PENINGKATAN KETERAMPILAN BERWAWANCARA
MELALUI METODE PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING
A. PENDAHULUAN
Pembelajaran Bahasa Indonesia secara formal
mencakup pengetahuan kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Pengetahuan
kebahasaan meliputi pembelajaran mengenai asal-usul bahasa, tata bahasa,
kebakuan dan sebagainya. Dalam pembelajaran bahasa terdapat empat aspek
keterampilan yang meliputi mendengarkan, berbicara, menulis serta membaca.
Berdasarkan pengamatan pada kondisi pembelajaran Bahasa Indonesia Madrasah Tsanawiyah,
pada umumnya pembelajaran pengetahuan kebahasaan mendapatkan posisi yang lebih
besar dibandingkan dengan keterampilan berbahasa. Hal inilah yang menjadikan
kemampuan berbahasa siswa cenderung rendah dalam praktek di lapangan.
Keterampilan berbahasa menurut aktivitas
penggunaannya terbagi dalam keterampilan yang bersifat reseptif dan
keterampilan yang bersifat produktif. Menurut (Tarigan, 1981:2) keterampilan
membaca dan menyimak merupakan keterampilan reseptif, sedangkan keterampilan
menulis dan berbicara merupakan keterampilan produktif. Keterampilan reseptif
berbeda dengan keterampilan produktif, karena keterampilan reseptif hanya
mengandalkan kemampuan untuk menerima informasi. Hal ini berkebalikan dengan
keterampilan produktif yang dituntut untuk menghasilkan sesuatu berdasarkan
kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang berupa ide, gagasan atau
menghasilkan sebuah produk. Karena sifatnya yang menghasilkan produk, maka
keterampilan berbicara dianggap oleh sebagian hal yang sulit, selain itu pembelajaran
berbicara di kelas lebih sedikit porsinya.
Pengajaran keterampilan berbicara di SMP/MTs
meliputi: (1) pembicaraan berdasarkan gambar, (2) wawancara, (3) berwawancara,
(4) pidato, dan (5) diskusi (Nurgiyantoro, 2001:278-291). Beberapa keterampilan
berbicara tersebut secara keseluruhan termasuk dalam pembelajaran bahasa di
SMP/MTs. Berkaitan dengan keterampilan berbicara tersebut pembelajaran
wawancara sangat
tepat diberikan kepada siswa untuk belajar
berkomunikasi. Siswa dapat melakukan wawancara secara individual atau kelompok,
tergantung situasi dan kondisi sekolah serta karakteristik siswa. Namun dalam
kenyataannya, tidak semua siswa melakukan wawancara. Siswa merasa bahwa
wawancara hanyalah merupakan salah satu tugas dalam mata pelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia. Siswa jenis ini hanya memerlukan nilai. Hal tersebut sangat
keliru, pembelajaran wawancara sebenarnya sangat besar manfaatnya bagi siswa
untuk berlatih berkomunikasi, berlatih mengumpulkan data, mencari informasi dan
sebagainya. Dengan kata lain pembelajaran wawancara yang betul akan dapat
meningkatkan kemampuan berbahasa siswa secara lisan.
Dalam proses
belajar mengajar, guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang
efektif. Siswa tidak hanya diberi materi-materi atau kaidah-kaidah kebahasaan
saja, tetapi siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menerapkan
kaidah-kaidah kebahasaan tersebut dalam praktik berkomunikasi. Meskipun
demikian, masih banyak guru yang hanya berorientasi pada pembelajaran
kaidah-kaidah kebahasaan dengan menggunakan pendekatan yang masih tradisional
yang hanya memungkinkan komunikasi satu arah. Hal ini yang membuat keterampilan
berbicara siswa rendah karena kesempatan untuk menerapkan kaidah kebahasaan
tersebut sangat kurang. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan keterampilan berbicara siswa khususnya wawancara adalah dengan
menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk
melakukan praktik berkomunikasi.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
permasalahan seperti pada uraian di atas, maka permasalahan yang muncul adalah
sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah cara meningkatkan keterampilan
berwawancara pada siswa?
