Breaking News

Makalah

Sunday, October 9, 2016

makalah PELAKSANAAN SUPERVISI KEGIATAN GURU DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA

PELAKSANAAN  SUPERVISI KEGIATAN GURU  DALAM  MENGATASI KESULITAN BELAJAR  SISWA


A. LATAR  BELAKANG 
Sekolah Dasar (SD) adalah salah satu bentuk pendidikan dasar yang menyelenggarakan program pendidikan dalam jangka waktu enam tahun. Tujuan jenjang pendidikan dasar tersebut adalah untuk memberikan bekal kemampuan dasar bagi para siswa. Kemampuan dasar tersebut merupakan perluasan dan peningkatan pengetahuan serta ketrampilan yang telah dimiliki siswa. Dengan kemampuan tersebut diharapkan mampu menghasilkan manusia Indonesia yang memiliki bekal kemampuan dasar dalam mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat yang layak, serta mampu mengembangkannya. Karena itu untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan perlu diadakan penilaian secara terus menerus dan berkesinambungan. Sehingga hasil yang diperoleh merupakan prestasi yang mencerminkan kemampuan siswa.
Siswa SD pada umumnya berusia antara 6 sampai dengan 12 tahun. Pada usia tersebut siswa mulai merasakan berbagai perubahan dalam dirinya, baik aspek fisik, mental dan intelektual. Semua perubahan itu memberikan pengaruh secara langsung ataupun tidak langsung terhadap penyesuaian diri dan kualitas pribadi serta perilakunya. Dunia sosial siswa pada masa ini sudah menjadi luas, sehingga sekolah merupakan lingkungan yang memberikan pengaruh besar bagi perkembangan siswa, termasuk perkembangan intelektual siswa dan masa ini pada umumnya berada dalam tahapan berpikir formal.
Peranan bimbingan guru kelas seperti  memberi bimbingan pribadi dan pembimbingan sosial sangat penting dirasakan. Tuntutan terhadap guru kelas adalah kesediaan dan keikhlasan untuk mampu mengembangkan motivasi, minat, dan nilai-nilai moral yang berkaitan dengan perkembangan siswa menjadi pribadi utuh sebagai manusia pembangunan dan mampu untuk mengentaskan kesulitan belajar siswa.
Layanan bimbingan dari guru kelas merupakan bagian yang terpadu dari keseluruhan kegiatan pendidikan di sekolah dan mencakup seluruh tujuan dan fungsi bimbingan. Bimbingan di sekolah merupakan bagian yang integral dari komponen pendidikan, maupun komponen proses belajar mengajar di sekolah, hal ini dimaksudkan agar sekolah dapat melaksanakan pendidikan secara efektif. Artinya sekolah dapat mempersiapkan siswa untuk menemukan dirinya, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
Pendidikan di sekolah pada dasarnya tidak hanya menjalankan program pengajaran dan administrasi saja, tetapi harus memperhatikan para siswanya secara pribadi. Dengan begitu akan dapat menghasilkan manusia yang cakap, terampil, bercita-cita tinggi, mampu mencapai prestasi yang baik dan mampu merealisasikan dirinya untuk hidup di masyarakat.
Layanan bimbingan oleh guru kelas merupakan tempat bagi siswa untuk memperoleh bantuan di dalam memecahkan kesulitan/hambatan yang mungkin timbul di dalam proses belajarnya. Tugas utama dalam memberi layanan bimbingan di sekolah adalah menciptakan iklim yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang optimal, sehingga siswa akan memperoleh prestasi belajar seperti yang diharapkan.
Realita menunjukkan bahwa tidak semua siswa dapat mencapai prestasi belajar seperti yang diharapkan dan kesulitan dalam mempelajari mata pelajaran tertentu masih belum dapat terentaskan. Demikian pula tidak semua siswa dengan kesadarannya sendiri melakukan konsultasi dengan guru kelas yang ada di sekolah dan bahkan siswa cenderung takut terhadap guru kelas. Hal ini dimungkinkan adanya persepsi yang salah dari sementara siswa terhadap layanan bimbingan yang diberikan oleh guru kelas, sehingga siswa cenderung mengabaikan petunjuk, saran yang diberikan guru kelas.

