswa, sehingga diketahui keberhasilan guru kelas
dalam membantu menyelesaikan kesulitan belajar siswa.
F. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dalam pelaksanaan
supervisi terhadap guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar siswa, maka
dapat disimpulkan bahwa guru kelas VI telah melakukan kegiatan membantu
kesulitan belajar siswa melalui layanan bimbingan pembelajaran dengan baik.
No comments:
Post a Comment