2.
Apakah metode problem solving mampu
meningkatkan keterampilan siswa dalam berwawancara?
C. PEMBAHASAN
1.
Keterampilan Berwawancara
Menurut Daryanto (1998:572) keterampilan berasal dari kata terampil, yang
artinya cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. Sedangkan
keterampilan adalah ”kecakapan untuk menyelasaikan tugas.”
Wawancara adalah suatu percakapan yang dilakukan untuk maksud tertentu
(Hecht 1976:11). Seorang pewawancara melakukan kegiatan wawancara dengan
narasumber berdasarkan tujuan tertentu. Narasumber pun dipilih sesuai dengan
kriteria yang relevan dengan tujuan wawancara. Wawancara merupakan suatu bentuk
kegiatan berbahasa dengan jalan mengajukan pertanyaan kepada narasumber atau
responden untuk memperoleh informasi.
Menurut Hendrikus (1991: 114), wawancara adalah
dialog antara para peliput berita dengan tokoh terkemuka mengenai
masalah-masalah aktual atau masalah-masalah khusus yang menarik. Berdasarkan
berbagai pengertian tersebut maka bisa disimpulkan bahwa wawancara adalah suatu
tanya jawab yang dilakukan dengan seseorang atau narasumber untuk memperoleh
informasi tertentu.
Berdasarkan pendapat para tokoh di atas dapat
disimpulkan bahwa keterampilan berwawancara adalah suatu kemampuan melakukan kegiatan Tanya jawab/dialog dengan narasumber untuk
memperoleh informasi berdasarkan tujuan tertentu.
2.
Metode pembelajaran problem solving
Metode
problem solving merupakan salah satu metode pembelajaran dimana dalam
metode ini siswa dituntut untuk dapat mencari, menemukan dan memecahkan suatu
permasalahan yang ada baik yang berasal dari materi pembelajaran maupun
yang berasal dari sumber-sumber lingkungan dalam masyarakat dan lingkungan
sekolah. Dalam pembelajaran yang menggunakan metode problem solving yang
menjadi pembahasan utama adalah masalah yang kemudian dianalisis dan didiagnosa
untuk dicari penyelesaiannya oleh siswa.
Menurut
Sudirman dkk (1987:146) “Metode problem Solving adalaah cara penyajian bahan pelajaran dengan
menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan
disintesis dalam usaha mencari pemecahan masalah atau jawabannya oleh siswa.
Permasalahan itu diajukan diberikan kepada siswa, dari siswa bersama guru, atau
dari siswa sendiri, yang kemudian dijadikan pembahasan dan dicari pemecahannya
sebagai kegiatan pembelajaran siswa. Metode pemecahan ini sering disebut pula
problem solving method, refiective thingking mehod, atau scientific method”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode problem
solving merupakan cara belajar dengan bekerja dan berpikir melalui
masalah-masalah yang berasal dari guru maupun dari siswa itu sendiri untuk
dicari jawabannya karena mengandung keragu-raguan, ketidakpastian atau
kesulitan yang harus ditemukan pemecahannya.
3.
Peningkatan
Keterampilan Berwawancara Melalui Metode Pembelajaran Problem Solving
Belajar
menggunakan metode problem solving merupakan sebuah cara belajar yang
menggunakan masalah sebagai inti pembelajaran. Belajar tidak lagi dipandang
sebagai proses menerima informasi untuk disimpan di memori siswa yang diperoleh
melalui pengulangan praktek (latihan) dan penguatan saja. Namun siswa belajar
dengan mendekati setiap persoalan/tugas baru dengan pengetahuan dan
kemampuan yang telah ia miliki, dimana
dalam penerapan metode problem solving terlebih dahulu harus di buat
perencanaan.
Dalam
pembelajaran dengan metode problem solving terdapat langkah-langkah atau
aturan yang harus diperhatikan mulai dari mencari & menentukan masalah,
pengumpulan data, evaluasi dan menarik kesimpulan.