F.                 B. MASALAH
Berdasarkan pada paparan latar belakang tersebut di atas, maka perlu diadakan supervisi untuk mengetahui permasalahan bagaimana cara mengatasi kesulitan belajar siswa.

G.                C. TINJAUAN  PUSTAKA
1. Pengertian Kesulitan Belajar
Mungin Eddy Wibowo (1997:3) menjelaskan kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Slameto (1997:2)  menjelaskan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar merupakan suatu proses dalam arti bahwa kegiatan itu merupakan suatu bentuk usaha individu yang dilakukan secara sadar dan aktip untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar mengarah pada penguasaan pengetahuan, kebiasaan dan sikap dalam arti bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam belajar meliputi aspek kognitip (pengetahuan dan pemahaman), aspek afektif (kebiasaan, nilai dan sikap), aspek psikomotor (kecakapan/skill dan ketrampilan).
Paparan di atas menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada individu yang belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Perubahan yang terjadi secara sadar,  berarti bahwa individu yang belajar akan menyadari perubahan yang terjadi dalam dirinya. Misalnya pengetahuannya bertambah, kecakapannnya bertambah, kebiasaaannya bertambah dan sebagainya.
b. Perubahan yang terjadi bersifat kontinyu dan fungsional, berarti perubahan dalam diri individu berlangsung secara terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi menyebabkan perubahan berikutnya. Misalnya seorang anak belajar membaca, maka ia mengalami dari tidak bisa membaca menjadi bisa membaca. Perubahan ini berlangsung secara terus menerus sehingga kecakapan membacanya menjadi lebih baik.
c. Perubahan dalam belajar bersifat aktif dan positif, berarti perubahan yang terjadi dalam diri individu yang belajar senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh hasil yang baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha yang dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperolehnya.
d. Perubahan dalam belajar itu bertujuan dan terarah, berarti bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi pada individu karena ada tujuan yang hendak dicapai dan perubahan yang terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai atau tingkat kecakapan  mana yang akan dicapai.
e. Perubahan dalam belajar mencakup seluruh aspek tingkah laku, berarti bahwa perubahan yang diperoleh melalui proses belajar meliputi keseluruhan tingkah laku. Jika seorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, ketrampilan, pengetahuan dan sebagainya.
f. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara, berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat permanen. Misalnya seorang anak yang belajar memainkan gitar setelah belajar tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki dan bahkan akan makin berkembang bila dilatih terus.
Winkel (1991:161) menjelaskan bahwa prestasi belajar adalah pencapaian pengetahuan atau pengembangan ketrampilan di dalam pelajaran sekolah yang berupa penilaian keadaan atau angka-angka atau keduanya yang dibuat oleh guru.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah hambatan siswa dalam memperoleh penilaian yang dibuat oleh guru dalam ujud simbol, angka, huruf ataupun kalimat dalam periode tertentu. Penilaian pada hakekatnya usaha mengumpulkan data/informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa melalui kegiatan belajar mengajar. Prestasi belajar pada dasarnya untuk mengetahui perubahan tingkah laku siswa dibidang kognitip, afektip dan psikomotorik.

2. Norma Kesulitan Belajar.
Pada kenyataannya kesulitan belajar yang dialami siswa bermacam-macam, ada yang ringan sehingga mudah mengatasinya tetapi ada juga yang parah kemudian perlu mendapat pertolongan dari seorang ahli. Tetapi seringkali guru sulit menentukan parah-ringannya sesuatu kesulitan belajar, bahkan kadang-kadang  terjadi suatu jenis kesulitan belajar dianggap serius oleh seorang guru, namun dianggap biasa dan ringan oleh guru lainnya dan mengabaikannya, sehingga kesulitan tersebut makin berlarut-larut dan menghambat kemajuan belajar selanjutnya.
Martensi dan Mungin Eddy Wibowo (1980:11) menjelaskan bahwa norma atau ukuran kesulitan belajar berkaitan dengan tujuan pendidikan, kedudukan dalam kelompok, kemampuan, dan kepribadian. Untuk mencegah kesulitan belajar siswa, maka guru kelas perlu mengetahui norma-norma atau aturan yang dapat menentukan apakah siswa menderita kesulitan belajar.

