Breaking News

Makalah

Wednesday, September 28, 2016

makalah METODE PERSUASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM

METODE PERSUASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM

A.    PENDAHULUAN
Sebagaimana dimaklumi, bahwa Agama Islam adalah agama yang dinamis. Agama yang dinamis tidak dapat dilestarikan dan dikembangkan kecuali dengan cara yang dinamis pula. Maka Ilmu Pendidikan Islam adalah salah satu cara untuk pengembangan dan pelestarian agama Islam.
Pendidikan Islam dalam prinsip ini tidak statis dalam tujuan, materi, kurikulum, tetapi ia selalu dapat memperbaharui diri dan berkembang. Ia memberikan respon terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan perubahan zaman yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Diantara cara-cara pembaharuan adalah dengan cara memperbanyak penelitian, metode dan eksperimen dalam pendidikan, serta bersifat terbuka terhadap perubahan.
Pendidikan Islam berusaha untuk mengadakan perubahan yang diinginkanoleh individu dan masyarakat. Bermacam-macam cara dilakukan oleh para pendidik dan para pakar pendidikan Islam bertujuan agar pesan dan hasil pendidikan itu dapat diterima dengan mudah, dihayati dan diamalkan oleh seluruh elemen pendidikan. Karena pada dasarnya pendidikan itu merupakan proses perubahan tingkah laku untuk menjadi seorang muslim yang sempurna.[1]

B.     LATAR BELAKANG
Metode Pendidikan Islam dalam penerapannya banyak menyangkut permasalahan individual atau sosial, baik dari peserta didik maupun dari para pendidik. Sehingga untuk mencapai suatu keberhasilan yang maksimal sesuai dengan yang diinginkan, maka dibutuhklan beberapa metode.
Berbagai macam definisi metode yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasan Langgulung bahwa Metode adalah “cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan”.[2] Dari beberapa definisi metode yang dikemukakan para ahli, dapat diambil kesimpulannya bahwa metode adalah seperangkat cara, jalan dan tehnik yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran atau menguasi kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabi mata pelajaran.[3]
Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis bilamana metode mengandung kegunaan yang srba ganda, misalnya suatu metode tertentu pada suatu situasi kondisi tertentu untuk membangun atau untuk memperbaiki sesuatu, kegunaannya tergantung pada sipemakai. Sebaliknya, Monopragmatis bilamana metode mengandungsatu macam kegunaan untuk satu macam tujuan.
Menurut M. Arifin penggunaan metode bersifat konsisten, sistematis dan kebermaknaan menurut kondisi sasarannya. Mengingat sasaran metode adalah manusia, sehingga pendidik Islam banyak mengeluarkan metode-metode pendidikan yang menjadi rujukan bagi para pendidik.
Drs. Heri Noer Aly dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menyampaikan beberapa metode dalam pendidikan Islam, diantaranya yaitu:
a.       Metode Kebiasaan
b.      Metode Keteladanan
c.       Metode Nasehat dan Cerita
d.      Metode Motifasi
e.       Metode Hukuman
f.       Metode Persuasi
g.      Metode Pengetahuan Teoritis[4]
Dari beberapa metode tersebut hanya sebagain saja yang dikemukakan oleh Heri Noer Aly, dan penulis hanya mengambil satu metode yaitu metode persuasi.
Persuasi dalam kamus ilmiah diartikan sebagai sesuatu yang meyakinkan, bujukan atau rayuan dalam bentuk karangan yang menguraikan suatu masalah atau keadaan yang dibuktikan dengan data-data dan fakta-fakta yang bertujuan membujuk/mengajak atau mempengaruhi. Sehingga mereka mau mengikuti atau melakukan sebagaimana yang diharpkan pendidik.[5] Adapaun yang dinamakan metode persuasi adalah meyakinkan peserta didik tentang suatu ajaran dengan kekuatan akal.[6]
Metode ini dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah

Metode persuasi ini hampir sama dengan penerapan ilmu dan pemikiran modern,  yang semua berdasarkan logika  dan akal. Hubungannya dengan pendidikan Islam adalah bagaimana seorang pendidik mampu menanamkan metode persuasi ini untuk mengajak peserta didiknya mapu menggunakan akal dan pikirannya untuk membedakan antara yang hak dan yang batil.
Pertanyaannya, sesuaikah metode ini digunakan pada saat ini dan diterapkan pada peserta didik dan pendidik ? karena sudah banyak metode-metode yang digunakan tapi tidak semuanya berhasil diterapkan dalam dunia pendidikan. Ada yang tidak sesuai dengan zamannya, kondisi peserta didiknya, serta lingkungannya dan yang lainnya.