Adapun
langkah-langkah yang dilakukan dalam metode problem solving menurut Nana
Sudjana (2006: 84) adalah sebagai berikut:
a.
Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan, dimana masalah ini
harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya
b.
Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan
masalah tersebut, misalnya dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya
maupun berdiskusi.
c.
Menetapkan jawaban sementara dari permasalahan yang ada berdasarkan
data-data yang telah diperoleh pada langkah kedua.
d.
Menguji akan kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah
ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa
jawaban tersebut sesuai atau tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran akan jawaban
tersebut tentu saja diperlukan metode-metode lainnya seperti diskusi, pembagian
tugas, tanya-jawab maupun demonstrasi.
e.
Menarik kesimpulan, artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan
terakhir tentang jawaban yang sudah diperoleh pada langkah keempat dengan tetap
ada bimbingan dari para pengajar.
Dengan
menggunakan metode pemecahan masalah/problem solving, siswa diharapkan dapat
meraih keberhasilan dalam belajar dan melatih siswa untuk memiliki keterampilan
dalam mencari, menemukan dan memecahkan masalah. Dalam hal ini, melalui
penerapan metode problem solving
diharapkan proses pembelajaran hendaknya mampu melatih aspek intelektual,
emosional dan keterampilan bagi siswanya yang menghasilkan suatu potensi yaitu
memiliki keterampilan berfikir kritis, yang mana potensi atau kemampuan
tersebut harus dikembangkan oleh guru pada waktu pembelajaran.
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran wawancara dengan metode
pembelajaran problem solving ini kemampuan berbahasa dalam aspek berbicara akan
meningkat pada siswa ketika siswa melakukan wawancara. Dalam kegiatan ini
mereka berlatih untuk mencari informasi dengan bertanya, menanggapi lawan
bicara, dan berani menanyakan kembali informasi yang kurang jelas. Hal ini akan
meningkatkan kemampuan berbicara khususnya wawancara karena siswa yang pemalu,
pendiam atau tidak berani berbicara dengan orang lain akan timbul keberaniannya
untuk berbicara. Siswa yang sudah mempunyai keberanian berbicara akan berusaha
menyusun kalimat yang efektif sehingga narasumber dapat memahami maksud
pertanyaannya. Selain itu, peningkatan kemampuan berbicara dapat dilihat pada
proses pertanggungjawaban “wawancara” yaitu dalam kegiatan diskusi hasil
wawancara.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan pada
pembahasan di atas dapat disimpulkan
bahwa keterampilan berwawancara adalah suatu kemampuan melakukan kegiatan melalui tanya jawab/dialog dengan
narasumber untuk memperoleh informasi berdasarkan tujuan tertentu.
Dalam meningkatkan keterampilan berwawancara, siswa hendaknya dibimbing
untuk belajar mencari, menemukan, dan memecahkan masalah sehingga melalui
kegiatan tersebut akan mendorong siswa untuk bertanya, berbicara, dan menemukan
jawaban dari suatu permasalahan. Secara nyata siswa akan terampil berbicara dan
berwawancara.
E. PENUTUP
Demikianlah uraian makalah ini. Kami sadar
bahwa makalah ini masih dari kesempurnaan. Maka dari itu kritik dan saran
sangat kami harapkan, tentunya yang bersifat positif demi perbaikan makalah ini.
Mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam memahami keterangan di atas,
serta bermanfaat baik bagi penulis khususnya dan seluruh pembaca pada umumnya. Amiiin.
DAFTAR PUSTAKA
Burhan
Nurgiyantoro, Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta:
BPFE, 2001.
Hendrikus,
Dori Wuwur, Retorika Terampil Berpidato, Berdiskusi,
Berargumentasi,Bernegosiasi, 1991.
Keraf,
Gorys, Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa . Ende: Nusa Indah, 1993.
Kusumah, dkk, Teknik Wawancara. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2003.
Tarigan,
Djago, Teknik Keterampilan Berbicara. Bandung: FPBS IKIP, 1986.
Tarigan,
Henry Guntur, Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa, 1981.
No comments:
Post a Comment