3. Akibat  Kesulitan Belajar
Siswa yang mengalami kesulitan belajar selain berpengaruh pada kerugian dana dari orang tua yang dipergunakan untuk biaya belajar selama satu tahun, rasa kecewa orang tua karena anaknya dapat menjadi tidak naik kelas, hal ini juga besar pengaruhnya terhadap siswa yang bersangkutan. Pengaruh itu tidak hanya terhadap hasil belajar atau prestasinya di dalam kelas, melainkan juga mengenai sikap jiwanya dan hubungan sosial dalam kelas.
Bagi keluarga yang belum melihat atau menyadari pentingnya pendidikan bagi siswa, orang tua biasanya acuh tak acuh terhadap kemajuan anaknya di sekolah. Hal ini juga menyebabkan siswa bersikap acuh tak acuh terhadap peristiwa kesulitan belajarnya di kelas, siswa yang seperti ini sangatlah mungkin akan kebal terhadap kerugian yang dapat menyebabkan tidak naik kelas. Dipihak lain orang tua yang sadar akan arti pendidikan anak dalam belajar, merasa prihatin apabila melihat bahwa anaknya tak kunjung maju di sekolah dan kemudian tidak naik kelas. Dan akibatnya kemungkinan orang tua lebih prihatin apabila melihat akibat tidak naik kelas menyebabkan kerugian bagi perkembangan jiwa anaknya.
Kenyataan menunjukkan bahwa siswa yang mengalami kesulitan belajar itu prestasi belajarnya tidak  dapat meningkat, bahkan dapat dikatakan prestasi belajarnya tetap rendah, hal tersebut ada kemungkinan disebabkan akibat kegagalan dalam menerima materi pelajaran di kelas, sehingga mempengaruhi kejiwaan siswa bersangkutan. Supartinah Pakasi (1985:74) benturan peristiwa kegagalan pada jiwa siswa dan pengaruh mematikan, peristiwa mengulangi kelas telah memusnahkan kemauan siswa untuk belajar dan merusak atau menghalangi sebagian dari belajar yang telah dijalankan siswa.
Paparan di atas dapat disimpulkan bahwa akibat dari kesulitan belajar dapat memusnahkan kemauan siswa dalam belajar, sehingga siswa yang kesulitan belajar itu akan lebih sedikit belajarnya atau bahkan tidak mau belajar sama sekali, hal ini tidak disebabkan karena siswa sudah mengganggap bisa, tetapi siswa ogah-ogahan  dalam belajar, akibatnya siswa yang kesulitan belajar ini tidak menjadi tambah baik melainkan sebaliknya. Mengenai pergaulan siswa yang kesulitan belajar lebih senang bergaul dengan teman di kelas yang lebih tinggi dan kurang senang bergaul dengan dengan teman sekelasnya, selain itu akibat kesulitan belajar juga mempengaruhi sikap siswa, seperti tidak ramah, bengis, dan senang mengganggu temannya. Siswa yang kesulitan belajar masih harus memikul akibat dari kegagalannya yaitu hilangnya rasa percaya diri, tidak mempunyai rasa harga diri dan tidak punya rasa kesejahteraan diri.
Memperhatikan kenyataan dari berbagai akibat yang di alami oleh siswa yang kesulitan belajar, maka pada pihak yang terkait dengan pendidikan di sekolah seperti para guru kelas dan kepala sekolah, dan di rumah seperti orangtua, serta di masyarakat yaitu para tokoh masyarakat serta alim ulama hendaknya ikut peduli membantu siswa agar tidak berlarut-larut dalam menghadapi masalahnya, sehingga nantinya siswa dapat lebih baik lagi dalam mengembangkan potensinya secara optimal.
 
4. Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan  Belajar
Belajar merupakan suatu kegiatan yang komplek, karena keberhasilannya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Syamsu Mappa (1984:17) faktor-faktor yang mempengaruhinya kesulitan belajar yaitu faktor fisiologis, faktor psikologis, faktor lingkungan belajar, dan faktor sistem instruksional.
Pendengaran dan penglihatan sangatlah penting peranannya dalam kegiatan belajar mengajar.  Baik untuk mendengarkan penjelasan guru, pendapat sesama siswa dalam berdiskusi, membaca di perpustakaan, mempelajari catatan sekolah, mengamati hasil percobaan laboratorium, dan mengadakan observasi. Hal itu semuanya memerlukan penglihatan dan pendengaran yang baik, sehingga kegiatan proses belajar mengajar dapat lebih efektif dan efisien.
Pendengaran jelas sangatlah berperan sekali, karena kemampuan seseorang dalam mendengar tuturan dari sumber suara makin berkurang sejalan dengan meningkatnya usia. Dengan pendengaran dapat membedakan diskriminasi nada antara suara rendah sampai yang tinggi, latar belakang dari suara utama makin menurun sejalan dengan meningkatnya usia. Berhubungan dengan hal itu, maka seyogyanya tuturan yang disasarkan kepada siswa hendaknya kecepatannya agak lambat dan agak lebih keras.
Penglihatan seseorang memiliki intensitas penglihatan atau kemampuan untuk melihat dengan jelas terhadap tulisan tergantung pada intensitas cahaya dalam ruang belajar, juga jarak penglihatan. Misalnya untuk membaca buku, mengalami kemunduran sejalan dengan usia, dan kemampuan membedakan warna spektrum serta ketelitian penglihatan dari ujung kanan suatu baris bacaan ke ujung kiri awal baris berikutnya.
Kondisi fisiologis seperti pendengaran dan penglihatan sangat mempengaruhi segala kegiatan belajar mengajar. Yang termasuk kondisi fisiologis diantaranya yaitu kesegaran jasmani, keletihan, kekurangan gizi, kurang tidur, kesakitan yang diderita. Dengan kata lain kondisi fisiologis pada umumnya mempengaruhi proses belajar mengajar, oleh karena itu perlu dipertimbangkan juga dalam pemilihan strategi belajar mengajar.
Jam pertemuan dalam kegiatan belajar siang atau sore hari pada saat siswa telah mengalami keletihan fisik dan mental, maka strategi belajar mengajar yang sesuai untuk dipilih ialah strategi belajar mengajar yang berakar CBSA, seperti tugas perorangan, diskusi kelompok, main peran, permainan belajar atau game, atau strategi yang mengandung hiburan seperti pertunjukkan film, vidio maupun slide.
Faktor psikologis yang mempengaruhi proses belajar siswa menurut Syamsu Mappa (1984:20) diantaranya adalah aspek kecerdasan dan bakat, motivasi, perhatian, berfikir, ingatan atau lupa.
Aspek kecerdasan dan bakat merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan berhasil atau gagalnya seseorang dalam mengikuti suatu kegiatan belajar. Oleh karena itu perlu diketahui bahwa tugas pendidik adalah mengembangkan seoptimal mungkin kecerdasan dan bakat dari siswa dalam mempelajari suatu pelajaran.
Motivasi adalah suatu kekuatan yang terdapat dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya untuk melakukan kegiatan. Motivasi seseorang ditentukan oleh kuat lemahnya intensitas motif seseorang untuk melakukan kegiatan. Adapun fungsi dari motif yaitu pertama, memberikan kekuatan semangat kepada seseorang dalam melakukan kegiatan belajar. Seorang siswa yang kurang berhasil dalam melaksanakan tugas kegiatan belajar sering nampak putus asa. Memperhatikan hal demikian guru harus memberi motivasi untuk menguatkan kembali semangat belajar siswanya. Kedua, mengarahkan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan, dengan motivasi, minat, perhatian, waktu dan daya diarahkan untuk menemukan cara yang dapat ditempuh guna mencapai tujuan. Ketiga, memilih dan menekankan pada perilaku yang tepat dilakukan dalam usaha mencapai tujuan dan menghindari perilaku yang tidak ada hubungannya dengan usaha pencapaian tujuan.
Perhatian diartikan sebagai pemusatan energi psikis yang dilakukan secara sadar terhadap sesuatu objek atau dalam hal materi pelajaran, adapun jenis perhatian itu ada yang disengaja, spontan, intensif, memusat dan memencar.