C.    RUMUSAN MASALAH
1.      Mengapa metode persuasi ini dibutuhkan dalam pendidikan Islam ?
2.      Sesuaikah metode persuasi ini dipakai dalam pendidikan Islam ?

D.    PEMBAHASAN PERMASALAHAN
1.      Dalam rumusan masalah tersebut dikatakan mengapa metode persuasi ini dibutuhkan dalam pendidikan Islam. Penggunaan metode pesuasi ini berdasarkan atas pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal. Al-Qur’an syarat dengan contoh yang menunjukkan penghargaan Islam terhadap akal, serta memerintahkan kepada manusia  untuk menggunakan akal dalam membedakan antara yang benar yang salah serta antara yang baik dan yang buruk. Seruan Allah dan Rasul-Nya agar menyeru manusia dengan cara yang bijaksana, memberi pengajaran yang baik, dan berargumentasi secara baik, menunjukkan kepentingan penggunaan metode ini. Allah dalam Surat An-Nahl :125
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.  (QS. An-Nahl: 125)[7]
Demikian pula penegasan Allah untuk tidak menggunakan pemaksaan dalam menyeru manusia dalam beragama. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah  ayat 256 :
Iw on#tø.Î) Îû ÈûïÏe$!$# ( s% tû¨üt6¨? ßô©9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$#  .
Artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. (QS. Al-Baqarah :256)[8]
Dengan metode persuasi, pendidikan Islam menekankan pentingnya memperkenalkan dasar-dasar rasional dan logis segala persoalan yang diajukan kepada peserta didik. Mereka dihindarkan dari meniru segala pengetahuan secara buta tanpa memahami hakikatnya atau pertaliannya dengan realitas, baik individual maupun sosial. Mereka juga diberi kesempatan untuk melakukan diskusi secara benar dan konstruktif dalam menganalisis berbagai aspek objek yang didiskusikan.
Ilmu pengetahuan modern juga menggunakan pola berpikir ini, semua dilandaskan pada hal-hal yang rasional atau yang dapat dipikir dengan akal manusia, karean akal menduduki porsi yang sangat tinggi, namun demikian akal ini tidak akan bisa berkembang dengan baik secara optimal apabila tidak diimbangi denga kekuatan akal lainnya, yaitu Aql Al-Masmu’, artinya akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh manusia. Akal adalah daya ingat mengambil dari masa yang lampau untuk masa yang akan dihadapi, ia menghimpun semua pelajaran dari apa yang pernah terjadi untuk menghadapi apa yang akan terjadi, ia menyimpan, mewadahi, memulai, dan mengulangi semua pengertian itu. Akal dapat memahami setiap perintah kebajikan dan memahami setiap larangan mengenai kejahatan.[9]
Dari akal inilah kadang-kadang manusia tidak menerima sesuatu hal yang irasional ketika berfikir dengan logika rasional. Oleh sebab itu, pendidik diharapkan untuk mengajak peserta didiknya agar dalam memahami segala sesuatu tentang kebaikan dan keburukan dengan menggunakan metode persuasi ini.
Salah satu tehnik yang dapat digunakan oleh pendidik untuk meyakinkan peserta didik  dalam persoalan keagaman, terutama persoalan ghoib, yaitu menjelaskan kepada mereka tentang adanya-macam-macam pengetahuan, seperti pengetahuan mistis transcendental (Laduniyah ghoybiyyah) dan pengetahuan tradisional dari generasi terdahulu. Jenis pengetahuan ini kadang-kadang sulit difahami melalui pola piker rasional. Banyak sekali fakta yang menjelaskan hal itu, bahkan dalam ilmu fisika atau ilmu-ilmu empiris sekalipun.[10]

