Breaking News

Makalah

Monday, September 26, 2016

makalah PENINGKATAN KETERAMPILAN BERWAWANCARA MELALUI METODE PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERWAWANCARA
MELALUI METODE PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING


A.  PENDAHULUAN
Pembelajaran Bahasa Indonesia secara formal mencakup pengetahuan kebahasaan dan keterampilan berbahasa. Pengetahuan kebahasaan meliputi pembelajaran mengenai asal-usul bahasa, tata bahasa, kebakuan dan sebagainya. Dalam pembelajaran bahasa terdapat empat aspek keterampilan yang meliputi mendengarkan, berbicara, menulis serta membaca. Berdasarkan pengamatan pada kondisi pembelajaran Bahasa Indonesia Madrasah Tsanawiyah, pada umumnya pembelajaran pengetahuan kebahasaan mendapatkan posisi yang lebih besar dibandingkan dengan keterampilan berbahasa. Hal inilah yang menjadikan kemampuan berbahasa siswa cenderung rendah dalam praktek di lapangan.
Keterampilan berbahasa menurut aktivitas penggunaannya terbagi dalam keterampilan yang bersifat reseptif dan keterampilan yang bersifat produktif. Menurut (Tarigan, 1981:2) keterampilan membaca dan menyimak merupakan keterampilan reseptif, sedangkan keterampilan menulis dan berbicara merupakan keterampilan produktif. Keterampilan reseptif berbeda dengan keterampilan produktif, karena keterampilan reseptif hanya mengandalkan kemampuan untuk menerima informasi. Hal ini berkebalikan dengan keterampilan produktif yang dituntut untuk menghasilkan sesuatu berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang berupa ide, gagasan atau menghasilkan sebuah produk. Karena sifatnya yang menghasilkan produk, maka keterampilan berbicara dianggap oleh sebagian hal yang sulit, selain itu pembelajaran berbicara di kelas lebih sedikit porsinya.
Pengajaran keterampilan berbicara di SMP/MTs meliputi: (1) pembicaraan berdasarkan gambar, (2) wawancara, (3) berwawancara, (4) pidato, dan (5) diskusi (Nurgiyantoro, 2001:278-291). Beberapa keterampilan berbicara tersebut secara keseluruhan termasuk dalam pembelajaran bahasa di SMP/MTs. Berkaitan dengan keterampilan berbicara tersebut pembelajaran wawancara sangat


tepat diberikan kepada siswa untuk belajar berkomunikasi. Siswa dapat melakukan wawancara secara individual atau kelompok, tergantung situasi dan kondisi sekolah serta karakteristik siswa. Namun dalam kenyataannya, tidak semua siswa melakukan wawancara. Siswa merasa bahwa wawancara hanyalah merupakan salah satu tugas dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Siswa jenis ini hanya memerlukan nilai. Hal tersebut sangat keliru, pembelajaran wawancara sebenarnya sangat besar manfaatnya bagi siswa untuk berlatih berkomunikasi, berlatih mengumpulkan data, mencari informasi dan sebagainya. Dengan kata lain pembelajaran wawancara yang betul akan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa secara lisan.
Dalam proses belajar mengajar, guru diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang efektif. Siswa tidak hanya diberi materi-materi atau kaidah-kaidah kebahasaan saja, tetapi siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menerapkan kaidah-kaidah kebahasaan tersebut dalam praktik berkomunikasi. Meskipun demikian, masih banyak guru yang hanya berorientasi pada pembelajaran kaidah-kaidah kebahasaan dengan menggunakan pendekatan yang masih tradisional yang hanya memungkinkan komunikasi satu arah. Hal ini yang membuat keterampilan berbicara siswa rendah karena kesempatan untuk menerapkan kaidah kebahasaan tersebut sangat kurang. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa khususnya wawancara adalah dengan menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk melakukan praktik berkomunikasi.

B.  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan permasalahan seperti pada uraian di atas, maka permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah cara meningkatkan keterampilan berwawancara pada siswa?
2.    Apakah metode problem solving mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam berwawancara?


C.  PEMBAHASAN
1.    Keterampilan Berwawancara
Menurut Daryanto (1998:572) keterampilan berasal dari kata terampil, yang artinya cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. Sedangkan keterampilan adalah ”kecakapan untuk menyelasaikan tugas.”
Wawancara adalah suatu percakapan yang dilakukan untuk maksud tertentu (Hecht 1976:11). Seorang pewawancara melakukan kegiatan wawancara dengan narasumber berdasarkan tujuan tertentu. Narasumber pun dipilih sesuai dengan kriteria yang relevan dengan tujuan wawancara. Wawancara merupakan suatu bentuk kegiatan berbahasa dengan jalan mengajukan pertanyaan kepada narasumber atau responden untuk memperoleh informasi.
Menurut Hendrikus (1991: 114), wawancara adalah dialog antara para peliput berita dengan tokoh terkemuka mengenai masalah-masalah aktual atau masalah-masalah khusus yang menarik. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut maka bisa disimpulkan bahwa wawancara adalah suatu tanya jawab yang dilakukan dengan seseorang atau narasumber untuk memperoleh informasi tertentu.
Berdasarkan pendapat para tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan berwawancara adalah suatu kemampuan melakukan kegiatan Tanya jawab/dialog dengan narasumber untuk memperoleh informasi berdasarkan tujuan tertentu.