Ingatan atau lupa adalah suatu kegiatan kognitif yang memungkinkan seseorang menyadari bahwa pengetahuan yang dimilikinya itu bersumber dari masa lampau. Frase-frase dalam ingatan antara lain fiksasi atau kemampuan pengungkapan yang cepat dan teliti, retensi atau kemampuan menyimpan kesan-kesan tanpa disadari, serta evokasi atau reproduksi yaitu aktualisasi atau penyadaran kembali kesan yang tersimpan.
Faktor lingkungan belajar menurut Syamsu Mappa (1984:31) dapat dibedakan menjadi beberapa faktor diantaranya lingkungan dalam sekolah dan lingkungan luar sekolah yang masing-masing dapat dibedakan lagi atas lingkungan alam, lingkungan  fisik dan sosial. Faktor lingkungan belajar dalam sekolah mencakup keadaan suhu, kelembaban dan pertukaran udara serta cahaya dalam ruangan yang kesemuanya menyangkut sistem ventilasi dan penerangan ruangan. Lingkungan fisik menyangkut gedung, mobiler, instalasi, pertamanan, sistem pembuangan air dan sampah, perlengkapan alat bahan belajar yang digunakan, kontruksi dan tata letak segala benda yang ada di dalam sekolah. Lingkungan sosial yang menyangkut suasana hubungan timbal balik antara segenap warga dalam sekolahan baik itu guru, karyawan dan siswa. Lingkungan alam yang menyenangkan dapat mempertinggi ketekunan dan kegairahan berpartisipasi dalam proses belajar mengajar.
Faktor lingkungan belajar di luar sekolah mencakup topografi, flora dan fauna serta jenis mata pencaharian penduduk sekitar kampus, dapat menjadikan sumber bahan belajar dan sumber inspirasi bagi warga sivitas akademika dalam menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar yang bergairah. Lingkungan fisik mencakup bangunan gedung, perkantoran, perumahan rakyat, pabrik, instalasi, proyek, jalan, jembatan, pelabuhan, tempat hiburan atau taman yang terdapat di sekitar sekolah serta sanitasi lingkungan dapat pula  menjadi sumber bahan belajar dan sumber inspirasi bagi warga sekolah. Lingkungan sosial mencakup struktur sosial, adat istiadat budaya setempat, kegotong royongan, rasa simpati dan kekeluargaan terhadap generasi muda yang melanjutkan pelajaran, dapat mendorong kegairahan belajar siswa.
Aspek sistem instruksional yang dapat mempengaruhi proses belajar mengajar menurut Syamsu Mappa (1984:32) adalah kurikulum, bahan pelajaran dan metode penyajian.
Struktur kurikulum juga menentukan pemilihan strategi belajar mengajar suatu mata pelajaran, oleh karena itu dengan struktur tersebut dapat diketahui kedudukan dan peranan setiap mata pelajaran dalam pembentukan kompetensi pribadi, akademis dan sosial. Di dalam garis-garis besar program pengajaran kurikulum dapat diketahui format belajar untuk setiap pokok bahasan dari masing-masing mata pelajaran, dan untuk setiap pokok bahasan telah dijabarkan jumlah jam pertemuan untuk setiap jenis pengalaman belajar baik itu teori, praktek dan pengalaman lapangan.
Bahan belajar yang akan disajikan mempengaruhi dalam memilih jenis strategi belajar mengajar yang akan digunakan, adapun aspek bahan pelajaran yang perlu diperhatikan apabila akan dilaksanakan antara lain, aspek kemampuan yang ingin dikembangkan, berupa konsep, prinsip, teori dan pemecahan masalah, serta sikap dan nilai, juga ketrampilan. Aspek kesukaran bahan yang memerlukan penyajian yang lebih lama, cara penyajian yang bervariasi serta contoh yang lebih lama. Aspek jenis bahan yang bermakna, yang telah dikenal ataupun menyangkut kepentingan siswa, lebih mudah dipelajari dan diajarkan. Aspek luas dan jumlah bahan, semakin banyak bahan yang harus dipelajari semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bahan tersebut. Pertambahan waktu dibutuhkan untuk mempelajari sesuatu bahan pelajaran lebih besar dibandingkan dengan pertambahan bahan pelajaran itu sendiri. Aspek letak bagian dalam keseluruhan pelajaran, pokok bahasan yang disajikan pada minggu awal dan akhir dari suatu catur wulan lebih mudah dipelajari dari pada disajikan pada minggu-minggu pertengahan.
Metode penyajian  yang digunakan berkaitan erat dengan strategi belajar mengajar yang dipilih serta kegiatan belajar mengajar yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengajaran. Beberapa kriteria pemilihan metode penyajian yang menunjang strategi dan proses belajar mengajar antara lain metode penyajian yang dipilih sesuai dengan sifat dan hakekat tujuan pengajaran yang ingin dicapai, dan metode penyajian yang dipilih sesuai dengan sifat dan hakekat bahan belajar yang disajikan, serta metode penyajian yang dipilih sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