2.      Melihat beberapa uraian di atas, sesuaikah metode persuasi ini diterapkan dalam Pendidikan Islam ?
Alam sekitar manusia penuh dengan fenomena-fenomena yang tidak dapat dilihat, dirasa, dan didengar. Meskipun demikian, tidak seorangpun dapat mengingkari keberadaannya. Sebagai contoh gelombang suara dan gelombang cahaya. Ada wujud yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat melalui mata telanjang, dan ada suara-suara yang sangat halus, seperti merayapnya semut yang tidak mungkin dapat didengar oleh telinga biasa. Kemudian akal kadang-kadang sulit untuk membayangkan pembakaran yang dihasilkan sinar laser terhadap tubuh-tubuh keras. Singkat kata, tidaklah perlu membuktikan wujud sesuatu dengan wujudnya secara langsung, tetapi cukup dengan mengetahui bekas atau tandanya.
Di samping itu, manusia tidak selamanya hidup dengan mengikuti dasar-dasar rasional. Kadang-kadang manusia dapat mencapai keyakinan rasional, tetapi ia sering kali terpaku oleh kebiasaannya. Sebagai contoh banyak orang yang yakin akan bahaya merokok, tetapi dia tidak mampu mencegah kebiasaann itu. Sering kali orang yakin sesuatu dari sisi rasional, tetapi tidak yakin dari sisi emosional. Maka dari itu, pendidikan Islam dengan metode persuasinya sangat dibutuhkan guna berusaha untuk membimbing manusia muslim agar mampu menguasai perasaan dan menjauhkan dari fanatisme buta. Kemudian dasar rasional ditanamkan agar dapat membantu penyucian perasaan yang mulia, serta nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.
Metode persuasi ini sangat layak digunakan untuk penanaman dasar pengetahuan peserta didik, agar sebuah kebenaran dapat ditanamkan dalam peserta didik yang disertai dengan argumen-argumen yang rasional.

E.     KESIMPULAN DAN PENUTUP
Umat Islam sebagai umat yang dianugrahi Kitab suci Al-Qur’an oleh Allah SWT, yang lengkap dengan petunjuk, yang di dalamnya terdiri dari beberapa aspek kehidupan dan bersifat universal. Maka sudah barang tentu dasar pendidikan Islam itu bersumber dari Al-Qur’an.
Metode-metode yang telah dipaparkan di atas , merupakan sebagaian kecil dari sekian banyak metode yang dipakai dan digunakan dalam pendidikan Islam. Pendidikan hendaknya tidak fanatic terhadap satu metode saja, karena setiap metode pasti memiliki kelebihan dan juga memiliki kekurangan. Seorang pendidik harus pandai dalam membaca situasi dan kondisi peserta didiknya, agar dalam penggunaan metodenya sesuai dengan tujuan yang diharapkan secara maksimal.
Metode persuasi termasuk salah satu metode yang masih layak untuk digunakan dalam dunia pendidikan Islam. Agar peserta didik tidak menerima begitu saja materi yang disampaikan tanpa mempertimbangkannya dengan akal. Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an :
í÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.  (QS. An-Nahl: 125)
Pendek kata, sebelum menggunakan suatu metode, pendidk harus mempertimbangkan secara matang-matang factor-faktor yang ada kaitannya dengan materi pendididikan, latar belakang individual peserta didik, serta situasi  dan kondisi berlangsungnya pendidikan tersebut. Pribadi pendidik mempunyai peran penting dalam memilih metode pendidikan yang akan digunakan. Sehingga ada orang bijak mengatakan “Metode lebih penting dibandingkan dengan materi; tetapi pribadi guru lebih penting dibandingkan dengan metode”.
Demikian penjelasan singkat yang  dapat penulis sampaikan dalam makalah ini. Penulis menyadari akan adanya kekurangan, karena keterbatasan bahan dan pemikiran penulis. Harapan dari penulis kritik dan saran dari bapak Disen pengampu dan teman-teman yang berkenan membaca makalah ini. Semoga penulisan makalah ini memberi manfaat bagi penulis dan teman-teman semua. Amiin.
DAFTAR PUSTAKA

-          Departeme Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta, 1997
-          H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi aksara, 1991
-                             , Filsafat pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996
-          Hasan langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1988.
-          Hari Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Logos, 2005.
-          Pius A. darmanto, M. dahlan Al-barri, Kamus Ilmiyah Populer, Surabaya : Arloka,
                1994
-          Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2006.
-          Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996




[1] H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta:Bumi Aksara, 1991), hlm.53
[2] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1988)hlm. 79
[3] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta : Kalam Mulia, 2006) hlm.185
[4] Heri Noer Aly, Ilmu pendidikan Islam, (Jakarta : Logos, 2005)
[5] Pius A. Darmanto, M. Dahlan Al-Barri, Kamus Ilmiah Populer, ( Surabaya : Arloka, 1994 ), hlm.592
[6] Heri Noer Aly, Op.cit., hlm. 203
[7] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta : Depag, 1997), hlm.
[8] Ibid., hlm.
[9] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996). Hlm.
[10] Hery Noer Aly, Op.Cit., hlm. 

No comments:

© Copyright YONGKIRUDI