2.    Metode pembelajaran problem solving
Metode problem solving merupakan salah satu metode pembelajaran dimana dalam metode ini siswa dituntut untuk dapat mencari, menemukan dan memecahkan suatu permasalahan yang ada baik yang berasal dari materi pembelajaran maupun yang berasal dari sumber-sumber lingkungan dalam masyarakat dan lingkungan sekolah. Dalam pembelajaran yang menggunakan metode problem solving yang menjadi pembahasan utama adalah masalah yang kemudian dianalisis dan didiagnosa untuk dicari penyelesaiannya oleh siswa.
Menurut Sudirman dkk (1987:146) “Metode problem Solving adalaah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan masalah atau jawabannya oleh siswa. Permasalahan itu diajukan diberikan kepada siswa, dari siswa bersama guru, atau dari siswa sendiri, yang kemudian dijadikan pembahasan dan dicari pemecahannya sebagai kegiatan pembelajaran siswa. Metode pemecahan ini sering disebut pula problem solving method, refiective thingking mehod, atau scientific method”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode problem solving merupakan cara belajar dengan bekerja dan berpikir melalui masalah-masalah yang berasal dari guru maupun dari siswa itu sendiri untuk dicari jawabannya karena mengandung keragu-raguan, ketidakpastian atau kesulitan yang harus ditemukan pemecahannya.

3.    Peningkatan Keterampilan Berwawancara Melalui Metode Pembelajaran Problem Solving
Belajar menggunakan metode problem solving merupakan sebuah cara belajar yang menggunakan masalah sebagai inti pembelajaran. Belajar tidak lagi dipandang sebagai proses menerima informasi untuk disimpan di memori siswa yang diperoleh melalui pengulangan praktek (latihan) dan penguatan saja. Namun siswa belajar dengan mendekati setiap persoalan/tugas baru dengan pengetahuan dan kemampuan  yang telah ia miliki, dimana dalam penerapan metode problem solving terlebih dahulu harus di buat perencanaan.
Dalam pembelajaran dengan metode problem solving terdapat langkah-langkah atau aturan yang harus diperhatikan mulai dari mencari & menentukan masalah, pengumpulan data, evaluasi dan menarik kesimpulan.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam metode problem solving menurut Nana Sudjana  (2006: 84) adalah  sebagai berikut:
a.    Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan, dimana masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya
b.    Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut, misalnya dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya maupun berdiskusi.
c.    Menetapkan jawaban sementara dari permasalahan yang ada berdasarkan data-data yang telah diperoleh pada langkah kedua.
d.   Menguji akan kebenaran jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin bahwa jawaban tersebut sesuai atau tidak sesuai. Untuk menguji kebenaran akan jawaban tersebut tentu saja diperlukan metode-metode lainnya seperti diskusi, pembagian tugas, tanya-jawab maupun demonstrasi.
e.    Menarik kesimpulan, artinya siswa harus sampai kepada kesimpulan terakhir tentang jawaban yang sudah diperoleh pada langkah keempat dengan tetap ada bimbingan dari para pengajar. 

Dengan menggunakan metode pemecahan masalah/problem solving, siswa diharapkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar dan melatih siswa untuk memiliki keterampilan dalam mencari, menemukan dan memecahkan masalah. Dalam hal ini, melalui penerapan metode problem solving  diharapkan proses pembelajaran hendaknya mampu melatih aspek intelektual, emosional dan keterampilan bagi siswanya yang menghasilkan suatu potensi yaitu memiliki keterampilan berfikir kritis, yang mana potensi atau kemampuan tersebut harus dikembangkan oleh guru pada waktu pembelajaran.
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran wawancara dengan metode pembelajaran problem solving ini kemampuan berbahasa dalam aspek berbicara akan meningkat pada siswa ketika siswa melakukan wawancara. Dalam kegiatan ini mereka berlatih untuk mencari informasi dengan bertanya, menanggapi lawan bicara, dan berani menanyakan kembali informasi yang kurang jelas. Hal ini akan meningkatkan kemampuan berbicara khususnya wawancara karena siswa yang pemalu, pendiam atau tidak berani berbicara dengan orang lain akan timbul keberaniannya untuk berbicara. Siswa yang sudah mempunyai keberanian berbicara akan berusaha menyusun kalimat yang efektif sehingga narasumber dapat memahami maksud pertanyaannya. Selain itu, peningkatan kemampuan berbicara dapat dilihat pada proses pertanggungjawaban “wawancara” yaitu dalam kegiatan diskusi hasil wawancara.

D.  KESIMPULAN
Berdasarkan pada pembahasan  di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan berwawancara adalah suatu kemampuan melakukan kegiatan melalui tanya jawab/dialog dengan narasumber untuk memperoleh informasi berdasarkan tujuan tertentu.
Dalam meningkatkan keterampilan berwawancara, siswa hendaknya dibimbing untuk belajar mencari, menemukan, dan memecahkan masalah sehingga melalui kegiatan tersebut akan mendorong siswa untuk bertanya, berbicara, dan menemukan jawaban dari suatu permasalahan. Secara nyata siswa akan terampil berbicara dan berwawancara.

E.  PENUTUP
Demikianlah uraian makalah ini. Kami sadar bahwa makalah ini masih dari kesempurnaan. Maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan, tentunya yang bersifat positif demi perbaikan makalah ini. Mudah-mudahan dapat memberikan kontribusi dalam memahami keterangan di atas, serta bermanfaat baik bagi penulis khususnya dan seluruh pembaca pada umumnya. Amiiin.









DAFTAR PUSTAKA

Burhan Nurgiyantoro, Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE, 2001.
Hendrikus, Dori Wuwur, Retorika Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi,Bernegosiasi, 1991.
Keraf, Gorys, Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa . Ende: Nusa Indah, 1993.
Kusumah, dkk, Teknik Wawancara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Tarigan, Djago, Teknik Keterampilan Berbicara. Bandung: FPBS IKIP, 1986.
Tarigan, Henry Guntur, Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa, 1981.


No comments:

© Copyright YONGKIRUDI