H.                D. METODOLOGI
Metode yang digunakan untuk mengungkap kesulitan belajar siswa ........................................... adalah observasi dan dokumentasi.
Observasi menurut Suharsimi Arikunto (1998:234) adalah pengamatan dengan menggunakan format atau blangko sebagai instrumen. Format berisi kejadian yang digambarkan akan terjadi. Tujuan observasi membantu peneliti menemukan data langsung pada objek.
Teknik observasi ini dilakukan dengan cara mengamati kegiatan guru SD 4 Ploso Jati  Kudus dalam membantu kesulitan belajarsiswa.
Muhammad Ali (1982:75) menjelaskan metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan menggunakan dokumen atau melihat catatan-catatan peristiwa masa lampau tentang keadaan siswa masa lampau berkenaan objek yang disupervisi.
Dokumentasi yang digunakan dalam supervisi ini adalah data-data nama-nama siswa, latar belakang siswa, absensi, dan prestasi belajar siswa.

E. HASIL  PEMBAHASAN
Kegiatan supervisi ini dilakukan terhadap guru ..........................................., dalam rangka pemberian bantuan masalah kesulitan belajar siswa melalui layanan pembelajaran.
Layanan pembelajaran dimaksudkan untuk memungkinkan siswa memahami dan mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, ketrampilan dan materi belajar cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta tuntutan kemampuan yang berguna dalam kehidupan dan perkembangan dirinya. Siswa yang mendapatkan layanan pembelajaran diharapkan nantinya dapat mecahkan kesulitan belajar, sehingga setiap siswa dapat memperoleh sukses dalam belajar secara optimal sesuai dengan potensinya.
Upaya yang dilakukan guru kelas untuk mengatasi kesulitan belajar yaitu sebagai berikut :
1. Mencarikan cara-cara belajar yang efisien dan efektif bagi seorang peserta bimbing atau sekelompok peserta bimbing.
2. Menunjukkan cara-cara mempelajari sesuatu dengan menggunakan buku pelajaran.
3.   Memberikan informasi (saran atau petunjuk) bagiamana memanfaatkan perpustakaan.
4.   Agar peserta  bimbing dapat berkonsentrasi dalam belajar.
5.   Menunjukkan cara-cara mencatat dan mendengarkan sewaktu menerima pelajaran.
6.   Agar peserta bimbing dapat berdiskusi atau belajar kelompok.
Setelah guru kelas memberikan layanan bimbingan belajar, selanjutnya mengadakan remidi sebagai penjajagan kemampuan siswa, sehingga diketahui keberhasilan guru kelas dalam membantu menyelesaikan kesulitan belajar siswa.

F. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dalam pelaksanaan supervisi terhadap guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar siswa, maka dapat disimpulkan bahwa guru kelas VI telah melakukan kegiatan membantu kesulitan belajar siswa melalui layanan bimbingan pembelajaran dengan baik.

No comments:

© Copyright YONGKIRUDI